Assalaamu'alaykum ww. [Mohon maaf kalau posting-posting saya seringkali tidak menggunakan fasilitas "reply" dan suka menggabung-gabungkan kutipan posting dari "thread" yang berbeda-beda. Untuk mas administrator, mohon maklum. Ini hanya untuk efisiensi dan karena ketidakmampuan saya untuk "ber-multi processor".] R. Sunarman wrote: >[Mudah-mudahan tidak ada rekan yang tersinggung dengan perkataan saya, tetapi, maaf, >saya sudah berusaha memperhalusnya] Aaah...:-) Setahu saya, tulisan-tulisan bapak tidak pernah bertendensi untuk menyinggung perasaan seseorang pun. Kalau mau jujur, posting saya malah sering rada "gombal" untuk menarik perhatian anda dan pakar-pakar lain......supaya.....dapat kucuran ilmu. Terima kasih. R. Sunarman wrote: >Kalaupun ada [dan pasti ada] orang yang menganggap perilaku Kang Sejo itu bid'ah, >marilah kita terima sebagai suatu realita yang sesuai dengan hukum alam atau >Sunnatullah. Merupakan realita bahwa kebanyakan orang [dijadikan] lebih mementingkan >bentuk atau wadah daripada isi, dan kita semua perlu memahami, bukan memusuhi >orang-orang yang berpandangan lain. Kita perlu maklum, lha wong Nabi mengajarkan doa >dalam bahasa Arab kok berani-beraninya Kang Sejo itu pakai bahasanya sendiri; >apalagi, sementara hadits menganjurkan zikir dalam bilangan tertentu, kok >nekad-nekadnya ia berzikir tanpa dihitung, dan mungkin masih banyak lagi bid'ah lain >yang dilakukan Kang Sejo. Ya memang demikianlah adanya. Malahan bukan sekedar bid'ah tetapi lebih serem daripada itu sehingga mendengar tasawuf pun alergi. (Ha..ha...ha..kalau mas Ali Abidin alergi dengan istilah bid'ah yang diucapkan sembarangan, ternyata ada juga yang alergi dengan istilah tasawuf.) Pak Drs. H, Abdul Qadir Jaelani dalam buku yang dikutip oleh seorang rekan pada jalur milis lain malah mengatakan bahwa paham-paham tasawuf tidak berasal dari Islam, melainkan hasil pengaruh ajaran Kristen, Hindu, Budha, dan yang lain-lain. Akan tetapi, pak Simuh pernah menulis bahwa tanpa pengaruh-pengaruh itu pun, tasawuf tetap akan bisa muncul dengan sendirinya dari tubuh Islam karena Al Qur'an banyak mengisyaratkan hal tersebut. R. Sunarman wrote: >Permasalahan timbul ketika arus informasi menjadi sulit dibatasi seperti pada era >masa kini. Orang yang berbisik-bisik di balik pintu pun dapat disadap orang lain >melalui internet, dan dapat dengan mudah sampai kepada 'anak-anak'. Jangankan di era sekarang yang "information overflow", menurut saya, kasus-kasus miring sudah terjadi sejak jaman baheula, jauh sebelum internet masuk ke kamar tidur kita. Akan tetapi, lha wong namanya "anak-anak" (persis seperti saya ini contohnya). Saya ingat, ketika masih kecil, saya bersusah payah berusaha mengambil buku berjudul "Every Woman" yang disimpan ayah saya di rak bukunya yang paling atas. Dengan dada yang berdegub-degub saya buka buku itu, eh ternyata isinya tentang kesehatan wanita, terutama kehamilan. Saya kirain...apa. Sekarang, ketika istri saya hamil, buku itu berguna untuk menambah pengetahuan kami. R. Sunarman wrote: >Ini merupakan permasalahan kita bersama untuk dipecahkan menurut tingkat perkembangan >kecerdasan yang telah kita capai saat ini. Dan Kang Sejo perlu lebih arif dari >sebelumnya. Yap...! Setuju. Tapi bagaimana ya...? Dewi Hayu K wrote: > Tolong Pak Sunarman dan Abah Hilmy menceritakan pengalamannya. Ditunggu.... Plus pak Wargino juga dong...? :-) R. Sunarman wrote: > Maaf, untuk bercerita di alun-alun, saya keberatan. Takut, sebagai akibatnya, saya >tidak dapat mengendalikan hasrat untuk membanggakan diri [meskipun salam hati] jika >sudah berhadapan dengan orang banyak. Waah...Tetapi paling tidak anda bisa menyampaikan pada kami hikmah (hakikat) dari suatu amalan ibadah sehingga kita semakin bertambahlah pengetahuan dan semakin memperkaya khazanah ke-spiritual-an kita. Seperti yang telah bapak berikan sedikit rahasia pada kami berikut ini: R. Sunarman wrote: >Saya ingin menyampaikan informasi yang saya peroleh dari seorang sufi yang lumayan >tingkatannya. >Dalam shalat apapun, tidak terbatas shalat Jum'at, kita dianjurkan untuk berjamaah. >Makin banyak, makin baik. Bilangan 40 merupakan bilangan minimum dengan asumsi bahwa >semuanya orang awam. Jika ada anggota jamaah yang cukup 'ampuh' maka bilangan itu >dapat saja dikurangi, tetapi tentu saja perhitungan matematika tak berfungsi di sini. >Bilangan 40 itu dimaksudkan untuk mengumpulkan jumlah energi yang cukup untuk >menimbulkan gaya kumulatif yang, bila dibangkitkan secara teratur, mampu membuka >hijab-hijab yang menutupi hati para anggota jamaah. >Jadi, bila seseorang mengandalkan shalat sebagai upaya tunggal untuk mendekatkan diri >kepada Allah, hendaklah ia sebanyak mungkin shalat berjamaah di masjid yang minimum >diikuti 40 orang, atau mengusahakan untuk shalat berjaaah dengan orang-orang yang >diketahui sudah 'dekat' dengan Allah. Kalau inipun tidak bisa dilakukannya, maka ia >perlu mengupayakan cara-cara yang lain. >Dalam pandangan Sufi tersebut, shalat Jum'at yang jamaahnya kurang dari 40 sah-sah >saja, tetapi efektivitasnya [dalam mengupayakan pencerahan] kurang. Ya....meskipun akan ada saja orang yang berpendapat bahwa apa yang bapak sampaikan di atas sangat berbau "spekulasi", tetapi aspek spiritual pada suatu ibadah sangat-sangat perlu digali. Selain memang akan mencairkan perbedaan "bentuk-bentuk" formal, lebih dari itu akan memberikan dan memperkaya "jiwa" suatu ibadah. Seringkali saya merasa "kering" dalam menerjemahkan ibadah, misal, shalat jamaah yang saya anggap tidak memberikan rasa khusyu'. Tetapi setelah membaca posting bapak, maka dapatlah ditarik pemahaman, bahwa tidak ada sesuatu yang sia-sia bahkan begitu banyak rahasia yang sebenarnya dapat memberikan kesegaran ibadah jika kita mengerti hakekatnya. Sekian dulu. Maaf.....kalau tampak ngalor-ngidul. Wassalaam Jaret Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
