AWW
terima kasih Sdr. Agus
Isinya menyentuh dan bisa dijadikan cermin, bagaimana Kang Sejo sebenarnya
saya tidak tahu apakah itu suatu figur yang diciptakan Sang Guru ketika
mengajari muridnya, atau Kang sejo sendiri dengan kesadarannya memfigurkan
dirinya seperti itu dalam "mengajar murid-muridnya" agar cepat paham disini
tentunya dituntut ke-piawaian sang murid juga.
Saya jadi bertanya ke diri sendiri; apalah artinya doa yang terucap? Apalah
artinya berbait doa yang terucap kalau sekedar dalam ucapan? Tentunya tak
beda dengan burung beo yang diajari puluhan doa dandiajari untuk fasih
mengucapkannya. Nggak beda pula dengan kaset kosong yang kemudian kita isi
dengan suara doa kemudian di-"play" lagi nantinya akan terdengar juga
lantunan doa dengan sefasi-fasihnya ucapan. Tapi apa iya manusia seperti
itu.
Yang saya butuhkan adalah kesadaran dan ke-"pahaman" terhadap doa yang
terucap sehingga bisa mentransformasi seorang diri manusia secara
keseluruhan. Bukan hanya gerak bibir yang terdengar ditelinga, melainkan
menyatu dalam gerak, pikiran, niat, kehendak, rasa, sampai kepada bersitan
yang paling halus yang ada dalam diri manusia.
Kang Sejo menyantap hidangan yang hadir dihadapannya dengan
sesadar-sadarnya. mengunyah dengan perlahan sampai harus betul, menelan
sedikit-demi sedikit sehingga ususnya bisa menyerap dengan optimal, sehingga
meskipun sedikit makananya tetapi dapat menghidupkan dan menyegarkan. Lha
saya ini kadang makanan berlimpah di meja kadang sedikit, langsung kunyah
dan telan tanpa pilih-pilih akibatnya usus kurang bisa nyerap ya langsung
saja dibuang. nggak jarang pula makanan yang saya telan malah menyakitkan
karena nggak cocok.
maaf kalau ngalor-ngidul.
Tks
Was.
-----Original Message-----
From: Agus Haryono <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 30 Juni 1999 19:42
Subject: [Tasawuf] Kang Sejo
>Assalamu'alaikum wr.wb.
>
>Maaf posting saya sebelumnya ternyata tidak muncul. Sekarang saya
>kirimkan lagi.
>Rekan-rekan milis yang berbahagia, saya membaca buku yang salah satu
>isinya membuat saya tertarik.
>Saya coba kirimkan ke mailist ini untuk berbagi cerita, mudah-mudahan
>ada yang berkenan terhadap tulisan ini. Dan mohon maaf bila kurang/tidak
>berkenan di hati rekan-rekan.
>Isi tulisan itu berupa cerita pengalaman pengarang dengan tukang pijit
>tunanetra.
>
>Judulnya " Kang Sejo melihat Tuhan"
>
>Kang Sejo pendek doanya.. Bahasa Arab ia tak tahu. Doanya bahasa Jawa:
>Gusti Allah ora sare (Allah tak pernah tidur): potongan ayat Kursi itu.
>Zikir ia kuat. Soal ruwet apapun yang dihadapi, wiridnya satu: "Duh,
>Gusti, Engkau yang tak pernah tidur ..." cuma itu.
>"Memang sederhana, wong hidup ini pun dasarnya juga sederhana," katanya,
>sambil memijit saya.
>Saya tertarik cara hidupnya. Saya belajar. Guru saya ya orang macam ini,
>antara lain. Rumahnya di Klender. Kantornya, panti pijat itu, di sekitar
>Blok M. Ketika saya tanya, apa yang dilakukannya di sela memijit, dia
>bilang, "Zikir Duh, Gusti ..." Di rumah, di jalan, di tempat kerja, di
>manapun, doanyaya Duh, Gusti ... itu. Satu tapi jelas di tangan.
>"Berapa kali Duh Gusti dalam sehari?" tanya saya.
>"Tidak saya hitung."
>"Lho, apa tak ada aturannya ? Para santri kan dituntun kiai, baca ini
>sekian ribu, itu sekian ribu," kata saya.
>"Monggo mawon (ya, terserah saja)," jawabnya. "Tuhan memberi kita rezeki
>tanpa hitungan, kok. Jadi, ibadah pun tanpa hitungan."
>"Sampeyan itu seperti wali, lo, Kang," saya memuji.
>"Monggo mawon. Ning (tapi) wali murid." Dia lalu ketawa.
>Diam-diam ia sudah naik haji. Langganan lama, seorang pejabat,
>mentraktirnyake Tanah Suci tiga tahun yang lalu.
>"Senang sampeyan, Kang, sudah naik haji?"
>"Itu kan rezeki. Dan rezeki datang dari sumber yang tak terduga,"
>katanya.
>"Ayat menyebutkan itu, Kang."
>"Monggo mawon. Saya tidak tahu."
>Ketularan bau Arab, saya tanya kenapa doanya bahasa Jawa.
>"Apa Tuhan tahunya cuma bahasa Arab."
>"Kalau sampeyan Dah Duh Gusti di bis apa penumpang lain ..."
>"Dalam hati, Mas. Tak perlu diucapkan."
>Ia, konon, pernah menolak zakat dari seorang tetangganya. Karena
>disodor-sodori, ia menyebut, "Duh, Gusti, ang tak pernah tidur...."
>Pemberi zakat itu, entah bagaimana, ketakutan. Ia mengaku uang itu
>memang kurang halal. Ia minta maaf.
>"Mengapa sampeyan tahu uang zakat itu haram?" tanya saya.
>"Rumah saya tiba-tiba panas. Panaaaas sekali."
>"Kok sampeyan tahu panas itu akibat si uang haram?"
>"Gusti Allah ora sare, Mas," jawabnya.
>Ya, saya mengerti, Kang Sejo. Ibarat berjalan,kau telah sampai. Dalam
>kegelapan matamu kau telah melihat-Nya. Dan aku? Aku masih dalam taraf
>terpesona. Terus-menerus.
>
>Wassalamu 'alaikum wr.wb.
>
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)