Assalamu'alaikum wr wb,
Kang Sejo..... kang Sejo..... bejo temen uripmu kang!
Kang Sejo adalah sebuah cermin kehidupan. Ia adalah orang yang jujur,
lugu, polos, apa adanya, mau menerima kenyataan hidup dengan besar hati,
tidak neko-neko walau terkesan apatis atau mungkin cuek.
Ia selalu meletakkan segala urusan di atas telapak tangan Tuhan, yang
ia yakini betul bahwa Gusti Allah ora sare.... (Allahu wa laa naum)
Orang yang begini ini biasanya mulus sekali jalannya untuk menggapai
tangan Ilahi.
Lain halnya dengan orang yang suka muluk-muluk, banyak berteori,
berfilsafat,
tapi tidak realistis, jalannya biasanya agak sulit dan ruwet. Paling tidak
akan
terjadi 'inner-conflict' berantai yang meng-interferensi suara hatinya
sendiri.
Wallahu a'lam bishowab,
Wassalamu'alaikum wr wb,
Wargino
Agus Haryono ([EMAIL PROTECTED]) on 07/02/99 03:18:22PM
Judulnya " Kang Sejo melihat Tuhan"
Kang Sejo pendek doanya.. Bahasa Arab ia tak tahu. Doanya bahasa Jawa:
Gusti Allah ora sare (Allah tak pernah tidur): potongan ayat Kursi itu.
Zikir ia kuat. Soal ruwet apapun yang dihadapi, wiridnya satu: "Duh,
Gusti, Engkau yang tak pernah tidur ..." cuma itu.
"Memang sederhana, wong hidup ini pun dasarnya juga sederhana," katanya,
sambil memijit saya.
Saya tertarik cara hidupnya. Saya belajar. Guru saya ya orang macam ini,
antara lain. Rumahnya di Klender. Kantornya, panti pijat itu, di sekitar
Blok M. Ketika saya tanya, apa yang dilakukannya di sela memijit, dia
bilang, "Zikir Duh, Gusti ..." Di rumah, di jalan, di tempat kerja, di
manapun, doanyaya Duh, Gusti ... itu. Satu tapi jelas di tangan.
"Berapa kali Duh Gusti dalam sehari?" tanya saya.
"Tidak saya hitung."
"Lho, apa tak ada aturannya ? Para santri kan dituntun kiai, baca ini
sekian ribu, itu sekian ribu," kata saya.
"Monggo mawon (ya, terserah saja)," jawabnya. "Tuhan memberi kita rezeki
tanpa hitungan, kok. Jadi, ibadah pun tanpa hitungan."
"Sampeyan itu seperti wali, lo, Kang," saya memuji.
"Monggo mawon. Ning (tapi) wali murid." Dia lalu ketawa.
Diam-diam ia sudah naik haji. Langganan lama, seorang pejabat,
mentraktirnyake Tanah Suci tiga tahun yang lalu.
"Senang sampeyan, Kang, sudah naik haji?"
"Itu kan rezeki. Dan rezeki datang dari sumber yang tak terduga,"
katanya.
"Ayat menyebutkan itu, Kang."
"Monggo mawon. Saya tidak tahu."
Ketularan bau Arab, saya tanya kenapa doanya bahasa Jawa.
"Apa Tuhan tahunya cuma bahasa Arab."
"Kalau sampeyan Dah Duh Gusti di bis apa penumpang lain ..."
"Dalam hati, Mas. Tak perlu diucapkan."
Ia, konon, pernah menolak zakat dari seorang tetangganya. Karena
disodor-sodori, ia menyebut, "Duh, Gusti, ang tak pernah tidur...."
Pemberi zakat itu, entah bagaimana, ketakutan. Ia mengaku uang itu
memang kurang halal. Ia minta maaf.
"Mengapa sampeyan tahu uang zakat itu haram?" tanya saya.
"Rumah saya tiba-tiba panas. Panaaaas sekali."
"Kok sampeyan tahu panas itu akibat si uang haram?"
"Gusti Allah ora sare, Mas," jawabnya.
Ya, saya mengerti, Kang Sejo. Ibarat berjalan,kau telah sampai. Dalam
kegelapan matamu kau telah melihat-Nya. Dan aku? Aku masih dalam taraf
terpesona. Terus-menerus.
Wassalamu 'alaikum wr.wb.
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)