Assalaamu'alaykum ww.
Kalau kita membatasi bahasan pada wiridnya sendiri, wirid itu cukup
efektif selama hal itu dilakukannya dengan khusyu'. Dengan itu, ia
bisa saja memasuki tempat-tempat rahasia di dalam dunia metafisik dan
dapat bertemu dengan Tuhannya.
Akan tetapi, ada kemungkinan ia akan menjadi sangat perkasa walaupun
hatinya tidak bersih, seperti Fir'aun dalam Kitab suci, Rahwana dalam
kisah Ramayana, atau Korawa dalam Mahabharata. Kalau alam semesta ini
digambarkan sebagai lingkaran hitam-putih 'yin-yang', tentu anda
setuju bahwa tokoh-tokoh itu masuk ke dalam paruh lingkaran hitam.
Lalu apa kita ingin mengajar orang melakukan wirid yang memungkinkan
orang masuk ke lingkaran hitam itu?
Biarpun hitam atau putih itu kedua-duanya merupakan realita di alam
semesta, agama-agama mengajarkan agar kita berpihak kepada paruh
lingkaran yang putih, kita 'dipaksa' untuk memerangi yang hitam, bukan
berpihak kepada yang hitam. Karena itulah tasawuf tidak mengajarkan
wirid atau zikir itu sebagai upaya terpisah, melainkan disatukan
dengan upaya-upaya pembersihan jiwa yang lain. Kalau orang tidak
bersih jiwanya, lebih baik ia dibiarkan tetap menjadi orang awam.
Biarlah ia kotor, asal kotor dalam kapasitas yang kecil
Wassalaamu'alaykum ww.
RS
Leo Yuliawan wrote:
> Seandainya seseorang mengamalkan suatu, anggap saja, "wirid" yang bunyinya ngawur,
>misal "hong-wi-la-heng" sebanyak detak jantungnya setiap hari. Kemudian, ia juga
>mengamalkan puasa mutih selama beberapa hari (40 hari). Ia juga berkhalwat - nyepi -
>di tempat-tempat keramat. Ia juga menjaga seluruh tubuhnya agar tidak ternoda oleh
>hal-hal yang memalingkan diri dari "wirid" "hong-wi-la-heng"-nya.
>
> Kita bisa menganggap bahwa apa yang dilakukannya betul-betul ngawur dan tanpa
>bimbingan yang bisa dipertanggungjawabkan oleh guru manapun. Yang penting bahwa ia
>tidak mau mengalihkan diri dan batinnya dari "wirid" "hong-wi-la-heng", sehingga
>setiap saat ia hanya "iling" dengan "hong-wi-la-heng"
>
> Rekan-rekan mungkin menganggap ini mengada-ngada saja. Akan tetapi saya hanya
>memancing pembahasan lebih lanjut.....yaitu....kemungkinan apa yang bisa menimpa diri
>orang tersebut. Bisa saja orang lain menilai dia itu "gendeng" tetapi bisa saja ia
>merasa bahwa jiwanya melesat ke angkasa menemui kebahagiaan "hong-wi-la-heng".
>
> Saya pernah membaca tulisan bahwa jiwa manusia itu sebenarnya sama sehingga olah
>jiwa yang berasal dari bagian mana pun asal bertujuan menyucikan jiwa bisa bertemu
>pada suatu waktu meski kemudian akan berseberangan lagi.
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)