Assalamu'alaikum

Apakah sebenarnya teosofi itu...?
Untuk menjawabnya marilah kita kembali pada sejarah tasawuf dan filsafat.
Pada awal perkembangannya, filsafat sering dipertentangkan dengan tasawuf.
Dalam hal ini terutama dapat kita lihat pada karya-karya sufi seperti
Rumi, 'Aththar dan Sana'i. Kelompok sufi ini hanya memperhatikan aspek
rasional dari filsafat, dan setiap kali berbicara tentang intelek mereka
tidak mengartikan intelek dalam arti mutlaknya, namun mengacu pada aspek
rasional intelek atau akal. Di sini definisi dari intelek adalah perolehan
pengetahuan secara langsung yang tak melewati fakultas rasional (akal) dan
biasa disebut sebagai penyingkapan atau intuisi. Sedangkan akal (reason)
adalah fakultas rasional yang berusaha mengungkapkan realitas dengan
menggunakan rujukan pengalaman di dunia material.  Sebagai contoh, Rumi
dalam salah satu sajaknya menulis : 'Akal-lah yang telah mempermalukan
Intelek' atau 'Kaki kaum rasional terbuat dari kayu, kaki kayu adalah
sangat rapuh'.
Dalam perkembangan selanjutnya munculah madzhab baru yang mencoba
menengahi pertentangan ini, inilah yang disebut teosofi (hikmah), yang
dipelopori oleh Ibn 'Arabi. Teosofi ini di samping membahas secara luas
jalan spiritual, ritus-ritus spiritual, kebajikan spiritual, dan cinta
ilahiah, juga menguraikan pengetahuan yang dalam mengenai alam semesta dan
mengakui bahwa tujuan utama tasawuf adalah untuk memperoleh pengetahuan
makrifat.
Teosofi ini semakin berkembang dengan munculnya Syihabuddin Al-Suhrawardi.
Pada mulanya beliau melakukan perjalanan spiritual dan kemudian memulai
studinya dan pencariannya dalam filsafat. Dalam perjalanannya ini
terbentuklah suatu madzhab baru dalam filsafat Islam yang dikenal sebagai
madzhab Iluminasi, di mana intelek memperoleh kedudukan yang sangat
tinggi, namun intelek ini bukanlah kaki kayu akal atau akal yang suka
mengganggu. Namun, intelek tersebut tak lain adalah intelek tercerahkan
yang menjadi bercahaya karena kedekatannya pada sumber segala cahaya, dan
dengan demikian telah menjadi sumber yang tercerahkan bagi seluruh tingkat
eksistensi yang lebih rendah, dan dengan demikian mengangkatnya ke puncak
kenikmatan spiritual.
Puncak dari teosofi ini ialah munculnya madzhab Teosofi Transendental
(Al-Hikmah Al-Muta'aliyyah) Mulla Shadra. Dalam madzhab ini kekuatan
intelektual, penyingkapan spiritual dan rahmat ilahi diharmoniskan dan
dikoordinasikan.

Wassalamu'alaikum



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke