Assal�mu 'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
Di sebuah masjid, iqamat dikumandangkan dan orang-orang berdiri
membentuk shaf-shaf. Polan, seorang yang dikenal sebagai 'agak miring'
ikut bergabung sebagai makmum. Ketika imam sedang membaca Al Fatihah,
Polan tiba-tiba bersuara keras menirukan bunyi lenguh sapi. Keruan
saya orang-orang heran, terganggu dan sejenak melirik kepadanya.
Untunglah, imam segera meneruskan bacaannya yang sempat sejenak
terhenti, sehingga shalat berjamaah itu dapat berlangsung terus.
Selesai shalat, orang-orang memarahi Polan, kecuali si imam. Imam
malah membuat pengakuan "Ketika si Polan berteriak meniru lenguh sapi
tadi, sesungguhnya aku sedang memikirkan keinginanku untuk membeli
seekor sapi dari tetangga sebelah rumahku. Sapi itu begitu cantik dan
gemuk; aku membayangkan betapa senangnya memiliki sapi itu"
Kisah di atas saya sadur dari sebuah cerita sufi yang pernah saya
baca. Saya teringat kisah itu ketika membaca tulisan mas Jaret
mengenai orang-orang yang 'nyeleleng' karena 'kabotan ilmu'.
Sebenarnya, orang-orang 'miring' itu semata-mata mengekspresikan
sebuah kebenaran. Si Polan seperti kisah di atas hanyalah menyuarakan
apa yang diketahuinya. Orang yang dikisahkan Mas Jaret berkata "Awas,
ada monyet lewat�" tiada lain dari sekedar mengekspresikan
penglihatan batinnya bahwa orang yang lewat di depannya bertabiat
seperti monyet.
Namun kita semua tentu sepakat, ekspresi yang 'polos' semacam itu
tidak selalu membawa kebaikan. Kebenaran seringkali perlu disajikan
secara terselubung, kadang-kadang dengan kiasan atau sindiran, untuk
mengurangi ekses yang tidak dikehendaki. Karena itulah para sufi
jarang sekali mengungkapkan dengan polos apa-apa yang diketahui dan
dialami dalam perjalanannya mencari Tuhan dan ketika bertemu
dengan-Nya.
Al-Qur'an dan Hadits pun dikemas sedemikian rupa hingga menampilkan
kebenaran itu dengan cara yang mirip dengan gadis pemalu yang
berpakaian rapat dan berjilbab: hanya muka, tangan dan kakinya yang
tampak. Ia hanya dengan sukarela menampakkan sebagian kecil
'rahasianya' kepada orang yang mendekatinya dengan cara yang baik dan
menunjukkan iktikad untuk memanfaatkan pengetahuannya demi kebaikan.
Itupun dilakukannya secara bertahap. Barangsiapa menyingkapkan pakaian
gadis itu dengan paksa, sudah pasti ia masuk ke dalam golongan
orang-orang gila.
Siapapun yang kebetulan melihat suatu kebenaran mengenai bagian yang
ditutup itu, lalu menceritakannya di depan umum, apalagi secara
vulgar dan/atau dilakukan demi uang atau imbalan materi lain, ia
adalah orang gila. Agar tidak disebut gila, ia perlu menggunakan
kebijaksanaan untuk menentukan cara penyampaian kebenaran itu,
termasuk memperhatikan waktu dan tempat, dengan memperhatikan manfaat
dan mudharatnya.
Untuk mengantisipasi orang yang salah arah dan menjadi 'gila' itu,
tasawuf telah mengambil suatu extreme precaution, yaitu perlunya orang
memiliki pembimbing yang benar sebelum mulai dengan sadar menapaki
sesuatu jalur thariqat. Pada umumnya pembimbing mula-mula meluruskan
motivasi muridnya. Motivasi yang lurus dalam mengikuti thariqat adalah
mencapai kedekatan dengan Allah, mencari ridha Allah, memuliakan jiwa
atau kepribadian, mencari keselamatan dunia-akhirat, mencari
kebahagiaan sejati, mencari cinta, harmoni, dan keindahan yang sejati,
atau ungkapan lain yang serupa. Motif yang didasari keinginan untuk
memiliki kesaktian atau kekebalan tubuh, memiliki kemampuan yang
linuwih (paranormal, supranatural), kemenangan dalam menghadapi
persaingan hidup, ketenaran, kekuasaan, kekayaan, dll - adalah
menyesatkan, dan orang dapat menjadi gila bila tidak mampu
menghilangkan motivasi buruk ini. Pembimbing sejati umumnya mampu
mengikis hasrat buruk ini, mungkin seketika, mungkin pula bertahap,
tergantung kondisinya. Kalau ia merasa tidak mampu, ia pasti menolak
orang itu untuk menjadi muridnya. Fungsi pembimbing dalam
mengendalikan motivasi buruk yang timbul pada awal dan di tengah
perjalanan itu -- dapatkah digantikan oleh sebuah buku?
Wallahya'lam bishhawab.
Wassal�mu 'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
RS
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)