Assalamu'alaikum wr. wb. Sejak kecil kita sudah diajarkan untuk menjadi anak yang pinter agar nanti suatu saat kita besar (dewasa) menjadi orang yang berhasil atau sukses. Dalam perjalanan selanjutnya kita berusaha untuk menjadi orang yang pinter, berusaha untuk tidak tinggal kelas, semua tugas sekolah kita kerjakan, dengan tujuan agar nanti nilai kita di Rapor ditulis dengan tinta biru (bukan tinta merah). Sampai kita mendapatkan pendidikan yang tinggi, kemudian saatnya mencari nafkah untuk hidup. Lalu menabung sedikit demi sedikit, bisa membeli makanan yang bergizi, bisa membeli baju yang layak dipakai, dan sebagai pelengkap adalah membeli rumah tempat tinggal. Kemudian mulai melirik untuk membeli hal-hal yang sekunder, biasanya hal-hal yang menyenangkan hati. Dalam pekerjaan, kita berusaha untuk mencapai kedudukan yang tinggi, kalau bisa menjadi seorang direktur. Tidaklah berdosa apabila kita ingin mempunyai semua itu. Hanya masalahnya adalah apakah semua didapat dengan cara yang baik dan benar? Coba kita ingat-ingat lagi masa sekolah kita dahulu, apakah saat kita mendapatkan nilai dengan tinta biru diperoleh dengan cara mencontek teman? Apakah semua barang yang telah kita miliki sekarang ini diperoleh dengan cara menipu, atau uang yang digunakan untuk membayar didapat dari korupsi? Atau untuk mencapai kedudukan yang tinggi dengan cara menyingkirkan rekan-rekan sejawat, menyabot ide-ide cemerlang rekan kita dan diakui sebagai ide kita, agar kita mendapat pujian dari atasan kita yang kemudian mempromosikan kita ke kedudukan yang lebih tinggi? Atau kita geram melihat rekan kita dipromosi, kemudian mengumpat-umpat dalam hati sambil membongkar kekurangan-kekurangan rekan kita itu? Jika semua pertanyaan di atas dijawab dengan "ya", maka kita termasuk orang yang gagal, meskipun kita sudah memperoleh segala yang pernah menjadi cita-cita sejak kecil dahulu. Allah menilai cara kita memperoleh sesuatu, dan penilaian sudah dilakukan sejak kita berniat dalam hati, karena Allah mengetahui apa yang dibisikkan dalam hati (QS.Qaaf,50:16). Lalu pertanyaannya, Apakah ukuran keberhasilan di dunia? Sesuai dengan QS.Al Bagarah, 2:201, ukurannya adalah kita selamat di dunia lalu selamat di akhirat yang berarti kita dijauhkan dari api neraka. Kita bisa selamat di dunia, apabila prosedur dijalani dengan benar. Dan Standard Operating Procedure (SOP) di dunia adalah Al Quran dan Sunnah Rasul. Jadi ternyata keberhasilan di dunia bukanlah memiliki segala apa yang ada di dunia, tetapi ukurannya adalah saat nanti kita wafat, tidak satu atom-pun dosa yang dibawa ke alam kubur. Karena ukuran selamat di dunia adalah sampai saat terakhir kita di dunia, kita terbebas dari dosa. Boleh-boleh saja memiliki kekayaan di dunia, karena selama kita hidup di dunia mau tidak mau kita memerlukan hal-hal keduniaan, yang penting kita harus sadar bahwa cara yang dipakai untuk memperoleh dan menggunakannya adalah sesuai dengan aturan-aturan Allah. Segala apa yang ada pada diri saya ada dalam pengetahuan Allah. Wassalam, H.Denny Prasetya T./Cilegon ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
