TINGKATAN-TINGKATAN DIRI DALAM TASAWUF
[Mengenai peristilahan] Sifat manusia umumnya dikelompokkan dalam tiga
bagian. Di samping tubuh luarnya, tubuh (Yunani: soma), bagian
dalamnya mempunyai "aku", ego, diri, atau jiwa (Sanskerta: Atman -
Yunani: psyche - Yahudi: nefesh - Arab: nafs) dan ruh (Latin: spiritus
- Yunani: pneuma - Yahudi: ruach - Arab: ruh). Ruh merupakan pembeda
antara tubuh hidup dan tubuh mati; ruh inilah yang menggerakkan tubuh,
dan diyakini tetap hidup setelah seorang meninggal; dengan kata lain,
fenomena kematian semata-mata merupakan terlepasnya ruh dari tubuh.
Diri, aku atau jiwa merupakan tempat kedudukan kesadaran [diri].
Digambarkan, ruh dan jiwa adalah bagaikan buah bagi biji-keduanya
tidak dapat dipisahkan.
Pada zaman Yahudi dan Kristen awal, Jiwa dan ruh diyakini berbeda dan
dua hal yang terpisah. Tetapi, dengan berlalunya waktu, keduanya
dikacaukan, sehingga kini jiwa, ruh, dan psyche dianggap sinonim, dan
tidak selalu jelas kapan atau di mana kedua istilah itu digunakan.
Alasannya: ruh dan jiwa tetap hidup setelah kematian, dan karena
keduanya berarti "napas" dalam berbagai bahasa (lihat sinonim di
atas). Namun, di bawah ini kita akan melihat bahwa pembedaan kedua
istilah itu bermanfaat untuk dipertahankan. Untuk mencegah kerancuan,
maka istilah "jiwa" secara konsisten diganti dengan "diri",
sekurang-kurangnya di dalam bab ini
Dalam puisi mistiknya yang terkenal, Konferensi Burung-burung,
Fariduddin Attar, seorang Sufi penyair, melukiskan pencarian sekawanan
burung untuk menemukan Simurgh, seekor burung legendaris. Nama itu
berarti "tiga puluh ekor burung," yang sekaligus mewakili sejumlah
burung dalam kawanan, yang juga berjumlah 30. (Judul asli puisi itu
adalah Mantiq al-Tayr, yang dapat pula diartikan "pemikiran
burung-burung.")
Setelah mengarungi tujuh lembah dan setelah mengatasi berbagai
hambatan yang berat, mereka akhirnya berhasil bertatap muka dengan
Simurgh yang tiada bandingannya itu. Puncak cerita merupakan bagian
yang paling mengharukan dalam puisi mistik.
Kini upaya burung untuk menemukan Simurgh tiada lain dari pencarian
manusia untuk menemukan Allah, atau Realita Mutlak. Tujuh lembah yang
harus mereka arungi adalah tujuh tingkatan diri. Baru pada tingkatan
terakhir, tabir dapat terbuka di depan mata, menunjukkan suatu visi
mengenai kebesaran tak terhingga dari kerajaan ilahi. Ini merupakan
pengalaman yang begitu mengagumkan, penuh mu'jizat, tak terlukiskan,
sehingga semua mereka yang sudah mengalami setuju bahwa tiada hal lain
di dunia ini yang lebih layak untuk didambakan. Dalam perkataan Sufi
lain, Misri: "Jika pemimpin seluruh dunia mendengar ini, mereka akan
mencurahkan seluruh hidupnya hanya untuk memperoleh setetes pengalaman
ini."
Tema kita pada bagian ini adalah tingkatan-tingkatan diri seperti yang
diterangkan oleh sumber-sumber Islam dan Sufi. Berbahagialah orang
yang beranjak dari satu tingkatan ke tingkatan berikutnya, makin
mendekat ke sumber dari segala sesuatu; kasihan mereka tidak mempunyai
semangat dan kesabaran memperoleh keselamatan mereka sendiri, tetap
tinggal di permulaan-sebuah penjara bagi dirinya sendiri.
Tuhan Yang Maha Perkasa dengan kebijaksananNya telah mengirimkan
rahasia Dzat-Nya dari Langit Tersembunyi ke Bumi, dan telah
menyembunyikan rahasia itu dalam sifat manusia untuk menunjukkan Nama
dan SifatNya sendiri. Tetapi manusia yang tenggelam dalam kegelapan
telah melupakan nilai-nilai dan kesempurnaan yang dimilikinya sebelum
ia datang ke dunia ini. Jika manusia cenderung kepada dunia dan
kehendak dirinya, mereka menyandang sifat bodoh, dan sepenuhnya
melupakan kebenaran dan tanah asal mereka. Allah telah menurunkan
nabi-nabi dan kitab-kitab suci kepada mereka agar mereka bangun dari
tidur terlelap, untuk menuntun mereka ke jalan yang lurus, untuk
memurnikan dan menata luar dan dalam mereka sehingga mereka mampu
menyapu jaringan kegelapan dan nafsu, menemukan Alam Terang, mengingat
tempat asalnya dan kembali ke sana. Jika orang mendekati Allah satu
sentimeter dengan kemauan keras, Allah akan mendekat kepadanya satu
meter, dan Allah datang dengan berlari kepada mereka yang datang
dengan berjalan.
Seperti pada bahasa Mesir kuno (ba dan ka) dan Cina (hun dan p'o),
para ilmuwan Islam membagi ruh manusia menjadi dua: ruh hewan, dan ruh
manusia. Yang mereka maksud dengan ruh hewan adalah dzat spiritual
halus yang terdiri dari nyawa, kesadaran, daya gerak dan kehendak
tubuh, yaitu sifat-sifat manusia yang juga dimiliki hewan. Diri yang
bersatu dengan ruh ini disebut diri hewan (nafs al-haywani).
Semua kemampuan yang lebih tinggi pada manusia dikelompokkan oleh
ulama Islam di dalam ruh manusia. Diri yang bersatu dengan ruh ini
mereka sebut diri yang bicara/berpikir (nafs al-natiqa), dan diri
inilah yang mampu mendorong ke tingkatan diri yang lebih tinggi:
mencela, sadar, tenang, puas, diridhai, dan sempurna. Tetapi karena
diri hewan merupakan substrat-nya, makin sering diri manusia tidak
dapat hadir tanpa ini, diri hewan menjadi lebih jinak dan orang dapat
menahan keinginan hewan. Inilah satu-satunya jalan agar makin banyak
aspek manusia dan ilahi dari diri dapat bangkit.
harap daftar berikut dimasukkan ke dalam sebuah tabel
5 kolom x 8 baris
[BARIS JUDUL]
Tingkatan
Nama Arab
Nama Inggris
Nama Indonesia
Acuan dalam Al Qur'an
[BARIS 1]
1
Ammarah
Impelling Self
Diri dasar, Diri hina
12:53
[BARIS 2]
2
Lawwamah
Critical Self
Diri yang Kritis
75:2
[BARIS 3]
3
Mulhimmah
Inspired Self
Diri yang Sadar
91:8
[BARIS 4]
4
Mutmainnah
Serene Self
Diri yang Tenang
89:27
[BARIS 5]
5
Radhiyah
Pleased Self
Diri yang Puas
89:28
[BARIS 6]
6
Mardhiyah
Pleasing Self
Diri yang Diridhai
89:28
[BARIS 7]
7
Kamilah, Zakiyah atau Safiyah
Perfected,
Purified
Sanctified Self
Diri Sempurna
TINGKATAN 1: DIRI PENGUASA, DIRI DASAR, DIRI PENDORONG
Dalam cerita Seribu Satu Malam, Sinbad si pelaut, dalam salah satu
petualangannya, kapalnya tenggelam tetapi ia selamat. Ia berenang ke
pantai setelah terdampar di sebuah pulau aneh, dan tertidur karena
kelelahan. Ketika terbangun, ia melihat bahwa sepasang kaki seorang
pemabuk yang menjijikkan menjepit lehernya. Sejak hari itu, Sinbad
menjadi budak manusia kejam itu, yang tidak pernah mengendorkan
cengkeramannya dan memukuli kepalanya sepuas hati.
Tentu saja Sinbad pada akhirnya dapat lolos, tetapi kelanjutan
ceritanya tidak penting bagi kita di sini. Telah dimaklumi bahwa
Seribu Satu Malam banyak mengandung unsur tasawwuf, dan tiada contoh
yang lebih baik selain jepitan pemabuk di atas; karena ini merupakan
penjelasan terbaik dalam literatur dunia mengenai sifat diri dasar
atau diri jahat.
Tetapi bukan hanya itu. Dalam mitologi dan dongeng, dalam cerita epik
dan fiksi ilmiah, kita dapat melacak jejak diri hina manusia: dari
Hidra berkepala tujuh (ingat jumlahnya tujuh!) sampai naga St. George,
dari Frankenstein sampai cyborg, android dan robot pembunuh-diri yang
mengerikan dan impulsif yang selalu menjadi monster dan tokoh yang
kejam. Seperti yang dikemukakan ahli mitologi Joseph Campbell, orang
yang mampu mengalahkan kebrutalan ini selalu menjadi pahlawan,
Pahlawan Bermuka Seribu. Cerita-cerita universal yang selalu serupa,
diungkapkan kembali dalam jutaan wajah. Biasanya cerita-cerita itu
tidak menerangkan siapa yang dilukiskan sebagai tokoh brutal itu,
meskipun ini tidak mengurangi minat atau kenikmatan dalam membacanya;
tetapi Campbell mengungkapkannya. Musuh itu bukan di luar, tetapi di
dalam, seperti tokoh Pogo yang berkata, "Kami telah menemukan
musuhnya, dan ini dia."
Tetapi, jika ada naga, di situ ada pula putri jelita dan harta karun
terpendam. Apa yang hendak dicapai dengan kontras ini? Tak kurang dari
sesuatu yang amat bernilai, orang di segala zaman dan di semua tempat
menyerahkannya ke tangan pangeran atau kepada badan pemerintah. Bukan
karena ini benar, tetapi karena imajinasi mereka begitu pendek dalam
upaya menjelaskan apa yang sesungguhnya terlibat, dan hanya dapat
menerima realita dengan kiasan-kiasan semacam itu.
Bukan hanya pada mitos masa lalu atau fiksi ilmiah masa depan kita
dapat menemukan diri-hina, tetapi juga dalam literatur kontemporer,
teater dan film-pendeknya, dalam seni. Minotauromachy ("Perjuangan
Melawan Minotaurus") dan Guernica, karya Picasso; Steppenwolf, separuh
manusia separuh serigala, karya Herman Hesse-semua merupakan
penggambaran diri-dasar. Para pengarang dan seniman, sebagai alat
pengindera masyarakat, berusaha menarik perhatian ke arah penyakit
jiwa yang menyebar sangat luas, karena agama tidak pernah menyangkal
bahwa penyakit itu terjadi juga pada abad ini.
Psikologi-psyche-ology, atau ilmu pengetahuan tentang diri-seharusnya
menangani masalah ini. Tetapi suatu penemuan dalam psikologi modern
mengenai aspek Fir'aun dalam diri terbatas pada bawah sadar, yang
kepadanya semua rangsangan buruk diberikan. Ini penting: bahwa
diri-hina tentu punya komponen bawah sadar, memanjang seperti akar
tanaman di dalam tanah yang tidak terlihat dan mengganggu upaya kita
dalam mengendalikan kesadaran - merupakan penemuan yang sangat
penting. Tetapi di luar itu, pengenalan diri-hina jarang sekali
ditemukan. Mengenai tingkatan diri yang lebih tinggi dan kemungkinan
peningkatan ke tingkatan itu, ini berada di luar imajinasi psikologi
masa kini. Di dunia Barat, sangat sedikit orang yang berhasil menyusun
konsepsi tingkatan-tingkatan diri.
Salah satu alasannya, di dunia Barat, diajarkan bahwa musuh kita
adalah daging, atau naluri, atau bawah sadar kita. Diagnosis yang
keliru ini menutupi sumber konflik sejati dari mata kita.
Motto dari diri daging adalah kesahajaan itu sendiri. "Lakukan
keinginanmu, dan itu adalah hukum yang menyeluruh." Tetapi ini
mengabaikan fakta yang sederhana namun berbahaya: makin banyak
diri-liar diberi kebebasan, ia makin membesar. Cacing kecil akan
tumbuh menjadi kobra, kemudian menjadi naga berlidah api dan akhirnya
menjadi Tyrannosaurus Rex. Melihat rangkaian pembantaian manusia pada
masa kini, di mana orang melakukannya tanpa mengedipkan mata, kita
dapat menyaksikan akibat dari dominasi kekejaman diri-hina. Karena
semua berkembang dari buruk menjadi lebih buruk, kita tidak tahu apa
yang akan terjadi kelak. Surat kabar menulis bahwa kanibalisme muncul
kembali, bukan di hutan gelap Afrika, tetapi di Russia. The Terminator
dan Alien tidak begitu; karena dalam kasus orang bersenjata yang
memasuki sembarang toko atau restoran dan menembak dengan membabi
buta, diri-penindasnya berkuasa: mula-mula menghancurkan semua yang
terlihat, dan kemudian merusak diri sendiri. Robot, manusia mekanik
yang diprogram untuk membunuh, yang rasa kasihan dan kasih-sayang
telah diambil darinya, merupakan hasil akhir dari proses ini.
Tentu saja, itu tadi adalah contoh-contoh ekstrim. Bagaimana dengan
kita, manusia biasa? Pada sisi gelap jiwa tiap orang, bersembunyi
sebuah Minotaurus, yang dengan sabar menunggu untuk beraksi. Ia
terselubung, kita mungkin tidak menyadari kehadirannya, tetapi ia ada
di sana. Minotaurus merupakan simbol dari kehendak-kehendak diri yang
kompleks. Dan putri yang ditawan yang menunggu penyelamatan, adalah
ruh. Kita harus memilih antara ruh dan ego kita; tidak dapat keduanya
dibebaskan sekaligus. Jika diri-hina dibebaskan, ia akan mencekik ruh.
Ego dapat menekan ruh sedemikian rupa hingga kita menjadi mesin tak
berjiwa. Maka, untuk membangkitkan dan membebaskan ruh kita, kita
harus memenjarakan ego kita. Baru kemudian perkembangan spiritual
dimungkinkan, dan baru kemudian ruh berkuasa.
Pengendalian diri ego menjadi lebih penting pada zaman ini. Berkat
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, orang yang paling rendah
sekali pun kini menikmati hak yang tak terbayangkan oleh Fir'aun dan
kaisar-kaisar masa lalu. "Kotak ajaib" membawa suara dan gambar dari
belahan dunia lain; "kereta yang berjalan sendiri" dapat membawa
seorang miskin dengan kecepatan yang tak terbayangkan oleh para raja
dahulu; orang desa di Afrika dapat berkomunikasi dengan keempat sudut
dunia. Pemerataan kesempatan dan barang yang dulu tidak terbayangkan,
hanya dapat disambut, dan tak seorang pun berpikir bahwa hal ini
buruk.
Namun di situ ada bahaya. Pengendalian diri ego relatif mudah dalam
keadaan "kekurangan", tetapi menjadi sulit dalam keadaan "kelimpahan".
Karena diri-hina cenderung untuk berkembang dalam keadaan demikian,
kemewahan kita dapat menjadi kemunduran terselubung.
Pandangan ekologis sangat relevan di sini. Bukan konsumsi maksimal,
tetapi konsumsi yang lestari; berpegang pada prinsip emas; tidak
mengambil sesuatu lebih dari yang diperlukan meskipun kita berada di
dekat lautan luas. Begitulah kita mengendalikan diri, mempertahankan
standar hidup kita, dan memberi sumbangan kepada demokratisasi sumber
daya (berbagi dengan sesama dalam penggunaan kekayaan dunia) dalam
kelimpahan.
Pada tingkatan awal, diri manusia atau diri bicara/berpikir dikekang
oleh diri daging dan tertahan di tingkatan ini; kita didorong ke arah
perbuatan buruk, dan karena itu kita menyebut dengan istilah diri
pendorong. Cirinya adalah kebiasaan buruk seperti kebodohan, egois,
tamak, sombong, pementingan diri sendiri, nafsu, iri, kelakuan buruk,
kegiatan tak bermanfaat, menertawakan dan menyakiti orang lain.
Diri pendorong merupakan beban bagi manusia. Ibarat seorang anak yang
pemabok yang selalu melakukan kekotoran dan memaksa ayahnya merapikan
bekas-bekas perbuatannya
Diri atau "aku" merupakan produk dari karunia Allah yang tak
terhingga, tetapi ini kemudian dikotori oleh ketertarikan kepada dunia
dan pemihakan kepada nafsu sendiri. Ini terjadi berkat pengaruh nafsu
hewan yang merupakan nafsu murni, terikat dengan nafsu dan menjadi
sifat hewan. Terjadi penyerapan sifat hina hewan, hingga perbedaan
yang tersisa antara manusia dengan hewan hanyalah bentuk luarnya.
Syaitan pun memperoleh kekuatan dari sini. Diri hina adalah musuh di
dalam diri kita; ia bersifat memaksa dan menjajah seperti diktator.
Selain itu, ia muncul dari tempat dan pada waktu yang tak terduga,
ketika kita mengira telah mengalahkannya, dan memaksa kita untuk
memenuhi kehendaknya. Hanya setelah semuanya berlalu, kita baru
menyadari apa yang terjadi.
Ahmad Sirhindi, seorang wali tersohor, berkata: "Dalam keadaan aktif,
diri hina berusaha untuk menjadi penguasa, menjadi pemimpin, dan lebih
besar dari sesamanya. Ia menghendaki agar semua makhluk tergantung
kepadanya dan agar mereka mematuhi perintah dan larangannya. Ia
menolak ketergantungan dan hutang kepada pihak lain. Ia mengaku
bersifat ilahi dan bersekutu dengan Allah. Tentu saja, diri yang
bersifat memaksa, mengerikan dan jauh dari kebahagiaan, tidak akan
tenang meski berpartner dengan Allah. Ia bahkan ingin mengalahkan
Allah dengan memperhamba segala yang ada. Oleh karena itu maka
perbuatan membantu dan membina diri-hina ini, musuh Allah ini, hingga
ia dapat mempertahankan kepemimpinan dan kekuasaan, merupakan
kebodohan dan bencana terbesar."
Makhluk menakutkan itu hanya dapat dijinakkan dengan pengendalian.
Berikan diri pendorong itu haknya, tetapi jangan biarkan ia
menikmatinya. Kata Abdulkadir Jailani, salah satu wali besar:
Hak-hak diri adalah makan, minum, pakaian, dan rumah, seperlunya.
Kenikmatan merupakan hal yang disukainya, nafsunya, dan keinginannya.
Berikan haknya menurut ukuran yang ditentukan di dalam syariat.
Berikan kepadanya apa-apa yang halal atau bersih, jangan sekali-sekali
memberinya barang haram atau kotor. Puaslah dengan yang sedikit,
asalkan halal. Biasakan dirimu dengan hal ini.
Bila kamu ingin kebebasan, lawanlah dirimu sebagai tanda kepatuhanmu
terhadap Tuhanmu. Jika dirimu cenderung mematuhi-Nya, setujuilah. Jika
cenderung terhadap dosa, lawanlah.
Jangan singkirkan tongkat perjuangan dari belakangmu. Jangan percaya
pada tipu dayanya. Ia akan pura-pura tertidur. Ketika binatang buas
itu pura-pura tidur atau kelelahan, kamu mungkin tidak memiliki
perlindungan. Ia selalu mencari kesempatan ketika ia tampak tidur atau
lelah. Begitulah sifat predator.
Diri adalah bagaikan predator. Ia beraksi ketika tampak mengantuk atau
tidur, namun ketika melihat kesempatan, ia beraksi. Di luar, tampaknya
diri itu patuh, taat, dan setuju dengan kebaikan; tetapi ia
menyembunyikan kebalikannya. Jadi, hati-hatilah ketika ia tampak
patuh.
Obati dirimu sendiri. Katakan: "Kebaikan apa pun yang kamu lakukan,
adalah demi kepentinganmu sendiri, dan keburukan yang kamu lakukan
adalah penderitaanmu. Apa pun yang kamu lakukan, baik atau buruk,
semua akan kembali kepadamu."
Berjuanglah melawan dirimu sendiri, karena Allah bersabda: "Siapa pun
yang berjuang di jalanku, Kami akan membimbingnya ke jalan yang lurus"
(29:69), dan juga: "Jika kamu menolong agama Allah, Ia akan
membantumu" (47:7).
Jangan beri kesempatan kepada dirimu, jangan penuhi tuntutannya. Hanya
dengan begitu kamu dapat menemukan keselamatan dan kebebasan. Jangan
sekali-sekali tersenyum kepadanya. Jika ia mengatakan seribu hal,
jawablah sekali saja, sampai kamu yakin bahwa kelakuannya membaik dan
tenang. Jika ia minta sesuatu untuk kesenangan, tangguhkan dengan
berkata: "Tunggu nanti di Sorga." Biasakan menyabarkan keinginan.
Jangan langsung turuti perkataannya, karena ini selalu cenderung
kepada keburukan. Sudah pasti, apa yang diinginkannya ialah agar kamu
melakukan keburukan. Kalau kamu terpaksa menjawabnya, katakan "Tidak".
Penolakan terhadap diri merupakan jalan menuju perbaikan.
Kesabaran di jalan ini mempunyai akhir. Kesabaran itu berbatas, namun
hasilnya tak terbatas.
----------
Masuk Perangkap Syaitan
----------
Syaitan adalah asas keburukan yang ada di dunia luar. Meskipun
merupakan asas yang abstrak, tetapi ia dipersonifikasikan karena
Al-Qur'an dan kitab-kitab suci sebelumnya menulis bahwa ia adalah
malaikat yang terkutuk karena selalu mencoba menipu manusia dari
tujuan baiknya, yaitu mencapai Surga dan persahabatan dengan Allah.
Tidak seperti agama-agama lain, syaitan dalam Islam tidak memiliki
kekuatan supranatural yang besar, dan kemampuannya terbatas pada
menipu mereka yang percaya kepada ajakan sesatnya. Karena itu, ia
disebut "Pembujuk" di dalam Al-Qur'an.
Salah satu siasat jitu syaitan ialah meyakinkan manusia bahwa ia tidak
ada. Dengan demikian, ia dapat bekerja pada orang yang tidak curiga,
dan melanjutkan pekerjaannya tanpa terganggu. Karena segala sesuatu
terlihat sebagai kebalikannya, penyangkalan keberadaan syaitan
mengakibatkan penyangkalan keberadaan kebaikan dan Allah. Jika titik
ini tercapai, orang terjebak dalam gejolak moral di mana baik tidak
dapat dibedakan dari buruk, sehingga tendensi untuk melakukan
keburukan meningkat, karena orang tidak menghalangi perbuatan itu.
Di dalam manusia, syaitan berkawan dengan diri hewan, diri yang selalu
mendorong keburukan. Jika orang mengikuti bujukan syaitan dan masuk ke
dalam perangkapnya, asas luar keburukan menjadi asas dalam. Derita
internal berubah menjadi derita eksternal.
Ketika seorang salik mencapai tingkatan diri pendorong yang demikian,
syaitan mendekatinya dan mencoba menyimpangkan jalannya,
memberondongnya dengan sugesti: "Untuk apa kamu berada di jalan itu?
Semua yang memasuki jalan itu telah mati. Hanya perkataan dan bukunya
saja yang tinggal. Aku tahu kamu hendak memasuki Jalur Kebenaran.
Tetapi siapa yang membimbingmu? Tunjukkan, mana orang-orang
berkemampuan tinggi itu, Pejuang dan Pengamat besar, yang mampu
membuat mu'jizat? Itu sudah berlalu. Kini, tak ada lagi seorang pun.
Hal terbaik bagimu ialah berpegang pada syariat, puas dengan itu, dan
minta bantuan dari para wali yang sudah meninggal."
Tipu daya merupakan esensi syaitan, dan di sini ia mencoba
menyembunyikan fakta ini. Manusia sempurna, mursyid yang guru yang
mumpuni, selalu ada pada segala zaman. Muhammad menggabungkan dua
aspek dalam dirinya: kenabian dan kewalian. Meskipun ia merupakan Nabi
Terakhir dan tidak akan ada lagi nabi, atribut kewalian (persahabatan
dengan Allah) akan terus berlangsung.
Jika salik mendengarkan nasihat syaitan, ia akan mengendorkan upaya
dan perjuangannya dalam jalur spiritual, semangatnya turun, dan rasa
takut dalam melanjutkan perjalannya akan muncul. Jika demikian,
syaitan akan datang dan berkata: "Allah selalu mengampuni. Ia
mencintai mereka yang melaksanakan Perintah untuk hal-hal yang
diperkenankanNya. Jangan kasari dirimu lagi. Perlakukan dengan lembut,
supaya ia menaatimu."
Perintah (ruhsah), lawan dari Larangan (azimah), merupakan paksaan
untuk melaksanakan pekerjaan yang halal. Jika salik melakukan ini,
pengertian mengenai apa yang halal dan apa yang haram mulai kacau, dan
akibatnya, ia mulai mendekati batas larangan. Ketika keraguannya
meningkat, kegelapan meliputi hatinya, dan akhirnya ia cenderung
kepada larangan.
Tetapi jika Allah datang untuk menolong, salik itu akan mampu melihat
bahwa kekacauan itu akibat ulah syaitan, dan berkata: "Mengejar
Perintah adalah pemalas. Berbuat demikian adalah bagi orang-orang
lemah. Sangat penting untuk berkelakuan seperti yang ditetapkan
syariat dan mursyid." Bila salik itu dapat melakukan ini, dirinya akan
meningkat ke tingkatan kedua, tingkatan Diri Kritis. Dari penjara diri
daging, ia lolos memasuki alam ruh ilahi. Akhirnya, kebanggannya
berubah menjadi kerendahan, kebenciannya menjadi cinta, kekasarannya
menjadi kelembutan, dan nafsunya menjadi kebajikan.
TINGKATAN 2: DIRI YANG KRITIS, MENCELA
Tingkatan kedua dari diri rasional disebut "kritis," "menyalahkan,
mencela, menyesali," atau "mencari jiwa," karena menyangkal perintah
jahat dan mencela diri sendiri. Beberapa sifat diri pendorong masih
ada pada tingkatan ini, tetapi sudah timbul kemampuan untuk membedakan
kebenaran dari keburukan. Diri ini gusar ketika menemukan sifat buruk
di dalamnya, tetapi tidak mampu menghilangkannya. Ia mencintai hukum
syariat dan guru spiritual, dan melakukan banyak amal, seperti shalat,
puasa, dan zakat. Tetapi, kemunafikaan tersembunyi masih bersamanya.
Pemilik diri ini ingin agar amal perbuatannya diketahui banyak orang.
Ia melakukannya demi Allah, dan juga untuk dipertontonkan. Namun ia
bosan dengan kebiasaan ini, dan tidak dapat menemukan ketenangan,
tetapi tidak dapat melepaskan diri dari keadaan ini.
Mereka pada tingkatan ini, atas pilihannya sendiri, memutuskan untuk
mematikan dirinya dan berada di sisi Allah, dan memasuki jalur
kematian atas kemauan sendiri sebelum kematian fisik merenggutnya.
Nabi bersabda: "matilah sebelum kamu mati," yaitu, bunuhlah dirimu
sendiri. Musa mengatakan hal yang sama kepada umatnya: "Bunuhlah
dirimu" (2:54). Yang dimaksud dengan "diri" di sini adalah ego-yaitu
pementingan diri. Sudah pasti, yang dimaksud di sini bukanlah bunuh
diri.
Salik harus terus berjalan tanpa berhenti di tingkatan ini, karena ada
bahaya besar dan kelelahan di tingkatan 2. Mereka yang berhenti di
sini tidak dapat menemukan ketenangan atau keselamatan.
Dua bahaya pada tingkatan ini ialah congkak dan amarah. Amarah
terbentuk dari api yang sama yang dipakai untuk membuat syaitan.
Ketika Aisyah, isterinya, marah, Nabi berkata: "Ini adalah api yang
disebut tempat syaitan."
Keadaan marah ini sangat berbahaya dan musuh terkutuk bagi pemiliknya.
Hakikat dari kebiasaan buruk ini adalah kecongkakan. Pengikisan
kecongkakan ini dari diri seseorang adalah pengobatan yang terbaik.
Amarah dan congkak dapat diobati dengan tiga cara:
1. Ketika congkak hilang, amarah akan hilang pula dengan sendirinya.
Selama penyebabnya masih ada, congkak tidak dapat dihilangkan.
Penyebab congkak adalah perut yang kenyang. Ini memperkuat congkak,
dan amarah mulai merusak tabiat. Karena itu, lapar dan kurang tidur
harus dibiasakan. Akar congkak harus dicabut dengan lapar.
2. Obat terbaik untuk penyebab amarah adalah berpikir bahwa diri kita
lemah, dan karena itu berpikir bahwa kita tak beralasan untuk
menyerang orang lain. Kita harus mengancam diri kita dengan buah
kemarahan yang pahit dan balasan Allah. Kebajikan, kasih sayang, dan
kelembutan itu perlu, tetapi mengatasi amarah itu lebih penting.
3. Bila anda berdiri ketika marah, duduklah; kalau anda duduk,
berdirilah. Jika mungkin, kerjakan wudhu, rebahkan badan menghadap ke
atas, dan baca doa ini: "Ya Allah, tambahlah pengetahuanku, hiasilah
aku dengan kelembutan, jadikan aku orang yang tunduk dan takut
kepada-Mu, berilah aku kesejahteraan dan kesehatan. Amiin."
Syaitan iri kepada salik, dan mencoba mencegah kehadiran Allah.
Akibatnya, orang itu tidak menyukai sesuatu pun atau takut kepada
siapa pun.
Syaitan membuat perbuatan seseorang tampak menyenangkan bagi orang
pada tingkatan ini, dan memasukkan perasaan mencintai diri sendiri.
Kemudian ia seolah-olah berpihak kepada kebenaran, dan berkata: "Kini
kamu sudah mempelajari segalanya. Mulai sekarang, kami tidak perlu
belajar lebih lanjut, atau mengikuti kelompok diskusi orang-orang
bijaksana dan berilmu, atau mendengarkan khotbah-khotbah. Biarlah
mereka itu menasihati dirinya sendiri; mereka hanya melaksanakan
sepersepuluh dari amal-amalmu!"
Hasil tipuan ini ialah, orang menjadi begitu terpedaya dan sama sekali
tak mau mendengarkan nasihat guru. Ia shalat menurut kehendaknya
sendiri, dan tenggelam di dalam gelapnya kebodohan.
Siasat dan tipuan merupakan senjata syaitan. Kalau bisa, ia ingin
menenggelamkan semua amal kita; dan jika tidak dapat, ia akan
menganjurkan amal yang lebih tinggi di dalam hati kita, begitu tinggi
sehingga kita tidak mampu menjalankannya. Ia mendukung amal itu dan
memaksa salik untuk melakukannya, sehingga dalam upaya untuk mencapai
tujuan yang lebih tinggi itu, salik meninggalkan amal-amal yang kecil.
Dengan demikian, ia kehilangan kedua-duanya.
Misalnya, syaitan menyarankan agar salik itu melakukan ibadah haji,
meskipun ia tidak mempunyai sarana yang memadai untuk melaksanakannya.
Salik itu merintis jalan tanpa atau hanya dengan sedikit persiapan,
dan menjadi melarat. Hatinya menjadi gelap, ia menunda-nunda
shalatnya, melakukan gosip, menyumpah, dan terlibat dalam berbagai
perbuatan buruk. Sementara ketika ia berhati cerah, bersikap manis di
rumah, memperlakukan dirinya dengan kelembutan dan menghargai orang
lain lebih tinggi dari dirinya sendiri, kini ia mulai menghujat orang
lain dan menganggap mereka rendah. Kelakuannya menjadi buruk, hatinya
gundah, dirinya tidak tenang, bernafsu dan senang mencari kesalahan
orang. Dengan demikian, upaya syaitan itu berhasil.
Jika Allah menyelamatkan dan melindunginya dari tipuan syaitan itu,
salik itu dapat dinaikkan ke tingkatan ketiga dengan tekun
melaksanakan tata cara syariat dan persyaratan sekolah mistik yang
diikuti.
TINGKATAN 3: DIRI YANG SADAR
Tingkatan ini disebut sadar (inspired) karena menerima inspirasi dari
Allah tanpa perantara. Meskipun lebih tinggi dari diri kritis, ini pun
merupakan tingkatan yang berbahaya dan memerlukan panduan mursyid yang
sudah tercerahkan. Kalau tidak, dikhawatirkan ia akan kembali ke
tingkatan sebelumnya.
Salik tersebut harus menceritakan semua keinginan dan kesalahannya
kepada pemandu ketika mereka berdua saja, dan tidak boleh
menyembunyikan sesuatu pun. Kalau pun ia ingin menyangkal atau
menentang gurunya, ia harus menceritakan semuanya tanpa ragu. Selama
keyakinannya pada gurunya tetap kuat, hatinya akan terlindung dari
kesalahan, dan pendakiannya dalam alam abadi akan aman. Jika ia dengan
sepenuh hati menaati gurunya, menceritakan semua pikirannya yang baik
maupun buruk, menaati nasihat dan petunjuk gurunya dan melaksanakannya
dengan rajin, dan puas dalam hatinya dengan gurunya, peningkatan
spiritualnya meningkat dan ia dapat lebih cepat mencapai tingkat
keempat.
Tingkatan ini, yang lebih tinggi dari dua tingkat sebelumnya, tidak
terlindung dari godaan syaitan dan ego. Pada tingkatan ini Allah juga
memberi petunjuk sehingga membingungkan.
Gangguan ego dan syaitan pada tingkat ini berpusat pada perenggangan
hubungan murid dan guru. Dalam bentuk petunjuk ilahi, mereka mencoba
menjelekkan guru dalam pandangan salik. Tetapi karena guru merupakan
cermin bagi orang, sifat yang tampak buruk yang terproyeksi pada guru
itu tak lain merupakan sifat dari salik itu sendiri. Pelampung
penyelamat yang harus dipegang salik dalam badai di laut ini ialah
syariat. Khususnya, shalat harus selalu dikerjakan dengan saksama
dalam rinciannya. Jika ini menimbulkan kecongkakan dan rasa superior
di dalam dirinya, ia tidak dapat naik ke tingkatan yang lebih dekat
dengan Allah, dan tetap tinggal di situ demi kebaikannya. Tetapi jika
ia sengaja meninggalkan shalat, ia akan dihukum dan dirampas
kenikmatan spiritualnya dalam shalat. Merupakan syarat dalam cinta,
seorang pecinta harus mematuhi kehendak Kekasihnya.
Dalam tingkatan ini, salik cenderung mengalami "kehilangan diri."
Salik lupa akan segala yang diketahuinya, ia melihat dengan salah,
keliru dalam memahami, dan keliru dalam banyak hal. Panca inderanya
mengantarkan pesan-pesan yang salah. Namun, hal ini tidak berkaitan
dengan "pemadaman dalam Allah" (fana fi-Allah) yang dialami pada
tingkatan terakhir sebelumnya, dan tidak boleh dikacaukan.
Syaitan masih berupaya keras dalam tingkatan ketiga ini. Dengan
berpura-pura memihak kebenaran, ia berkata: "Kini kamu telah melihat,
mendengar dan mengerti semuanya. Kamu sudah menjadi guru. Untuk apa
kamu masih saja melakukan amalan yang berat itu? Mulai sekarang,
tinggalkan shalat dan pekerjaan yang tampak dari luar. Manfaatkan
waktumu dengan shalat hati, dengan konsentrasi dan kontemplasi
(pikirkan Allah dan upayakan untuk melihat-Nya). Itu lebih penting
daripada shalat fisik."
Jika salik terbawa oleh bujukan itu dan meninggalkan shalat serta
perjuangannya, hatinya mulai gelap dan syaitan berkuasa lagi atas
dirinya. Syaitan mendekat dan berkata: "Kamu adalah kebenaran dari
Tuhanmu, dan Ia adalah kebenaranmu. Kini kamu menjadi seorang wali.
Segala kewajiban dan larangan kepada hamba tidak lagi berlaku bagimu.
Karena itu, kamu dapat melakukan apa pun yang kamu sukai. Segalanya
diperbolehkan bagimu. Kamu tidak akan diminta bertanggung jawab."
Ini merupakan tipuan syaitan yang paling jahat, karena segala sesuatu
tidak diperkenankan selama seseorang menyangkal Allah.
Jika hal ini terjadi, tabir kegelapan menutupi penglihatan fisik dan
spiritual si salik sedemikian rupa hingga ia sepenuhnya tidak mampu
lagi melihat kebenaran. Ia tidak ragu-ragu lagi melakukan kejahatan,
seperti mencuri, berdusta, berzina, atau minum. Keyakinannya rusak. Ia
tidak lagi takut kepada Allah. Ia menjadi permainan syaitan,
mengesampingkan Allah, dan menjadikan syaitan pemimpinnya. Ini
merupakan akhir cerita buruk bagi mereka yang mengikuti perkataan
syaitan.
Jika karunia Allah menyelamatkan salik itu, jika ia tetap teguh
menjalankan shalat dan berjuang dengan cinta dan sabar, ia naik ke
tingkatan 4.
TINGKATAN 4: DIRI YANG PUAS
Diri manusia atau rasional (bicara/berpikir) dalam tingkatan ke-4
adalah puas, hatinya tenang, dan kesedihannya hilang oleh sabda Allah.
Pada tingkatan ini salik tak sedikit pun menyimpang dari syariat. Ia
menikmati dalam menjalankan perbuatan moral Nabi, hatinya puas dalam
mengikuti contoh perbuatan dan kelakuan. Segala kata-katanya serasi
dengan Al Qur'an dan Hadits. Orang yang mendengarkan perkataannya
tidak merasa bosan, karena kebenaran dan kehalusan telah dicurahkan
Allah ke dalam hatinya menjadi hidup di dalam perkataannya. Ia
mencerahkan orang-orang di sekelilingnya, dan mengisi sebagian besar
waktu hidupnya dengan shalat dan dzikir. Ia telah memiliki sifat-sifat
yang baik, menjadi dermawan, suka menolong percaya pada Allah, pasrah,
sabar, berpengharapan, jujur, lembut hati, ceria, bersyukur,
menyembunyikan aib orang lain, pemaaf, dan riang hati. Ia tidak peduli
dengan kemampuan paranormal yang tumbuh pada dirinya, dan mengikatkan
diri pada Allah yang merupakan sumber sejati dari fenomena ini. Ia
tahu bahwa kecenderungan kepada kemampuan ini adalah memalukan dan
menyesatkan. Manusia sempurna tidak tahu adanya kemampuan spiritual
yang muncul pada dirinya, dan kalau pun tahu, mereka menganggapnya
tidak penting; mereka mencoba menyembunyikannya, tidak
memberitahukannya kepada siapapun.
Karena manusia sempurna benar-benar mencintai Allah, semua pikiran
yang tidak sesuai dengan syariat dianggapnya salah. Mereka telah
menemukan persepsi internal bahwa mengacau dunia luar merupakan dosa.
Setiap aturan eksternal di dalam syariat mempunyai rahasia, yaitu
pasangannya yang bersifat internal. Mereka yang tidak memegang dengan
pengertian yang jelas, mereka tidak dapat menjadi orang suci atau
manusia sempurna. Nilai tersembunyi di dalam syariat tertutup darinya,
dan ia dapat menjadi kafir atau sesat.
Setelah perjuangan keras, salik dalam tingkatan 4 ini akhirnya dapat
mengalahkan syaitan. Ia taat kepada Perintah-perintah Allah dan Sunnah
Nabi dalam setiap gerakan dan perbuatan. Keduanya itu merupakan
pelampung penyelamat di lautan yang penuh rintangan. Maka salik yang
mencapai tingkatan telah benar-benar mengalahkan syaitan, dan
bahaya-bahaya yang ada pada tingkatan-tingkatan sebelumnya tidak ada
lagi pada tingkatan ini. Mulai sekarang langkat untuk menuju tingkatan
yang lebih tinggi akan lebih mudah. Al Qur'an menggaris bawahi dengan
ayat: "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhamu, kamu puas
dengan Dia dan Dia ridha kepadamu" (89:27-28).
Syaitan tidak dapat mendekati orang dari tingkat kematangan seperti
ini, dan kalau pun bisa, ia tak dapat mencapai hatinya atau menariknya
keluar dari jalur. Ketika syaitan mendekati guru besar Abdulkadir
Jailani dan berkata: "Abdulkadir, Aku ini Tuhanmu. Kini aku halalkan
apa yang dulu aku haramkan bagimu. Lakukan apa yang kamu inginkan,"
beliau menjawab: "Kamu bohong. Kamu adalah syaitan. Allah tidak pernah
ingin agar Larangan-Nya dikerjakan, dan tak akan memerintahkan siapa
pun untuk melakukannya."
TINGKATAN 5: DIRI YANG PUAS
Diri manusia pada tingkatan ke 5 disebut diri yang puas karena telah
mencapai kepuasan yang matang dalam semua aspek, ia tetap puas dengan
Allah walau apa pun yang terjadi. Sifat diri pada tingkatan ini ialah:
menghindari Larangan, mencintai dengan hati yang murni, damai,
berkemampuan spiritual, pasrah, meninggalkan dan melupakan segala
sesuatu kecuali Allah. Ia menerima kejadian apa pun di dunia ini
dengan tenang, tanpa protes. Karena ia telah mampu mengendalukan
dirinya sendiri, ia tidak mendekati hal-hal terlarang. Allah tidak
pernah menolak doanya dan selalu menerimanya. Tetapi sifat malu dan
kerendahannya membuatnya tidak berdoa; ia malu untuk meminta sesuatu
dari Allah. Ia hanya berdoa hanya kalau terpaksa, dan tentu saja
doanya dikabulkan. Ia dikaruniai penglihatan Allah. Ia didudukkan di
suatu singgasana di dunia dalam sedemikian hingga dunia luar siap
menjalankan perintahnya.
TINGKATAN 6: DIRI YANG DIRIDHAI
Diri rasional pada tingkatan ketiga dibuat diri yang diridhai karena
Allah senang (ridho) dengannya. Orang pada eselon ini menyandang
moralitas Allah. Ia telah meninggalkan keinginan manusia dan menjadi
arif. Ia mengampuni kesalahan orang lain, menyembunyikan aib orang,
dan selalu berpikir positif. Ia baik hati, dermawan dan menyayangi
orang. He mencintai dan berpihak kepada manusia, berusaha
menyelamatkan mereka dari penjara alam dan kegelapan ego, ke dalam
cahaya ruh. Kecintaannya semata-mata demi Allah, dan karena itu sangat
berharga. Diri yang diridhai menggabungkan cinta makhluk dan cinta
Allah.
Salik pada tingkatan ini bersikap moderat dalam segala perbuatannya.
Ia tidak melebih-lebihkan, dan tidak mengurangkan. Sikap hidup ini
tampaknya mudah, tetapi sangat sulit untuk dilaksanakan. Semua orang
ingin memiliki sifat ini, tetapi hanya sedikit yang mampu karena
memang sangat sulit untuk dipertahankan. Ini merupakan karunia dan
berkah khusus bagi orang-orang di tingkatan diri ini.
Bagi orang yang matang pada tingkatan 6, tanda awal kekuasaan yang
besar mulai tampak. Pada akhir proses ini, ia memakai pakaian
kebesaran dari tingkatan ini. Hamba itu tahu semua rahasia halus
melalui pengetahuan yang diberikan Tuhannya. Allah memberitahukan
rahasia itu kepada hambaNya dengan: "Aku mengajarkan kepada Adam nama
semua benda." Ada rahasia-rahasia yang berkaitan dengan tingkatan ini
yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Tidak mungkin bagi
orang yang tidak berada di tingkatan ini untuk memahaminya, karena
mereka tidak mempunyai korelasi dalam dunia fisik yang dapat dijadikan
perbandingan.
TINGKATAN 7: DIRI YANG SEMPURNA, SUCI, LENGKAP
Diri manusia yang naik ke tingkatan 7 disebut diri yang sempurna
karena telah mencapai puncak kematangan, dan diri yang suci karena
telah sepenuhnya disucikan. Salik dapat mencapai tingkatan 6 dengan
perjuangan, tetapi tingkatan 7 hanya dianugerahkan kepada mereka yang
dipilih Allah.
Tingkatan 7 ini merupakan yang tertinggi. Kerajaan Allah (Kerajaan
yang disebut Nabi Isa sebagai di dalam dirimu) telah mencapai
kesempurnaan, dan perjuangan telah selesai. Pertapaan dan penekanan
diri tidak diperlukan lagi, cukup baginya untuk melakukan perbuatan
yang moderat dalam semua hal. Pemilik tingkatan ini tidak lagi
mempunyai kehendak karena seluruh anugerah sudah diserahkan kepadanya.
Namun, ia masih terus mengharap ridho Allah.
Tindakan-tindakan being pada tingkatan ini semuanya berupa kebaikan
dan penyembahan Allah. Napasnya merupakan kekuatan dan keindahan.
Perkataannya yang lembut merupakan pengetahuan dan kebijaksanaan,
kebaikan dan caahaya. Wajahya yang diberkati memancarkan kedamaian dan
ketenangan.
Orang pada tingkatan ini selalu menyembah Allah, dan tak pernah
meninggalkannya sesaatpun. Ia menyembah dengan semua organ tubuhnya,
dengan lidah, tangan dan kaki atau hanya dengan hatinya, dan tidak
pernah melalaikan Tuhannya.
Orang yang demikian sering sekali beristighfar. Ia sangat merendah.
Kecenderungan orang kepada Allah sangat menggembirakannya. Ia sedih
dan tersinggung jika mereka melalaikan Allah. Ia mencintai mereka yang
cenderung kepada Allah, lebih dari cintanya kepada anak-anaknya
sendiri. Baik cinta maupun kemarahannya semata-mata karena Allah. Apa
pun yang dilakukannya adalah benar. Ia bertindak adil dalam segala
hal. Kehendak-kehendaknya selalu sesuai dengan kehendak Allah.
MENGATASI MASALAH DUNIA
Kewalian, peningkatan ke tingkatan diri yang lebih tinggi, merupakan
pekerjaan yang berat. Ini merupakan tantangan tetapi juga merupakan
janji. Ini merupakan tantangan yang hanya dapat dipenuhi oleh
orang-orang yang paling tekun. Ini merupakan janji yang tak seorang
pun akan dikecewakan dengan alasan apapun. Sebagai manusia, anda sudah
memenuhi syarat untuk ikut melamar. Satu-satunya penghalang adalah
tiadanya upaya dan perjuangan dari anda.
Tentu tidak semua dari kita dapat mencapai tingkatan yang tertinggi,
namun cukuplah bagi kita semua untuk berjuang sebisa mungkin melawan
diri-hina kita. Tidak peduli seberapa jauh kita dapat maju, kita akan
mendapatkan kebaikan bagi kita sendiri, dan bagi masyarakat.
Penjelasan di atas hanya merupakan ikhtisar dan petunjuk umum untuk
memahami Kitab Alam semesta. Mengalami sendiri realita dari penjelasan
tersebut merupakan hal lain. Allah Yang Maha Perkasa telah bersabda
kepada manusia di dalam Al Qur'an bahwa masih banyak tanda-tanda di
dalam setiap benda yang tampak. Sesungguhnya setiap kata yang
diucapkan seseorang mempunyai makna yang berbeda bila didahului atau
diikuti dengan kata tertentu. Serupa dengan itu, terdapat rahasia di
dalam setiap benda atau kejadian, dan masing-masing tampak berbeda
bagi tiap manusia. Pemahaman langsung terhadap hal ini sangat sulit,
dan jarang. Allah hanya membuka rahasia itu hamba-Nya yang bijak yang
tahu akan dirinya sendiri, dan menyembunyikannya dari hambanya yang
bodoh.
Bukankah buku yang anda baca ini, serupa? Orang berilmu yang
membacanya akan mudah memahami maknanya, tetapi orang yang bodoh sulit
atau tidak bisa memahaminya, dan hanya bisa melihat baris-baris yang
tertulis.
Alam semesta mirip dengan itu, tetapi membaca dan memahami Kitab Alam
Semesta jauh lebih sulit daripada membaca buku ini. Buku Alam Semesta
yang sangat besar itu bukan bacaan sembarang orang.
-ooo-
sumber:
http://home.att.net/~nungan/sufism/
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)