Assalamu'alaikum wr.wb.
Judulnya "Terserah Tuhan".
Hardi itu lulusan PGA. Ia setengah kiai. Paham Qur'an dan Hadist.
Bahkan, juga kitab Kuning. Tapi, ia gelisah. Ada yang tak beres dalam
hidupnya. Ia pun datang pada pak Kiai, mohon petunjuk.
"Kamu tidak butuh kiai macam saya," kata pak Kiai. "Pergilah kamu pada
Kamin."
Hardi kaget. Orang tahu, Kamin itu cuma tukang Bakso. Tahu apa tukang
Bakso, yang tak pernah sekolah, tentang rahasia hidup? "Kiai gendeng,"
pikirnya.
"Tidak, saya serius, Nak," kata pak Kiai.
Hardi sungkem. Seperti sujud, ia mencium dengkul pak Kiai, sambil minta
maaf atas gendeng-nya tadi.
Tapi, mengapa Kamin? ia masih penasaran. Tentu saja, pak Kiai bermaksud
baik. Bukankah, kadang, kiai tak mau bicara langsung?
Dengan rumusan itu di kepala, ia pergi ke rumah Kamin. Tak ada yang
istimewa di sana, selain bahwa Kamin sekeluarga bekerja keras.
Anak-anaknya dikerhkan untuk membantu mencuci gelas. Yang lain mengerok
kelapa muda untuk campuran es. Yu Ginah, istrinya, menggoreng krupuk.
Setelah periksa sana periksa sini, Kamin ke warung kecil di depan
rumahnya itu, melayani pembeli.
Warung itu maju. Bakso, krupuk udang, dan es kelapa, jadi pasangan
serasi. Pembeli berjejal.
Anak-anak Kamin, empat orang, semua sekolah. Biayanya, ya, dari warung
kecil itu. Biaya sekolah dari situ. Biaya hidup dari situ. Mereka hidup
tentram.
hardi mulai tertarik. Ia mencoba mengamati lebih dekat., lebih dalam.
Setelah salat bersama pada suatu hari, mereka dialog. Tapi, Kamin itu
pendiam. Ia bicara sedikit.
"Apa doa kang Kamin sehabis salat?" tanya Hardi.
"Saya serahkan hidup ini pada Tuhan,' jawabnya, polos.
"Warung anda maju. Apa rahasianya?"
"Tidak ada. Semua terserah Tuhan."
"Anak-anak Anada sekolah. Apa rencana Anda untuk mereka?"
"Semua saya serahkan Tuhan."
"Maksudnya?"
"Saya orang bodoh, tidak tahu apa mereka bisa jadi pegawai, buruh, atau
tukang bakso juga. Saya percaya, Tuhan Maha Pengatur. Jadi, semua
terserah Tuhan."
Hardi pernah mendengar, orang Barat yang mengagumi Soedjatmoko
menganggap bahwa almarhum adalah jenis orang yang belum dirusak oleh
sistem pendidikan tinggi. Ia masih murni. Kamin, si tukang bakso ini,
iman dan dakwahnya juga murni, dan total.
Hardi sujud. Bijaksana pak Kiai mengirim dia ke Kamin. Ketulusan macam
Kamin itu, yang belum dimilkinya selam ini.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)