PERJALANAN SPIRITUAL PARA SUFI (Meskipun ada banyak aliran spiritual atau aliran mistik dalam tasawuf, golongan-golongan utama yang didirikan oleh para wali utama berjumlah 12, sisanya adalah yang berbeda atau terpisah dari 12 Aliran Utama. Meskipun berbagai aliran memiliki karakteristik yang berbeda dan khas, mereka bekerja dalam batasan ilmu spiritual yang sama, di bawah kekuatan Kesaksian dan Kesatuan. Berikut adalah perjalanan spiritual dari pengikut Sufi yang berdasarkan latihan pada Aliran Naqsyabandi, yang seperti aliran lain, dinamakan seperti nama pendirinya, Bahauddin Naqshaband. Mereka yang mempelajari perjalanan ini dengan seksama akan mengerti arti dan inti semua kelompok spiritual.) A. PENGANTAR Perjalanan Spiritual adalah perjalanan murid menuju Allah, yang merupakan Kebenaran atau Realita yang Mutlak. Orang yang sudah berangkat dalam perjalanan (thuluq) ini disebut thaliq. Orang yang ingin melakukan perjalanan ini, kebutuhan penting pertama dan utama adalah seorang pemandu. Maka, hal pertama yang dilakukan adalah menemukan seorang Guru (murshid) yang dewasa dan bijak. Memulai perjalanan ini tanpa seorang pemandu ibarat mendaki gunung yang asing pada malam hari tanpa penerangan. Seseorang tidak dapat tahu ke mana akan pergi atau ke mana akan melangkah. Tidak ada petunjuk akan adanya ular berbisa atau adanya binatang buas. Jurang yang dalam dapat tiba-tiba muncul tanpa disadari. Tanpa panduan, hampir tidak mungkin selamat dalam perjalanan itu. Guru yang bijak telah mengalami perjalanan itu sebelumnya dan selamat; ia telah melihat dan sangat mengenal semua jebakan dan bahaya di jalan. Ia menuntun muridnya dengan mudah, dan menjaga agar mereka tiba ke Puncak Keesaan dengan selamat. Jika ditanyakan: "Di mana pada masa ini orang demikian dapat dijumpai?" Meskipun jarang, orang demikian ada di sepanjang zaman. Namun, guru-guru yang palsu juga bertebaran di mana-mana. "Jangan mengikuti sembarang guru, ia dapat menyesatkanmu." Tak dapat dipungkiri bahwa guru-guru sejati tetap ada. B. TUJUAN Mungkin ada manfaatnya untuk menyebutkan tujuan dari perjalanan itu. Mudahnya, ini tidak kurang dari transformasi atau transfigurasi total dari kepribadian manusia. Ada lagi, "anda" yang tersembunyi yang menyatu di dalam anda. "Anda" yang lain ini merupakan "anda yang sejati", yang menakjubkan, indah, dan menawan. Tujuannya adalah untuk membukanya, menyadarinya, mengubahnya dari potensial menjadi aktual. Kalau "anda" yang tersembunyi itu terlahir (muncul), maka anda disebut "terlahir dua kali." Proses metamorfosis seekor ulat-melalui kepompong-menjadi kupu-kupu merupakan perumpamaan yang sesuai di sini. Dalam proses ini, guru merupakan bidan dalam kelahiran yang kedua itu. "Kenalilah dirimu sendiri," kata Socrates, dan ini adalah motto yang ditulis pada Kuil di Delphi. Perkataan Aristoteles, "Pahami dirimu sendiri," dan pepatah kemanusiaan, "Sempurnakan dirimu sendiri," merupakan ungkapan lain yang sama artinya. Apakah pencapaian tertinggi yang mampu dicapai manusia? Tampaknya, pencapaian tertinggi bagi ilmuwan seperti Newton atau Einstein-minimal, untuk memenangkan hadiah Nobel. Pencapaian tertinggi seorang seniman adalah menjadi terkenal seperti Picasso atau Michelangelo. Bagi penulis, disebutkan dalam nafas yang sama dengan Goethe atau Tolstoy. Apakah pencapaian tertinggi yang dapat dicapai manusia sebagai manusia? Apakah kesadaran penuh, kesempurnaan, dari potensi manusia sebagai manusia? Menurut para Sufi, menjadi Manusia Sempurna, Sahabat Allah, wali, atau guru. Istilah Manusia Universal atau Manusia Persatuan mungkin juga tepat. Ini adalah tingkatan yang lebih dari jenius. Jika nama-nama besar dalam Ilmu pengetahuan, seni, literatur, filosofi, ketata-negaraan, dan lain-lain diibaratkan puncak-puncak gunung dibandingkan dengan kemanusiaan. Guru adalah puncak gunung yang lebih tinggi dari yang lain. (Terkecuali para nabi, karena kenabian berakhir dengan Muhammad. Para wali adalah satu-satunya yang mungkin untuk manusia.) Istilah Socrates "Kenali dirimu sendiri" senada dengan sabda Nabi: "Mereka yang mengenali dirinya sendiri mengenal Tuhan-nya." Dalam Qur'an: "Aku ciptakan manusia agar mereka menyembah-Ku" (51:56). "Penyembahan" telah dimengerti para wali sebagai "pengetahuan" (Gnosis), karena penyembahan kepada Allah menambah pengetahuan tentang Allah. Tidak ada pengalaman atau pencapaian yang lebih besar bagi manusia daripada mengenal, bukan pengamatan atau teori, tetapi benar-benar mengenal Tuhan-nya, menjadi orang yang "memahami Allah". Pada orang-orang yang demikian, kepribadian baru yang penuh kemanusiaan telah muncul, laksana bunga lili atau teratai tumbuh mekar dari kolam yang keruh, atau mentega keluar dari air susu. Mereka yang berhasil menyelesaikan perjalanan itu disebut abdal atau budala (dari bahasa Arab badal), yang berarti mempunyai wawasan tambahan dalam apa yang terkait. Yang kedua, berarti "harga," menandakan bahwa orang-orang ini telah menanam kepribadian yang tidak mementingkan diri sendiri, dan telah memberi segalanya, bahkan nyawanya, demi Allah dan Nabi; mereka telah "membayar harga." Apa yang mereka terima sebagai balasan atas pembayaran itu ialah Allah dan Nabi itu sendiri, berarti bahwa mereka telah menyandang sifat keilahian Allah, mempunyai moral Ilahi, dan mencapai kemurnian, moralitas, spiritualitas dan kepribadian Muhammad (sempurna). Itulah yang menyebabkan mereka disebut juga "Manusia Sempurna" (insan al-kamil). C. EKSOTERIK, ESOTERIK Setiap agama sejati mempunyai dua aspek: ke luar (eksoterik, dzahiri) dan ke dalam (esoterik, batini). Aspek eksoterik berkenaan dengan perbuatan eksternal dan bentuk penyembahan, dari perbuatan sosial dan kebendaan. Aspek esoterik, berkaitan dengan sisi dalam manusia, dengan dimensi spiritual dan psikologis. Perlu dipahami bahwa jika agama mata itu uang logam, maka aspek eksoterik dan esoterik merupakan dua sisi dari uang yang sama, seperti halnya tubuh dan ruh manusia; yang satu tidak dapat hadir tanpa yang lain. Agama yang direduksi menjadi eksoterisisme ibarat bangkai-ia menjadi formalitas murni dan kaku. Agama yang semata-mata berlandaskan esoterisisme hanyalah hantu, yang tidak dapat menggerakkan tubuh. Jika agama menggabungkan kedua aspek eksoterik dan esoterik, maka agama itu hidup, agama yang berkemampuan untuk menimbulkan gairah, memberi hidup dan kebahagiaan. Sehubungan dengan kriteria ini, kita dapat menempatkan agama-agama dalam kisaran antara eksoterik dan esoterik. Kebanyakan akan terletak di antara kedua sifat ekstrim tersebut. Dua filosofi keagamaan di Cina, Konfusianisme dan Taoisme, terletak pada kedua ujung kisaran tersebut: yang pertama hampir seluruhnya formal, sedang yang kedua hampir seluruhnya menyoroti sisi dalam. Tentu saja ini tidak mengabaikan kebenaran-kebenaran yang terkandung di dalam keduanya. Keduanya saling melengkapi. Idealnya, suatu agama harus berimbang antara sisi dalam dan sisi luarnya, harus dapat memenuhi kebutuhan luar dan dalam manusia. Lagi pula, bentuknya harus serasi dengan isinya. Hukum eksternal, adat, cara, dan lain-lain dari suatu agama harus sesuai dengan isi dalamnya. Untuk itu ada dua syarat: agama itu haruslah agama wahyu, dan terbukti bertahan lama dalam kondisi aslinya. Hanya Allah, Pencipta manusia, yang mengetahui apa yang terbaik bagi manusia. Tiada ilmuwan atau filosof yang mengetahui ini, dengan alasan sederhana bahwa jumlah kemungkinan dan potensi manusia tidak jelas, meski manusia berpikiran terbaik sekalipun. Itulah mengapa agama itu harus yang diwahyukan oleh Allah. Hanya Allah yang dapat mengaitkan aspek internal dan eksternal dengan serasi serta memelihara keseimbangannya. Selanjutnya, agama yang diterapkan pada masa ini harus tidak menyimpang dari bentuk aslinya. Aliran yang baik tidak seharusnya rusak, berkurang, atau menyimpang dari jalurnya. Ini mengingatkan kita akan kebutuhan bahwa bentuk harus serasi dengan isi. Jika kita mengupas pisang, kita tidak berharap mendapat seiris semangka di dalamnya, ataupun mengharapkan memakan apel saat menggigit jambu. Bila kita membuka botol yang berisi sejenis minuman, kita akan terkejut dan mungkin kecewa jika isinya air biasa. Ini semua menandakan bahwa Allah telah menciptakan formalisme eksoterik yang berkaitan dengan unsur esoterik, dan pemisahan keduanya [misalnya, mencoba menghidupkan aspek internal agama tanpa memperhatikan unsur eksternal] atau mengganti satu unsur dalam dengan yang lain dengan tetap mempertahankan aspek luar yang sama, tidak akan membawa hasil yang sama . Agama bersifat organik, bukan mekanis. Anda tidak dapat memecahnya dan menyusunnya kembali sesuka anda. Jika anda memotong kepala kucing, sayap ayam, tubuh singa dan ekor merak, dan berusaha untuk mempersatukannya, hasilnya bukanlah sesuatu yang hidup. Oleh karena itu sintesis dalam agama sering menimbulkan masalah. Akhirnya, aspek eksternal atau eksoterik Islam disebut Syari'at; dan aspek spiritual atau esoterik disebut Sufisme atau Tasawuf. D. PENDIDIKAN SPIRITUAL Terdapat aliran-aliran pada tiap jenis pengetahuan. Orang yang ingin mencapai jenjang lebih tinggi setelah SD, SLTP dan SMU adalah masuk ke akademi atau universitas atau politeknik untuk menjadi sarjana. Namun, masalahnya adalah, semua sistem pendidikan resmi di mana-mana hanya menyiapkan orang dalam dunia material, demi sukses duniawi. Mereka mengajarkan pengetahuan dasar untuk mempertahankan hidup duniawi, dan memberi orang gelar-gelar. Tetapi mereka tidak mengenal atau menjawab kebutuhan internal manusia, dan mereka tidak membantu perkembangan jiwa manusia. Bahkan pelajaran agama mengacu kepada perbuatan, peraturan, dan etika eksternal -semuanya bersifat eksoterik. Kehidupan internal manusia diabaikan. Kita mengabaikan kehidupan internal atas resiko yang tinggi. Jika tiada yang lain, penghancuran diri sendiri di Eropa selama dua perang dunia-dan pengrusakan akhir-akhir ini di Bosnia-harus membuat kita berpikir dan mawas diri. Kita perlu mengenal bahwa muatan dan penumpukan bawah sadar yang negatif dapat mengakibatkan ledakan yang tak terduga dan umumnya merusak. Aspek dalam, membentuk aspek luar manusia; dan sebaliknya, aspek dalam seseorang juga mempengaruhi alam luar dan sosial. Dengan latihan spiritual yang sesuai, menenangkan jiwa dan memuaskan sisi dalam, pengaruh-pengaruh dapat dikendalikan. Pada masa ini, latihan moral/spiritual merupakan kebutuhan yang sangat mendesak. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah jauh meninggalkan kemajuan moral. Bagaimanapun, kematangan spiritual manusia harus diseimbangkan dengan kamajuan teknologi-salah satunya, untuk mengendalikan teknologi di dalam jalur yang konstruktif-dan kebutuhan ini lebih mendesak dalam masyarakat yang maju dalam ilmu pengetahuan daripada dalam zaman dan peradaban agraris. Bukan hanya karena manusia berteknologi tinggi mempunyai daya rusak yang lebih dahsyat, tetapi karena setelah mengatasi masalah ekonomi dan membebaskan diri dari kebutuhan kebendaan, jalan terbentang lebar bagi penyempurnaan spiritual kemanusiaan yang murni. Simbol Cina untuk krisis terdiri dari dua bagian, satu melambangkan bahaya, dan yang lain kesempatan. Bahaya yang membentang dalam peradaban kini sangat besar, tetapi kesempatan-kesempatan yang ada sama besarnya. Karena manusia tidak hidup di dalam dunia luar semata-mata, karena tiap orang mempunyai dunia dalam di samping dunia luar yang dipakai bersama-sama, dan karena melatih dunia dalam ini bukan hanya mungkin tetapi mutlak perlu, maka perlu semacam sekolah yang menangani masalah pendidikan esoterik atau spiritual. Maka berdirilah sekolah-sekolah itu. Bila belum ada, sekolah itu perlu diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia ini. Sekolah-sekolah ini berciri "Universitas Muhammad", masing-masing menempuh jalur yang berbeda, tetapi mereka satu dalam tujuan. Sekolah-sekolah itu merupakan unit-unit yang tidak tampak. Siapapun yang mengalami pertumbuhan moral, spiritual dan psikologis, mereka berkembang di dalam sekolah ini. Ada alasan penting mengapa sekolah-sekolah ini tidak formal dan tidak resmi seperti sekolah-sekolah pada umumnya. Dalam hal ini, pelembagaan tidak membuahkan hasil yang diinginkan. Universitas resmi mempunyai bentuk dan struktur yang kaku. Apa yang dimaksud di sini adalah sebaliknya-tujuannya ialah untuk mengubah dari bentuk menjadi isi, dari wujud luar menjadi arti yang dalam. Pendidikan dan perkembangan spiritual bukanlah sesuatu yang diperoleh secara formal, dengan birokrasi dan benang merah. Tetapi kecenderungan manusia untuk membentuk dan mengelola kelembagaan sangatlah kuat, terlihat pada contoh-contoh dalam sejarah; sekolah yang mempunyai struktur yang paling luwes dan informil sekalipun, akhirnya menjadi kaku dan akhirnya kurang berdaya guna dalam mencapai tujuannya. E. GURU (MURSYID, SYEKH) YANG SEMPURNA Hubungan murid-guru merupakan metode pendidikan yang kuno. Seperti dikemukanan Michael Polanyi,1 metode ini pun tak kalah berhasilnya dalam mistisisme dibandingkan dengan dalam ilmu pengetahuan. Tentu saja, ini merupakan bentuk pengajaran yang diterima pada pengajaran semua cabang ilmu pengetahuan dan seni. Guru spiritual yang matang memiliki beberapa sifat khas yang membedakannya dari orang lain, terutama: 1. Ia mengikuti Perintah-perintah Allah dan Jalan para Nabi dengan sepenuhnya. 2. Rasa takut dan keraguan anda hilang dengan kehadirannya, memberi jalan bagi kepuasan dan kasih-sayang. 3. Anda tidak ingin berpisah darinya. Kegembiraan dan kasih sayang anda bertambah dengan setiap kata mutiara yang diucapkannya. 4. Semua orang, tua-muda, hamba sampai berpangkat tinggi, bahkan kepala negara sekalipun, merasa perlu untuk menghormatinya dan menerima berkahnya. (Perhatikan bahwa tenaga gaib tidak termasuk di dalam daftar di atas. kemampuan demikian bisa tampak atau tidak tampak pada seorang guru, tetapi ini tidak dapat dijadikan dasar dalam pengajaran. Seorang murid yang mendekati guru karena ingin memiliki kekuatan semacam itu akan ditolak, karena ini semata-mata merupakan hasil samping, bukan merupakan tujuan dari perjalanan itu.) Walt Whitman mewakili para guru yang sempurna ketika berkata: "Kami tidak meyakinkan orang dengan argumen; tetapi dengan kehadiran kami." Apa yang dikatakan Qur'an dapat dibaca penggunaan gerakan dan wajah guru. Semua perbuatan dan kebiasaan seseorang yang mempunyai sifat-sifat ini konsisten dengan contoh Nabi. Diperlukan penyerahan yang tulus kepada siapapun yang memiliki sifat-sifat ini tanpa berpura-pura atau mempertunjukkan. Murid harus bersikap bagaikan "orang mati di tangan orang yang membasuhnya" terhadap guru, menaati segala perintahnya. Kemarahan dan hukuman-hukumannya pun harus dianggap sebagai berkah. Sebenarnya, guru yang sempurna adalah manusia yang paling mengasihi dan menyenangkan. Mmereka yang rindu akan Allah dan Kasih-Nya, akan menyadari bahwa guru tersebut lebih baik dan lebih mengasihi dari pada orang tua mereka sendiri. Kepada para murid yang mengunjunginya, guru mengajarkan ilmu agama. Guru melepaskan kesulitan-kesulitan mereka menurut cara (sunnah) Nabi; ia melenyapkan semua keraguan, memperbaiki dan memperkuat iman mereka. Kemudian ia mengajar mereka dalam hal kesucian dan cara shalat. Seperti disebut terdahulu dalam buku ini, tiada sesuatupun yang mungkin tanpa shalat. Ia juga menerangkan penyerahan diri, bersyukur, keimanan pada Allah, dan perlunya menyenangkan [mencari ridho] Allah. Salah satu ciri guru sempurna ialah menutupi aib. Ia tidak pernah menceritakan aib yang memalukan, kesalahan dan kekeliruan orang; ia selalu menyembunyikannya dari orang lain. Ia tahu bagaimana menyimpan rahasia. Ia tidak pernah marah kepada seseorang dan tidak pernah mengucapkan perkataan yang menyakitkan seseorang. Kemarahan dan kekerasannya disimpan hanya untuk kondisi yang dibutuhkan dalam pengabdiannya kepada Allah. Orang yang demikian sempurna dalam memilih sikap pertengahan dalam makan dan minum, tidur, berbicara dan berurusan dengan orang lain. Ia menggunakan prinsip: "pertengahan dari segala sesuatu adalah yang terbaik" dalam kebiasaan dan shalat; ia menghindari yang ekstrim terlalu banyak dan terlalu sedikit, ia mengambil jalur tengah antara keduanya. Perbuatan berbentuk pertengahan ini merupakan ciri yang hanya dijumpai pada para wali dan orang sempurna bertaraf tinggi. Nabi bersabda: "Perbuatan yang moderat merupakan perbuatan yang paling indah dan yang paling dikagumi di antara sifat-sifat yang baik." Tiada keraguan bahwa orang yang matang dianugerahi "Perangkat Emas" di jalannya, merupakan orang yang paling layak untuk mengajar dan menuntun orang lain, dan yang paling cocok untuk tugas ini. F. MURID BERBAKAT Dalam perjalanan spiritual, bukan hanya guru, tetapi murid pun harus mempunyai sifat tertentu. Menerima dan memberi, sama pentingnya; jika murid tidak dapat menerima pelajaran, upaya guru yang terbaik pun akan sia-sia. Selain itu, diperlukan persiapan yang sesuai di sini, seperti pada perjalanan biasa. Ciri khas murid yang berbakat adalah: ia selalu dalam perang melawan dirinya. Ia menyiksa musuhnya itu dengan lapar, haus, dan diam [tidak berbicara]. Ia mengatasi semua kesulitan dan menahan nafsu dirinya, mengikatnya dengan cengkeraman yang kuat, dan berhasil. Murid yang berbakat mendorong dirinya sendiri; ia selalu berjuang untuk memanjat ke tingkat kedirian yang lebih tinggi dari yang dimilikinya sekarang. Satu-satunya keinginan murid berbakat ialah untuk membersihkan dirinya dari sifat-sifat buruk dan tidak dikehendaki. Ia tahu bahwa dirinya adalah musuhnya yang terbesar dan bahwa ini merupakan sumber penyakit jiwa yang paling membahayakan. Oleh karena itu, ia menggunakan segala daya untuk membebaskan dirinya dari pengaruh ego. Mengapa sifat ini diperlukan pada seorang murid? Karena kalau ia puas dengan tingkatan yang dimilikinya sekarang, ia tidak lagi mempunyai motivasi untuk maju ke tingkatan berikutnya. Puas diri merupakan akhir dari perkembangan. Bahauddin Naqsyabandi, pendiri sekolah beraliran Naqsyabandiyah, berkata: "Saya mempunyai dua nasihat bagi para salik [orang yang menempuh jalan spiritual] di jalan ini. Pertama: pada tingkatan apapun seorang salik berada, sejauh apapun tingkatan perkembangannya, ia tidak dapat memperoleh keselamatan dan pembebasan kecuali ia menganggap dirinya seratus kali lebih buruk dari pada Fir'aun.2 Kedua: setinggi apapun tingkatan yang dicapainya, seorang salik tidak dapat diselamatkan dan akan binasa kecuali ia menganggap dirinya pemula, yang baru mengambil langkah pertama dalam perjalanan itu." Jika seseorang menyakiti dirinya, murid yang cerdas tidak akan membalas dengan umpatan atau semacamnya, melainkan ia berusaha menemukan kesalahan pada dirinya sendiri, dan berkata: "Seandainya aku tidak buruk, Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya menyakitiku seperti itu." Jika seseorang mengadukannya kepada guru, ia berkata kepada guru bahwa ia sendiri, bukan mereka [yang mengadukan], yang salah, dan bahwa itu kesalahannya sendiri. Salik seperti itu, yang dapat mengalahkan dirinya sendiri, dan yang menyalahkan diri sendiri untuk semua kesalahan, adalah murid yang berbakat dan pantas menempuh jalur perjalanan ini. Jika ia selalu melakukan kesalahan dan kekurangan, ini dapat dimaafkan, dan ini bukan merupakan penghalang permanen dalam menempuh Jalur Kebenaran, karena bila ia melihat kelakuan buruk pada dirinya, ia mampu memperbaiki dirinya sendiri. Ia tidak berkata-kata buruk kepada orang lain, tidak mengumpat orang lain. Ia menyalahkan dirinya sendiri dalam setiap kekeliruan. Ia tidak pernah membiarkan dirinya merasa unggul. Tetapi, bila si salik puas atau senang dengan keadaan dirinya; jika ia gagal melawan ini; bila cinta-diri dan bangga menguasai dirinya; jika ia tidak dapat mengalahkannya dengan cara menahan lapar, haus dan kantuk bila perlu; bila ia menyalahkan mereka yang mengumpat atau menyakiti dirinya; bila ia menyerang dan menjadi musuh mereka, dan mencoba membalas; maka ia memihak pada dirinya sendiri, mencari kemudahan dan kenyamanan. Murid ini tidak punya bakat untuk melakukan perjalanan spiritual ini, bahkan tidak dapat mencium wangi aroma jalur para wali. Landasan jalan mereka yang dekat dengan Allah adalah kebencian kepada diri sendiri, berjuang (mujahadah) melawan diri dan dengan itu bergabung dengan mereka yang memperoleh Pengamatan (mushahadah). Jika si salik tidak membangun karir spiritualnya di atas landasan ini, maka ia hanya membangun jebakan; cepat atau lambat, ia akan masuk ke dalamnya. Orang yang tidak mengetahui musuhnya tidak akan mampu menemukan kawan. Kita perlu terlebih dulu membahas makna mujahadah dan mushahadah dan kaitan antara keduanya. Mujahadah adalah perjuangan, Upaya Besar melawan diri dan pementingan diri. Begitu pementingan diri kalah, seseorang naik ke tingkatan diri yang lebih tinggi. Derajat mushahadah (persepsi) yang tersedia bagi beberapa tingkatan tidaklah sama. Panca indera merupakan peranti luar yang dimiliki manusia umumnya, berkaitan dengan diri asali, dan menentukan persepsi kita atas jagad yang tampak. Namun, terdapat alam yang tidak kasat mata (ghaib) di samping alam nyata yang dapat dilihat. Ada benda-benda yang tak terlihat atau tak teramati oleh indera yang tidak dibantu, misalnya gelombang radio, meskipun ini terdapat di alam nyata. Alam gaib, terutama dimaksudkan sebagai Alam Spiritual, dapat ditangkap lima indera dalam (spiritual), yang merupakan pelengkap dari panca indera (penglihatan dalam, pendengaran dalam, dll.) Karena indera-indera dalam ini biasanya tertidur, orang tidak menyadari keberadaannya. Ketika seseorang mencapai tingkatan diri yang lebih tinggi, indera-indera ini terbangun, dan apa yang biasanya tak terlihat menjadi tampak. Ini yang disebut dengan pengamatan (mushahadah), yang dikategorikan menjadi wahyu, pembeberan (kashaf ) dan intuisi atau persepsi intuitif (kebangkitan ke dalam kesadaran). Tingkat pengamatan yang tertinggi adalah Melihat [Bayangan] Allah. Tetapi penglihatan ini hanya mungkin pada tingkat kesucian diri yang paling tinggi. Dalam perjalanan ini ada tiga peraturan yang penting bagi pelakunya: 1. Pada tingkat kedewasaan setinggi apapun yang diperoleh murid oleh kuasa Allah atau bantuan gurunya, ia harus meningkatkan kerendahan hati, pengendalian diri, dan kehampaan dirinya. Jika mampu melakukan, ia akan menganggapnya sebagai karunia Allah dan berterima kasih pada-Nya. Ia tidak akan sombong. Seorang hamba harus selalu dalam kesederhanaan, kelemahan, dan kehampaan, sesuai karakteristik hamba. Ia harus menghindari pemilikan kekuatan, kekuasaan, dan kepuasan, yang merupakan sifat Allah, hingga Allah melepas sifat manusianya dan menggantinya dengan bantuan melalui Ruh-Nya. Mereka yang menyimpang dari penyangkalan diri dan penyerahan diri di jalan ini tidak akan menjadi seorang murid. Mereka yang ingin bebas dari kematian akan ditinggalkan. 2. Bila keadaan, tingkah laku, atau lainnya yang dilarang oleh guru terjadi pada murid sebagai keterbatasan manusia biasa, ia tidak boleh putus asa atau berhenti untuk menemui atau melayani guru dengan merasa bahwa ia gagal dan merasa tidak bermanfaat lagi. Hal ini harus sangat diperhatikan. 3. Saat guru memerintahkan sesuatu, perintah itu harus dilaksanakan dengan senang hati dan dengan sepenuh kemampuan yang dimiliki. Tiga hal tersebut di atas sangat penting bagi para murid. [bersambung] --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
