G. ATURAN UMUM Di jalan menuju Kebenaran, ada banyak hal untuk dipelajari dan banyak cara yang dapat ditempuh. Di sini hanya akan dijelaskan cara tertentu, dan di sini hanya dipilih cara Naqsyabandi sebagai contoh. Telah disebut bahwa "akhir segala jalan adalah awal dari jalan Naqsyabandi." Ini jalur tersingkat menuju kedekatan dengan Allah. Salah satu makna terpenting dari perkataan tersebut ialah bahwa dengan Naqsyabandi, guru menunjukkan murid tujuan perjalanan pada saat permulaan, sehingga murid dapat memusatkan usahanya dengan kesadaran penuh dalam pencapaian tujuan. Nabi mengajarkan pengetahuan tentang kebijaksanaan dan memberikannya secara pribadi kepada Abu Bakar (khalifah pertama), tetapi tidak membukanya untuk umum, bahkan tidak diberikan kepada khalifah yang lain. Dalam jalur itu terdapat tiga pokok ajaran: sedikit makan, sedikit tidur, dan sedikit bicara. Sedikit makan mengakibatkan sedikit tidur, sedikit tidur menyebabkan sedikit bicara, dan sedikit bicara merupakan bantuan besar untuk mendatangkan Allah ke dalam hati seseorang dalam setiap saat. Karena itu, kunci utamanya ialah sedikit makan. Sedikit makan juga mempunyai keuntungan tambahan. Kenyang menyebabkan bangga, dan bangga mendatangkan amarah. Maka, sedikit makan juga mengendalikan bangga dan amarah. Kenyataannya, mereka yang memasuki jalur ini cukup bersikap pertengahan dalam makan, minum, tidur, dan bicara. Tiga syarat perlu dipenuhi untuk itu: 1. Jauhkan semua gagasan, khayalan dan ingatan duniawi dari pikiran. 2. Jangan sekali-sekali melupakan Allah, selalu sebut (ingat) Nama-Nya dalam hati. 3. Selalu berjaga (mengamati dengan sadar), atau bersama dengan Allah (muraqabah), selalu memikirkan Allah. Syarat spiritual dalam jalur ini ialah kecintaan akan Allah dan merindukan-Nya. Jika kerinduan dan perhatian ini memasuki hati, ini harus dianggap sebagai karunia terbesar, dan kita harus tanpa henti berupaya meningkatkan dan tidak sampai kehilangan itu. Dzikir (mengingat) Allah dalam hati seseorang merupakan jalan tersingkat menuju Allah, dan kunci bagi Alam Keesaan yang tak terbayangkan, yang juga melindungi seseorang dari kesulitan dan bencana. Perolehan mereka yang memasuki jalur ini adalah selalu dalam suasana Keberadaan Allah. Jika keberadaan itu berakar dalam hati, ini disebut mushahadah. Jika keberadaan itu terjadi secara menetap (tamkin), yaitu bila menjadi permanen dan bebas dari variasi (talwin), tujuan telah tercapai. Allah diketahui setiap saat, seseorang selalu bersama Dia, dan tidak pernah lalai terhadap Dia sesaatpun. Naqsyabandi mempunyai tiga cara untuk mencapai ini. Cara 1 Pengucapan (dzikir): "tiada tuhan melainkan Allah" (la ilaha illAllah) berulang-ulang. Kalimat ini diucapkan berulang-ulang dalam kedamaian hati. Bagi Naqsyabandi, pengucapannya dilakukan tidak keras, tetapi perlahan, di dalam hati. (Nabi mengajarkan dzikir tak bersuara kepada Abu Bakar, Khalifah pertama, dan dzikir bersuara kepada Ali, Khalifah keempat.) Dalam mengucapkan: "tiada tuhan", kita menganggap semua benda dan semua makhluk sebagai tiada, dan ketika mengucapkan: "melainkan Allah", kita memikirkan keberadaan Allah yang abadi. Selama pengulangan kata sakral ini, lidah dilipat ke belakang dan dasar lidah ditekan ke bawah. Napas ditahan selama mungkin, dan pengulangan dzikir dilakukan dengan intensitas sedemikian rupa hingga pengaruhnya menyebar ke seluruh bagian tubuh. Dalam apapun yang dilakukan murid, ia tidak boleh lupa untuk melakukan dzikir itu, bahkan pengulangan tidak boleh mengendor ketika ia berbicara, makan, atau tidur. Jika menyadari pengendoran itu, ia kembali memberi perhatian dan pemusatan pikiran, sehingga akhirnya dzikir ini berjalan secara permanen. Cara 2 Pengucapan "Allah" sambil mengarahkan hati kepada Allah. Dalam pengulangan, murid harus menganggap Allah ada pada setiap titik di alam raya ini. Ia harus mengulang pengucapan itu dengan tenaga yang keluar dari dirinya, sampai keadaan ini selalu bertahan di dalam hatinya, menjadi suatu sifat di dalam hatinya, hatinya terisi dengan sinar terang, dan ia merasakan kegembiraan yang besar. Apapun keadaan dalam hatinya, ini harus selalu demikian. Rahasia yang diwahyukan di sini tidak boleh diutarakan kepada umum, dan Batasan Ilahi (Kaidah Islam) tidak boleh dilanggar. Jika pelaku dzikir tidak gagal dalam memikirkan Allah meskipun sesaat, jika ia menyebut nama Allah meskipun selama tidur dan tidak jauh dari Dia, tidur atau bangunnya merupakan keberadaan Allah; ia akan segera mencapai kematangan spiritual. Tergantung pada kemampuan murid dan kemurahan Allah, waktunya dapat berkisar antara seketika sampai seumur hidup. Cara 3 Cara ketiga, penyatuan atau rabita, merupakan cara untuk mengikat hati. Percakapan yang mengagumkan dari guru yang sempurna, merintis jalan menuju penyatuan ilahi. Dengan tenaga dan berkah dari diskusi itu, cahaya spiritualitas dan makna mengalir ke dalam hati murid. Jika makna ini terputus, murid harus mengulang diskusi dengan guru, hingga ia dapat menahan bayangan guru dalam imajinasinya ketika mereka berpisah, dan mengusir semua pikiran dan ingatan dalam hatinya, dengan hanya meninggalkan bentuk dan bayangan gurunya. Tiada jalan yang lebih pendek dari ini. Jika wajah guru yang dicerahkan-mungkin di antara kedua alis-tidak menghilang dari pikirannya barang sedetik pun, jika ia tidak melupakannya selama duduk, berdiri, atau makan, jika ia dapat selalu mempertahankannya dalam pikiran-ini cukup sulit dicapai oleh murid-murid mencapai jajaran akhir di mana bayangan guru mengakar dalam hatinya, dan ia dapat membayangkannya dengan mudah setiap waktu. Tetapi jika kebajikan (amal shaleh) diabaikan, jalur pencerahan ini akan terputus, dan kemudian akan sangat sulit menyambungnya kembali. Untuk mendapatkan percakapan dengan guru yang terhormat itu, merupakan kesempatan yang sangat berharga dan langka di zaman ini. H. SEBELAS ASAS NAQSYABANDIYAH Sebelas Asas yang dikembangkan Naqsyabandi sangat sayang untuk tidak disebut di sini. Delapan yang pertama ditetapkan oleh Syekh Abdulhaliq Gujduwani, dan tiga lainnya ditambahkan oleh Syekh Naqshaband. 1. Dzikir. Pada dasarnya, ini adalah pengucapan kalimat thoyyibat sambil menahan napas selama jangka waktu tertentu. Menahan napas selama mengucapkan jumlah pengucapan tertentu, mencegah pengalihan perhatian dan pengembaraan pikiran. 2. Simpul. Ini adalah doa pendek yang menyelingi dzikir di atas. Ketika sejumlah tertentu pengucapan selama menahan napas tercapai dan kita mengeluarkan napas, kita mengucapkan doa misalnya: "Ya Allah, Engkaulah tujuanku dan aku ingin mencari ridho-Mu." Ini menjaga agar pikiran tak terpecah; kita dapat bebas dari bayangan dan pikiran-pikiran tak berdasar yang membanjiri hati. 3. Waspada. Perlawanan terhadap kekacauan mental. Kita harus melawan berbagai pikiran dan bayangan yang muncul, hati dan perhatian harus tetap terpusat pada Allah. Ini sangat sulit dan perlu upaya yang besar. Pengaturan napas merupakan alat bantu yang terpenting untuk mencapainya. 4. Mengingat. Pertahankan perhatian pada Allah. Segala sesuatu selain Allah harus dibuang dari hati dan pikiran, perhatian harus dipusatkan pada Allah. 5. Memperhatikan Napas. Setiap napas perlu dimasukkan dan dikeluarkan dengan waspada dan sadar. Pernapasan harus dikendalikan. Kita harus sepenuhnya sadar akan penarikan dan pengeluaran napas. Syekh Shahabuddin Suhrawardi menerangkan alasannya: "Orang yang tidak dapat mengatur napasnya tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri, dan orang yang tidak dapat mengendalikan dirinya termasuk orang yang binasa." 6. Perjalanan ke tempat asal. Perjalanan spiritual kembali kepada Allah, tempat kita berasal. Perjalanan dari kebiasaan buruk dan menjijikkan ke kelakuan yang terhormat. 7. Memperhatikan langkah. Kita harus selalu memperhatikan setiap langkah. Bila kita memperhatikan sekeliling, perhatian kita akan terpecah, apa yang dilihatnya akan membekas di hati, dan menyebabkan bingung. Secara kiasan, ia harus selalu sadar ke mana ia akan melangkah, dan tidak pernah lalai dari tujuan. 8. Sendiri dalam kebersamaan. Berada di dunia, tetapi bukan bagian dari dunia; di luar, bersama orang (atau ciptaan Allah) lain, tetapi di dalam, tetap bersama Kebenaran (Allah). Mempertahankan tingkatan spiritual seolah-olah kita sendirian, meskipun terdapat kehadiran orang lain. 9. Perhentian waktu (Wuquf Zamani). Kita perlu berhenti dari waktu ke waktu untuk melakukan penelitian-diri dan koreksi-diri. Kita perlu berterima kasih atas perbuatan baik orang lain dan menyesali apa yang buruk pada diri kita sendiri. 10. Perhentian bilangan (Wuquf Adadi). Perhatikan jumlah bilangan pengucapan tiap kali menahan napas. Dimulai dengan satu kalimat (misalnya, kalimat thoyyibat) lalu secara bertahap ditingkatkan hingga hingga 21. Misalnya: hirup napas, ucapkan kalimat tiga kali, lalu keluarkan napas. Jika hasil tertentu belum tercapai ketika menyelesaikan 21 ulangan, mungkin perlu mengulang lagi dari awal. 11. Perhentian hati (Wuquf qalbi). Bayangkan bahwa nama sejati Allah terukir di dalam hati, dan latih pikiran sampai bayangan ini menjadi permanen. Dapat dilihat bahwa kesebelas asas di atas kebanyakan mengenai pemusatan perhatian, dengan menahan napas dan pengaturan napas. I. PETA PERJALANAN SPIRITUAL Pada jalan menuju Kebenaran, Realita Mutlak, kita selalu dalam keadaan yang berbeda pada tiap langkah. Ini ada manfaatnya jika dipetakan untuk memperoleh pandangan yang menyeluruh, seperti terlihat pada Diagram 1, dan dapat dijelaskan secara ringkas sbb. Pengertian yang perlu diambil adalah : 1. Diagram ini tidak selalu tepat, dan hanya memberikan gambaran secara umumnya. 2. Berbagai sumber menyajikan diagram ini dalam bentuk yang berbeda dan kadang-kadang bertentangan. Ibrahim Hakki dari Erzurum adalah wali besar. Klasifikasi yang dibuatnya-lah yang diikuti di sini, tetapi sumber lain juga dapat dipelajari. 3. Perjalanan tiap salik masing-masing mempunyai kekhususan. Oleh karena itu, para mursyid tidak memberi penjelasan terinci mengenai peta perkembangan spiritual. Perlu diingat bahwa diagram ini merupakan alat yang berguna untuk membantu pemahaman, dan tidak dimaksudkan sebagai pembeberan rincian-rincian. 1. Alam-alam Dalam konsepsi para sufi, alam yang dapat diamati, dunia fisik yang berisi benda-benda kasar, hanyalah kenyataan terendah dari keberadaan. Di luar itu adalah alam yang tidak terjangkau oleh pengukuran fisik semata-mata karena tidak bersifat fisik. Jumlah alam, termasuk alam fisik, adalah empat. "Visi tunggal" adalah visi yang hanya melihat dunia sebagai benda tampak, yang menyangkal kenyataan keberadaan dunia lain, termasuk Allah, yang merupakan Realita Mutlak. Jadi visi relatif atau partial menyangkal keberadaan Realita Total atau Mutlak tanpa alasan selain persangkaan dan kekurangannya sendiri, yang sangat tidak masuk akal. Namun para pendiri ilmu pengetahuan modern tidak pernah bermaksud demikian. Untuk menyingkirkan setiap kenyataan selain yang terlihat adalah pengingkaran terhadap penciptaan semula. Untuk membuktikan, mereka membatasi penyelidikan pada pengalaman inderawi; dan di balik setiap hukum alam mereka melihat Hukum Ilahi, yang tanpanya segala sesuatu akan menjadi kacau, kalau pun ini dapat terjadi (tetapi ternyata tidak). Newton meyakini satu Allah: "Inilah yang mengatur segalanya ... sebagai Tuhan dari segala sesuatu. Atas dasar inilah, Ia menyebut Allah Pantokrator, atau Penguasa Universal" (Principia). Penyelidikannya dalam bidang kimia sangat menarik para ilmuwan besar dalam transformasi ruh, di mana transformasi logam dasar menjadi emas semata-mata hanyalah kiasan. Di dalam dirinya, Kepler menggabungkan cinta pada Allah Yang Esa dengan pengabdian ilmiah menjadi penemuan keselarasan Allah seperti yang tampak di alam (khususnya, orbit elips dari planet-planet). Ia merupakan contoh terhormat dari penggabungan ilmu pengetahuan dan agama di dalam seorang ilmuwan. Descartes pun percaya pada Allah; seperti yang diamati oleh ahli fisika kuantum Werner Heisenberg, ia membagi totalitas menjadi tiga, yaitu Allah, manusia, dan alam semesta. Pembagian antara manusia dan alam semesta diformulasikannya dalam dualisme antara [a] pikiran atau kesadaran (ruh, res cogitans) tanpa perluasan, dan [b] benda atau perluasan (res extensa) tanpa kesadaran. Copernicus meyakini benar bahwa di tangan mereka yang kotor jiwanya, ilmu pengetahuan hanya akan diseret menuju ke kejahatan. Asumsi metafisika orang-orang besar tersebut mungkin telah mengantar kita ke suatu konsep jagad tanpa ruh, tanpa Allah, bersifat matematis dan mekanis, tetapi ini bukan merupakan tujuan sadar mereka. Karena itu, apa yang perlu kita lakukan ialah mengubah sudut pandang seluruh jajaran ilmu pengetahuan, untuk kembali ke para pendahulu mereka; tidak perlu merevisi, melihat kembali, menguji pengetahuan dan asumsi kita dalam cahaya yang baru. Maka, kita akan menemukan bahwa tiada sesuatu pun dalam pengetahuan kita untuk membatalkan atau bertentangan dengan keberadaan alam wujud lainnya, karena ilmu pengetahuan tidak pernah mencoba untuk menyatakan hal lain selain dunia fisik. Kalau kita memusatkan perhatian kita pada suatu obyek di dalam kamar, tanpa mempedulikan hal lain lewat jendela, tidak berarti bahwa tidak ada apapun di luar kamar tersebut. Para Sufi mempercayai adanya dunia material, juga adanya alam dalam bentuk lain (alam, atau awalim). Ini bukan pernyataan untuk mengurangi dunia nyata dengan dunia spiritual atau ideal (catatan: "spiritual" dan "ideal" tidak serupa), atau lain sebagainya; bukanlah "atau," melainkan "dan." "Dunia lain" atau "Alam Paralel" ini telah disebut dengan berbagai nama oleh para Sufi. Ada empat alam dasar: Manusia, Malaikat, Majestic, dan Divine (Nasut, Malakut, Jabarut, dan Lahut). Alam-alam tersebut lebih bersifat hierarki daripada sama derajatnya. Alam Manusia adalah dunia manusia, dunia yang kita saksikan dan terindera-alam fisik, material, atau alam yang tampak. Oleh karena itu, alam ini disebut juga Alam Penyaksian, Alam Rendah, atau Alam Elemen, Kelahiran, Penciptaan dan Pemusnahan, Kenyataan, Ketakutan, Angkasa, Planet, Bintang, dan Tubuh. Juga sering disebut Kerajaan (mulk). Alam Malaikat adalah alam dominion, di mana Allah diakui sebagai penguasa mutlak. Oleh karena itu, disebut juga Alam Perintah. Ini merupakan alam tak terlihat (ghaib) berisi malaikat dan ruh. Di dalam diagram, Alam Malaikat menempati dua sel yang berdampingan: Alam Antara dan Alam Ruh. a) Alam Antara merupakan "tanah genting" atau Alam Imajinasi, dapat dicapai dalam status kesadaran senja (antara tidur dan bangun). Ini merupakan dasar dari Alam Imajinasi (alam al-mithal) atau Alam Simbol (Archetypes), yang lebih tinggi tingkatnya. b) Alam Ruh lebih tinggi dari Alam Antara, dan disebut juga Alam Arti atau Alam Mimpi. Ini merupakan tempat kedudukan takwa. Alam Raja adalah Alam Kekuasaan, disebut juga Alam Realita. Ini adalah tingkatan di mana Realita Muhammad menjelma, dan murid dipenuhi dengan Nur Muhammad. Alam Abadi adalah Alam Ilahi, dan seperti Alam Malaikat dan Alam Raja, bersifat tak terlihat, tak teramati, atau tak terukur-ini merupakan Yang Tak Terlihat dari Yang Tak Terlihat dari Yang Tak Terlihat. Asas ilahi terdapat pada tingkatan ini, Alam Puncak. Ini adalah Alam Awan (ama) Tak Terhingga, yang dimaksud oleh Nabi ketika beliau ditanya: "Di manakah Allah sebelum Ia menciptakan alam semesta?" Beliau menjawab: "Tuhanku berada di awan tanpa puncak tanpa dasar." (Artinya, Ia berada di setiap titik dari awan sinar putih tak berbatas, homogen dan isotropis.) Dalam ilmu Tasawwuf, ini mengacu pada KeEsaan dan Keabadian Mutlak. Biarpun tampak hanya pada satu sel, alam ini sebenarnya meliputi tiga sel terakhir dalam diagram. Kadang-kadang, Diri atau Identitas Allah dibedakan dari Alam Abadi, disebut Hahut (dari huwiya: "Ke-Dia-an," Identitas) dan kelima realita yang dihasilkan disebut "Lima Realita" (hazrat hamsah). Dalam hal ini, jika seseorang ingin mengacu pada pola kelipatan empat, Lahut dan Hahut keduanya disebut Alam Kehormatan (Izzah). Dzat Allah dalam hubungannya dengan Dia sendiri disebut Keesaan Mutlak (Ahadiyah), dan berkaitan dengan Hahut. (Ini merupakan Allah Tersembunyi yang tidak diketahui, deus absconditus, dan kita dilarang untuk menduga-duga mengenai sifat Diri atau Dzat Allah.) Dalam kaitan dengan Penciptaan-Nya, disebut Keesaan (Wahidiyah), dan berkaitan dengan Lahut, yang berhubungan dengan Tubuh Sakral (wujud al-aqdas). Kembali ke Penyaksian. Kembali dimulai dari Alam Tak Terlihat ke Alam Manusia (Tersaksikan). Tetapi ini bukan kembali ke status sebelumnya, melainkan maju, ke langkah berikut. Kesatuan dalam Keragaman, Keragaman dalam Kesatuan. Alam Abadi dicapai dalam status Pemadaman (fana) dan Keberadaan (baqa). Kesatuan dalam Keragaman merupakan tingkatan terakhir. [bersambung] --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
