Bismillahi Ar-Rahmaani Ar-Rahiimi

Langkah yang dilakukan Thomas Anderson itu sebenarnya benar-benar nekat.
Coba bayangkan, apa sebenarnya yang membuat dia mau menyerahkan kehidupannya
kepada orang-orang yang hanya dikenalnya di cyberspace. Apa yang membuat dia
berani memilih pil merah, suatu pilihan yang benar-benar spekulatif. Padahal
pilihan itu, akan menentukan kehidupannya.

Memang di film itu tidak dikisahkan latar belakang kehidupannya. Kita
sebatas tahu, bahwa selain sebagai seorang programmer di sebuah perusahaan
s/w terkemuka -- Oracle?   ;)  -- Ia juga adalah seorang hacker.

Tapi itu sebenarnya sudah cukup bercerita. Hacker itu sebenarnya orang-orang
idealis. Mereka anti kemapanan yang men-tirani. Yang mana juga terjadi di
dunia IT.  :)
Mereka selalu berusaha meruntuhkan paradigma-paradigma yang terlalu
mencengkeram, sehingga malah jadi belenggu. Mereka menawarkan
alternatif-alternatif. Mereka (mudah-mudahan) adalah pencari di belantara
cyberspace. (cat: I'm not a hacker)

Dalam konteks The Matrix, posisi hacker itu sama dengan posisi seorang
pencari kebenaran. The Truth Seeker, istilahnya Kang Abdus Shomad -- (Kumaha
kabarna? Kapan balik?).
Bedanya, yang di hack adalah pemahaman-pemahaman spiritual.   :)

Seorang pencari, hanya bisa merasakan tapi amat sulit untuk menjelaskan.
Sebagaimana kata Morpheus, "Let me tell you why you here. You here because
you know something. What you know, you can't explain. But you feel it."

Seorang pencari itu berkecenderungan untuk menanggalkan paradigma kebenaran
yang umum diakui, untuk kemudian diuji. Karena, bila itu memang kebenaran,
mestinya kukuh dan tahan dihantam oleh berbagai badai persoalan. Seperti
sebuah security system, bila ia memang andal, tentunya tak akan bisa
ditembus.
Untuk itu, mereka siap melakukan passing over. Bukan hanya lintas mazhab,
bahkan lintas agama.
Bukan untuk meragukan, tapi justru untuk keyakinan.
Bukan untuk mencari pembenaran, tapi semata untuk kebenaran.
Mereka rindu untuk mengenali kebenaran, sehingga mampu mengenali siapa-siapa
yang berkata benar. Sebagaimana kata Imam Ali kw, "Janganlah mencari
kebenaran dari manusia. Tapi kenalilah kebenaran, maka engkau akan tahu
siapa-siapa yang berkata benar."

Dan seorang Thomas Anderson adalah Neo. Yang tahu, "There is something wrong
in the world".
Sehingga ketika ditodong oleh Switch "Right now is only one rule. Our way or
high way?", dia bisa memilih jalannya Morpheus dan kawan-kawan.

Trinity menjelaskannya dalam kata-kata indah, "Please Neo, you have to trust
me. Because you have been done. You know that road. You know exactly where
it's end. And I know that's not you want to be."
Dan seorang Thomas Anderson tersadar, bahwa dia tidak punya alternatif.
Kecuali mencoba.

Hanya itu modalnya. Kepercayaan. Keimanan. Yang pilar utamanya adalah
perasaan.
Perasaan itu, adalah perasaan yang rindu akan kebenaran.
Bukan perasaan yang mencari pembenaran.
Sehingga seorang Thomas Anderson, berani menelan pil merah. Dan menanggalkan
segala hal, yang pada saat itu adalah realitas baginya.

Nekat sekali. Subhanallah.
Seperti itulah nekatnya orang mati. Spekulatif. Tapi dengan taruhan surga
dan neraka.

Berat sekali. Subhanallah.
Seperti itu pulalah beratnya kematian. Karena yang mati itu, bukan hanya
jasad kita. Tapi lebih kepada jiwa kita, kesadaran kita. Yang mati itu
adalah logika-logika yang kita bangun, paradigma-paradigma yang kita
tancapkan dan realitas-realitas tipuan yang kita yakini.
Bagaimana tidak sakit, bila kita tiba-tiba tercerabut dari dunia ini (mati)
dan dicampakkan ke alam yang tak pernah terbersit sedikitpun di benak ini.
Dalam keadaan buta, bisu dan tuli lagi.
Apa yang lebih pedih dari buta, bisu dan tuli plus azab kubur?

Padahal bila saya bangun tidur tengah malam, dan ternyata gelap gulita
karena listrik mati, saya sudah panik luar biasa. Bagaimana rasanya, kalo
kita bangun ternyata gelap gulita (karena buta), sunyi senyap (karena tuli)
dan tak bisa berteriak (karena bisu). Lari-lari ke sana kemari, tak
menemukan apa-apa. Dan tiba-tiba merasakan panas yang membakar.

Ikhwah fillah rahimakumullah.
Inilah guna tasawuf. Ia adalah training for death. Ia adalah pil merah,
training simulation dan The Oracle.
Sehingga ketika kita mati "beneran", kita tidak sedang buta, bisu dan tuli.
Karena segala dosa karena cinta dunia, telah kita bersihkan. Sehingga tidak
ada sebab lagi untuk mati dalam buta, bisu dan tuli.

Kita justru akan melihat terang benderang, dan hidup di antara manusia.
Kita akan "gentayangan" sebagai orang-orang sholeh. Kerjanya jalan-jalan.
Dan arena jalan-jalannya seluruh alam semesta.  :)

"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami
berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat
berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang
keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar
dari padanya." (QS. 6:122)

Wassalamu'alaykum wr. wb.

ps:
Jadi... yang "gentayangan" itu justru orang-orang sholeh. Setelah mati,
mereka justru asyik berjalan-jalan kemana mereka mau. Lepas dari dimensi
ruang dan waktu. Sedang orang-orang jahat sedang sibuk dengan siksa
kuburnya.


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke