SAINS, PENGETAHUAN, DAN TASAWUF PENGETAHUAN TASAWUF BAGI SELURUH UMAT MANUSIA Naskah asli: Henry Bayman http://home.att.net/~nungan/sufism/ Diterjemahkan: R. Sunarman MASALAH DOA Sementara membicarakan doa, mungkin ada manfaatnya untuk menjawab penyangkalan tertentu terhadap doa. Ada beberapa orang yang mengira bahwa sifat-sifat Pengasih, Mahatahu dan Mahakuasa Allah bertentangan dengan doa. Alasannya: jika Allah itu baik, bagaimana mungkin Ia membiarkan hal-hal buruk terjadi pada hambaNya? Jika Ia Mahakuasa, mengapa Ia tidak menghentikannya? Jika Ia Mahatahu, tidakkah Ia tahu kebutuhan kita hingga kita perlu memohon dengan doa? Jawabannya sbb: Tentu saja Allah itu baik dan tidaklah pantas kita berkata sebaliknya. Namun kita juga harus memahami bahwa Allah menembus semua dualitas, di luar semua kelawanan, dan di luar baik dan buruk dalam pemahaman manusia yang terbatas. Ia menciptakan alam semesta dari dualitas; ada peran bagi syaitan tak kurang dari peran malaikat dalam rencana ilahi, ia takkan ada jika tak berperan. Adapun sikap Allah terhadap manusia, inipun bersisi dua: Keindahan dan Kasih di satu sisi, Agung dan Murka di sisi lain. Kemurahan atau Kasih Allah dicadangkan bagi mereka yang mematuhi perintahNya, sedangkan mereka yang tidak patuh akan menerima Kemurkaan. Menurut penulis C.S. Lewis: "Jika Allah itu baik, Ia pasti ingin membuat hambanya benar-benar bahagia... namun kenyataannya makhluk-makhluk itu tidak bahagia." Dalam hal ini Allah menjawab: "Mungkin saja engkau tidak menyukai sesuatu yang baik untukmu, dan engkau menyukai hal yang buruk bagimu. Allah tahu, sedangkan kamu tidak" (2:216). Jadi masalahnya terletak pada definisi "baik" itu sendiri. Kemahakuasaan Allah cukup untuk menghindarkan kita dari masalah. Namun, kenyamanan kita bukanlah masalah utama dalam rencana ilahi, melainkan lebih mengarah kepada pengujian ketaatan dan kepatuhan manusia dalam keadaan yang buruk. Setiap penderitaan yang muncul mungkin merupakan hukuman dari kesalahan kita, atau merupakan ujian yang bila kita lulus, kita akan memperoleh kenikmatan. Karena itu, orang beriman dianjurkan untuk berlindung kepada Allah, berjuang di jalan yang benar, dan mengharap yang terbaik. Setiap bencana yang terjadi selalu diketahui Allah, tetapi Ia telah membuat jalan keluar: "Mintalah, dan Aku akan memberi." Tiada doa yang tidak didengarNya. Jika pertolongan tidak segera datang, maka jawaban atas doa itu dicadangkan bagi perbaikan kondisi kita mendatang, atau di akhirat. Dalam tasawuf, terutama dalam ajaran Ibnu Arabi, pentingnya doa dikaitkan dengan proses penciptaan alam semesta. Alam semesta yang tampak ini terjadi sebagai perwujudan dari Nama-nama Allah; tiap Nama dikaitkan dengan suatu Sifat. Alam semesta merupakan ekspresi diri Allah, dan ini merefleksikan semua Sifat-sifatNya yang tak terhitung. Karena itu kita memahami kosmos ini dalam cara kita. Pertama, ada materi dualitas. Dualitas diperlukan bagi makhluk alam semesta, baik dalam bentuk kelawanan [seperti terang dan gelap] maupun dalam bentuk aktif/pasif. Dalam bentuk yang belakangan, Allah biasanya merupakan pemberi sedangkan alam semesta sebagai penerima, misalnya Pencipta vs. ciptaan. Sifat Pengasih, misalnya, merupakan sumber yang tak pernah kering dari kasih sayang. Namun agar terwujud dalam alam ciptaan, harus ada saluran yang memadai, harus ada kebutuhan akan kasih sayang jika harus bekerja dengan efisien. Demikian pula, sifat Adil Allah tidak perlu diturunkan jika tidak terjadi ketidak-adilan, Sifat Pengajar tidak dapat diberikan jika tidak ada makhluk yang mampu menerima dan memahami pelajaran, Sifat Hidup hanya dapat diwujudkan dalam tubuh organik yang kompleks yang mampu memeliharanya, dst. Dalam hal-hal tertentu, sifat penerima harus secara positif membutuhkan apa yang tidak ada, misalnya ketika sebuah embrio telah tumbuh dengan cukup, seolah-olah ia menghisap bentuk kehidupan yang lebih tinggi dari sekedar pembelahan dan pertumbuhan sel. Orang yang berkecenderungan jahat pergi dan secara aktif mencari keburukan, dan Allah memenuhinya pula dengan memberikan apa yang mereka butuhkan, termasuk jika mereka dengan demikian mengabaikan kehendakNya. (Ini dapat disamakan dengan seorang ayah yang marah menuruti kemauan anaknya yang nakal: "Lakukan apa maumu, tapi engkau akan menyesal", nglulu/bahasa Jawa) Ketika sampai pada Nama Allah: "Pengabul Doa," harus ada permintaan jika Nama ini akan diaktifkan. Karena itu Allah telah meninggalkan manifestasi efeknya sesuai dengan permohonan kita. Kita perlu membentuk ruang hampa agar keselamatan masuk ke dalamnya, dan inilah tujuan utama doa. Doa tidak berarti bahwa kita harus selalu memohon sesuatu kepada Allah seperti anak-anak merengek kepada orang tuanya, meskipun menyadari kelemahan kita itu akan membantu kita berlindung kepada Allah. Barsyukur kepada Allah atas limpahan karuniaNya atau mohon ampun atas kesalahan kita [kita semua cenderung untuk berbuat salah, dan berbuat salah adalah manusiawi] ini juga merupakan bagian dari doa. Diriwayatkan dalam hadits bahwa Allah bersabda: "Jika engkau bebas dari dosa, aku akan menciptakan bangsa pendosa untuk menggantikanmu." Itulah alasan mengapa ampunan Allah perlu diwujudkan di alam semesta. Jika orang tidak berdosa, maka tidak sesuatu pun yang harus diampuni, sehingga Sifat Allah ini tidak menemukan tempat untuk diwujudkan. --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
