SAINS, PENGETAHUAN, DAN TASAWUF
PENGETAHUAN TASAWUF BAGI SELURUH UMAT MANUSIA

Naskah asli: Henry Bayman 
http://home.att.net/~nungan/sufism/
Diterjemahkan: R. Sunarman

MENGAPA DOA DAPAT EFEKTIF

Einstein berpandangan bahwa hukum alam adalah kokoh dan pasti. Namun
jika hukum itu diperintahkan oleh Penciptanya, pencipta itu
berkebebasan untuk mengubahnya ketika diperlukan, meskipun biasanya
Dia tidak mengusiknya. Mari kita coba untuk memahami bagaimana
prosesnya.

Salah satu Nama Allah yang disebut di dalam Al Qur'an adalah "Al
Fatir", yang berarti pemisah atau pemberi sifat alami kepada
ciptaanNya. Pemisah tidak hanya bermakna bahwa semua pasangan yang
berlawanan dalam alam semesta yang tampak diciptakan dengan membelah
suatu materi, tetapi juga dengan pembiakan atau diferensiasi sesuai
dengan sifat alami benda-benda. Ini tidak berarti bahwa unifikasi itu
mustahil, hanya sulit saja, kita harus berenang seperti ikan salmon
melawan arus sungai. 

Salah satu kelawanan bahwa alam semesta ini dipisah adalah langit
(atas) dan bumi (bawah) atau "ruang" dan "materi,". Hal ini disebut di
dalam Al Qur'an: "Langit dan bumi mula-mula satu, dan Kami
memisahkannya" (21:30). Juga, "Dia menahan langit agar tidak menjatuhi
bumi" (22:65). Dengan kata lain, jika Allah tidak selalu
mempertahankan pemisahan itu, langit akan seketika runtuh ke bumi, dan
keduanya akan menyatu kembali. Sepenuh alam semesta, termasuk semua
hukum yang bekerja di dalamnya, dipelihara atas kehendak Allah. Namun,
apa yang kita sangka sebagai upaya tak terhingga, bagi Allah sangatlah
mudah: "Miliknya meliputi semua yang ada di bumi dan langit... dan
memeliharanya tidaklah melelahkan-Nya" (2:255). "Allah hanya berkata
ketika Dia menghendaki sesuatu 'Jadilah,' maka jadilah ia" (36:82). 

Menurut para Sufi, terutama Ibnu Arabi, keruntuhan alam semesta
benar-benar terjadi setiap saat, dan begitulah MENJADI timbul dari
ADA, sebuah pertanyaan yang telah menghantui pikiran para filosof
selama ribuan tahun. Dengan kata lain, bukan hanya Allah menciptakan
langit dan bumi pada awalnya, tetapi Dia terus secara aktif
melakukannya.

  Yang TIADA itu ADA
  Yang ADA itu TIADA
  Kebenaran itu telah diketahui
  Oleh mereka yang telah mengetahui kenyataan.

Karena realita relatif (alam semesta) kurang nyata dibanding dengan
Relaitas Mutlak (Allah), ia perlu selalu dipelihara dan diasuh oleh
Allah. 

Sebelum teori Big Bang menang dalam kosmologi, ia mempunyai pesaing
bernama "continuous creation," yang ditokohi oleh ahli astrofisika
Fred Hoyle. Menurut pandangan ini, untuk mengimbangi ekspansi alam
semesta, sebuah atom hidrogen per mil kubik perlu diciptakan setiap
detik. Namun radiasi latar belakang kosmik 3 derajat Kelvin, telah
membuat teori Big Bang menang. 

Dalam setiap kasus, seperti dijelaskan oleh Toshihiko Izutsu, para
ahli mistik berkata bahwa Allah tidak hanya menciptakan alam semesta
pada saat awal, tetapi ia dihancurkan setiap saat dan dengan seketika
diimbangi dengan penciptaan baru. Ini tak dapat disaksikan dengan
indera kita dan hanya dapat dilihat melalui kesadaran mistikal, karena
ketika alam semesta lenyap, jam yang dipakai untuk mengukur interval
waktu juga lenyap. (Dalam terminologi teknis matematika, ini disebut
"fractional dimensions," dalam pandangan yang diajukan oleh Charles
Muses.) "Setiap saat seorang manusia mati," kata sebuah puisi, "setiap
saat seseorang dilahirkan." Dapat juga disajikan sbb:

  Setiap saat sebuah kosmos mati 
  Setiap saat satu dilahirkan.

Ibnu Arabi menemukan pembenaran rahasia bagi tesisnya dalam istilah Al
Qur'an: "ciptaan baru" (khalq al-jadid, 50:15). Dalam pandangan awam,
pembaharuan ini berarti makhluk dari "suatu langit baru dan bumi baru"
pada Hari Kebangkitan. Namun, menurut Ibnu Arabi, ini mempunyai makna
yang lebih dalam, lebih esoterik yang mengacu pada "penciptaan terus
menerus" (tidak dipakai dalam pandangan Hoyle) yang membuat alam
semesta bangkit kembali setiap saat.

Bagaimana kita menangkap pembaharuan kosmik ini? Bayangkan sebuah pita
film bioskop. Tiap frame dalam pita itu berisi citra yang sangat mirip
dengan frame di dekatnya, namun jika kita melihat deretan frame yang
panjang, kita menemukan bahwa sebenarnya ada perubahan dari frame yang
satu ke frame selanjutnya. Ini merupakan hasil dari melewatkan film
itu di depan cahaya yang terang dengan kecepatan 24 frame per detik
sehingga ilusi gerakan tersaji bagi mata kita. Begitu pula, pandangan
para ahli mistik mendorong mereka untuk memberitahu kita bahwa
persepsi kita mengenai kontinuitas temporal sama-sama merupakan ilusi. 

Kini, bandingkan pita film itu dengan sepenuh alam semesta. Tiap frame
itu khas, tetapi perbedaannya dengan yang lain tak dapat kita lihat,
karena kita sendiri berada di dalam film itu, yaitu hanya di dalam
frame-frame itu. Analogi lain adalah sampling yang diperoleh dengan
lampu strobe di dalam sebuah diskotik.

Apa yang terjadi dapat dijelaskan dengan istilah fisika kuantum sbb.
Anggaplah suatu status vektor sebagai sepenuh alam semesta. Status
vektor ini menjelaskan kumpulan kemungkinan posisi tiap partikel pada
setiap saat. Sebuah partikel dapat hadir di banyak tempat, meskipun
dengan kemungkinan yang lebih besar beberapa lokasi tertentu dari pada
lokasi lain. Secara teoritis, sebuah elektron dapat saja berada di
sisi yang berseberangan dalam alam semesta, meskipun kemungkinannya
mendekati nol. Pada setiap saat, kesadaran Allah yang tak terhingga
"meruntuhkan" status vektor itu, dan hanya sebuah lokasi yang
benar-benar diambil bagi setiap partikel dari sejumlah kemungkinan
lokasi.

Tetapi pada saat berikutnya, status vektor itu, sebagai potensi yang
belum dilaksanakan, menjelaskan makhluk Allah kembali ke sana lagi,
menanti untuk diruntuhkan. Destruksi yang terus-menerus melekat pada
hukum alam yang kaku, meskipun mereka mungkin tampak kaku, sebenarnya
lebih lentur dari pandangan Dzat Berkekuasaan Tak Terhingga yang
menciptakannya pertama kali. Dan Dzat Mahakuasa itu mampu untuk
mengabulkan doa kita dengan memerintahkan status vektor untuk runtuh,
memperbarui alam semesta dengan cara yang sedikit berbeda tanpa
mengubah hukum-hukum yang sudah ada, yang menjamin kontinuitas dari
frame kosmik yang satu ke frame berikutnya. Bagi Allah, segalanya
mudah. Jika bukan begini segalanya berlangsung, sekurang-kurangnya ini
merupakan analogi yang dapat diterima bagi apa yang terjadi dalam
praktek.

Jika kita meminjam pandangan para Sufi, kita mungkin sampai pada
dugaan bahwa fungsi gelombang universal secara paradox keduanya
runtuh, sebagaimana yang disyaratkan oleh Copenhagen Interpretation;
dan tidak runtuh, sebagai yang disyaratkan oleh Many-Worlds atau EWG
(Everett-Wheeler-Graham) Interpretation. Fertilisasi silang dari
gagasan yang demikian mungkin bermanfaat bagi para ahli fisika dalam
upaya teoritis dan interpretatif di masa mendatang.



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke