Assalamu'alaikum wr wb,
Rekan-rekan mungkin masih ingat tulisan Henry Bayman yang diterje-
mahkan pak Sunarman beberapa minggu yang lalu?

Saya tertarik pada kisah orang gila yang mengatakan Allah telah mati.
Kalau dirasakan (menurut saya) ilustrasi ini menarik sekali dan
merefleksikan kondisi hati manusia yang kehilangan cahaya Ilahi.

Berikut ini saya kutipkan kembali beberapa paragraf dari kisah itu:
----------------
Formula "Allah telah mati" muncul dalam "Thus Spoke Zarathustra,"
tetapi ia muncul pertama kali pada bagian 108 dalam "The Joyous
Science" (1882), yang ditulis dua tahun sebelum Zarathustra dalam masa
positivis yang disebut Nietzsche. Bukan hanya Allah telah mati,
katanya, tetapi kita bahkan harus melenyapkan bayangannya dari pikiran
kita. Kemudian muncul slogan yang mengagungkan sains dan pandangan
dunia yang naturalistik. Kemudian, tiba-tiba, konsep itu dibeberkan
dalam Bagian 125 di bawah judul "the Madman." The madman itu adalah
Nietzsche sendiri, yang memerankannya dalam citra Diogenes yang baru.
Berikut ini ringkasannya.

Tidakkah engkau mendengar orang gila yang menyalakan lentera dalam
kebenderangan pagi, berlari ke pasar dan berteriak berulang-ulang:
"Aku mencari Allah! Aku mencari Allah!"...

"Orang gila itu melompat ke tengah-tengah mereka dan membelah mereka
dengan matanya. 'Mana Allah?' ia berteriak; 'Aku akan memberitahumu.
Kita telah membunuhnya, engkau dan aku. Kita semua adalah pembunuhnya.
Tetapi bagaimana kita melakukannya? Bagaimana kita dapat mengeringkan
laut? Siapa yang dapat memberi kita spons untuk menghapus seluruh
cakrawala? Apa yang kita lakukan jika kita memisahkan [kaitan] bumi
dari mataharinya? Ke mana ia dipindahkan? Ke mana kita akan pindah?
Jauh dari semua matahari?'"

Orang gila itu bertanya yang bermakna bahwa: kita terus-menerus jatuh,
ke belakang, ke samping, ke depan, ke semua jurusan. Tiada lagi naik
atau turun. Kita berkelana di ketiadaan tanpa batas. Kita merasakan
napas ruang hampa; menjadi lebih dingin. Malam selalu menutup di dalam
kita, kita memerlukan lentera di pagi hari. Kemudian:

"Allah telah mati. Allah tetap mati. Dan kita telah membunuhnya."

"Bagaimana kita menenangkan diri kita sendiri, pembunuh dari segala
pembunuh? Apa yang paling suci dan paling perkasa dari segalanya, yang
telah dimiliki dunia, telah disembelih mati dengan pisau kita: siapa
yang akan menyeka darah itu dari kita? Air apa yang ada untuk
membersihkan diri kita?... Bukankah kebesaran perbuatan ini terlalu
besar bagi kita? Haruskah kita sendiri tidak menjadi tuhan semata-mata
agar tampak pantas?..."

"Di sini orang gila itu terdiam dan melihat lagi ke arah
pendengarnya... 'Aku datang terlalu awal,' Ia kemudian berkata:
'Waktuku belum sampai. Peristiwa besar ini masih terus berlangsung,
masih berjalan; masih belum mencapai telinga manusia. Kilat dan guntur
memerlukan waktu; sinar bintang perlu waktu; perbuatan, meskipun telah
dilakukan, masih memerlukan waktu untuk dilihat dan didengar.
Perbuatan ini masih lebih jauh dari mereka dari pada bintang-bintang
yang terjauh, namun mereka telah melakukannya sendiri.'"

-------------

Yang menjadi pertanyaan adalah, benarkah Allah telah mati?
Pertanyaan ini tentu tidak memerlukan jawaban secara langsung.
Karena pernyataan itu bukan merupakan pertanyaan yang harus dijawab
tapi lebih mengarah pada seruan untuk introspeksi diri.

Kenyataan membuktikan bahwa banyaknya orang yang tidak perduli atau
bahkan tidak mengenal Allah itu karena memang Allah telah mati dalam
hati mereka. Tentu hal ini karena beberapa faktor baik individu itu
sendiri, keluarga, maupun lingkungan sosialnya.

Beberapa ibadah ritual yang diajarkan Allah melalui RasulNya, tidak
lain adalah Rahmat Allah kepada umatnya untuk menyalakan cahaya dalam
hati yang gelap gulita.

Firman Allah QS2:257 "Allah Pelindung orang-orang yang beriman;
Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya
(iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah
syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan
Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Marilah kita melihat kedalam, bagaimana 'hidupnya' Allah dalam
diri kita?
Kalau Al-Maududi melihat hal ini secara panjang lebar menguraikan
kondisi iman dalam hati manusia ibarat pohon. Ada pohon yang akarnya
menghujam ketanah, subur, kokoh, rindang, buahnya manis, tak kan
tumbang diterpa angin puyuh sekalipun. Namun ada juga pohon yang
akarnya hanya di permukaan tanah, kurus-kering, tidak subur, mudah
tercabut dengan sedikit angin saja, buahnya asam pahit atau bahkan
beracun.

Ibarat yang di ambil Al-Maududi itu di ambil dari firman
Allah QS.14:24-27):

*24.Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat
perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya
teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,

*25.pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin
Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan  itu  untuk
manusia supaya mereka selalu ingat.

*26.Dan  perumpamaan  kalimat  yang buruk seperti pohon yang
buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan
bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.

*27.Allah  meneguhkan (iman)  orang-orang yang beriman dengan
ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di
akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan
memperbuat apa yang Dia kehendaki.

Maha benar Allah dengan segala firmanNya,

Wassalamu'alaikum wr wb,
Wargino




---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke