Maaf, saya ulangi lagi. Setting di IE saya salah... Terimakasih kepada Mas Arief yang mengingatkan. Assalamu'alaykum wr. wb. Sebenarnya tulisan berikut ini hanyalah pelengkap dari tulisan Mas Pung Ari, Mas Pungkas, Mas Abah, Mas Ali, dll. Inti permasalahan sudah tersampaikan, terlebih bila ikhwan sekalian telah menyaksikan The Matrix. Kemudian dalam menulis topik ini, saya meletakkan beberapa asumsi: 1. Kita semua ingin tahu lebih jauh ttg tasawuf. 2. Mayoritas peserta milist adalah pengguna internet aktif, sehingga cukup akrab dengan teknologi informasi. 3. Kita sudah pada nonton film The Matrix. 4. Kita tidak sedang mencari pembenaran thd aktivitas "nonton film". :) 5. Kalaupun kita "suka film", sudah memiliki furqon (pembeda). Pada akhirnya, semoga segala yang kita lakukan hanya akan mendekatkan diri kita semua kepada Allah semata. Bismillahi Ar-Rahmaani Ar-Rahiimi "Can't be what? Can't be real?" tukas Morpheus, ketika Seorang Thomas Anderson menyaksikan dunianya mulai aneh setelah ia meminum pil merah. Cermin yang disentuhnya, tiba-tiba berubah hukum-hukumnya, sehingga Ia berkata, "It can't be". Itulah awal dari perjalanan di dunia sejatinya sebagai seorang Neo. Selanjutnya, mulailah Ia belajar mengenal ttg makna "realitas" yang sesungguhnya. "What is real? How do you define 'real' ? If you talking about what you can feel, you can smell, you can taste, you can see, it just real simply electrical signal that interpreted by your brain. This is the world that you know" Ya... inilah dunia yang dikenal Thomas Anderson. Juga kita. Apakah udara yang kita hirup, rasa yang kita kecap, bau yang kita cium, pemandangan yang kita lihat, adalah realitas? Semua itu adalah tipuan yang dibuat oleh The Matrix, to blind us from the truth. Dan Neo memang kemudian memilih bangun dari tidur panjangnya dan melihat kebenaran, bahwa sesungguhnya manusia saat itu, terlahir di dunia impian. Dunia kombinasi antara virtual reality yang komplit dengan artificial intelligence yang super cerdas. Manusia saat itu diternakkan, mungkin dengan teknologi bayi tabung plus rahim buatan. Sehingga sejak dalam kandungan rahim buatan itu, manusia telah dipasangi perangkat-perangkat sensor dan pencitraan yang menghadirkan dunia virtual baginya. Mereka seolah-olah lahir, tumbuh dan berkembang. Berinteraksi dengan manusia dan alam sekitarnya. Memiliki keluarga, membagi kasih sayang dengan orang-orang yang dikasihinya. Bekerja dengan segala profesinya. Padahal pada hakikatnya, semua manusia di dunia Matrix itu, sedang berbaring tak berdaya didalam kepompong rahim buatannya masing-masing. Asyik di dunianya masing-masing. Hidup di kosmosnya masing-masing. Dan repotnya, menyangka itulah realitas. Ikhwah fillah rahimakumullah. The Matrix itulah dunia fana ini. Mas Pungkas telah bercerita cukup dalam, dan mengingatkan kita akan kata-kata Imam Al-Ghazali bahwa dunia adalah mimpi panjang. Tapi mungkin kita tak memiliki ide thd kata-kata Imam Al-Ghazali tsb. Untuk itu, mungkin kisah The Matrix di atas bisa menjadi visualisasi. Sungguh bagi saya, visualisasi The Matrix adalah benar adanya. Hanya bedanya, dunia Matrix dibangun oleh mesin yang cerdas, sedang dunia kita ini dibangun oleh hawa nafsu, syahwat dan syaithon, yang justru jauh lebih cerdas dibanding mesin Matrix. Sesungguhnya kita saat ini sedang hidup dalam mimpinya masing-masing. Hawa nafsu, syahwat dan syaithon telah menancapkan dalam-dalam pada diri kita waham-waham keduniaan. Sehingga kita meyakini apa yang kita fikirkan, kita lihat, kita cium, kita rasakan, kita dengarkan adalah realitas dan kebenaran. Padahal segala yang kita rasakan itu sesungguhnya hanyalah segala yang INGIN kita rasakan. Itu membuat kita berpotensi menjadi "khatamallahu 'ala quluubihim, wa 'ala sam'ihim, wa ala abshoorihim ghisyaawah". Dunia ini telah menjadi penghalang (hijab) bagi kita untuk melihat al-haq. Kenapa? Karena setiap saat hawa nafsu, syahwat dan syaithon demikian tekun menyuapkan kepada kita paham-paham keduniawian. Dari panca indera sampai fikir kita, tak luput satupun yang lolos dari cengkeraman mereka. Sehingga membuat qolb kita, kehilangan penglihatan dan pendengarannya. Ia buta dan tuli. Allah berfirman: "Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah HATI YANG ADA DI DALAM DADA." (QS. 22:46) "Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka MENCINTAI KEHIDUPAN DUNIA lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikuncimati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. 16:107-108) "Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan LEBIH BUTA (pula) dan LEBIH TERSESAT dari jalan (yang benar). (QS. 17:72) Bila kita tidak ingin seperti itu, maka bersikaplah seperti si Neo yang NEKAT bangun dari dunia Matrix-nya. Pilihlah pil merah, dan belajarlah untuk mati. "...Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan BUNUHLAH DIRIMU. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 2:54) Islam itu sesungguhnya diturunkan untuk membangunkan kita dari tidur panjang ini. Menghidupkan kembali si Neo yang ada dalam diri kita. Dan ini seharusnya terjadi, justru sewaktu kita masih memiliki umur di dunia. Bukan setelah jasad kita benar-benar habis masa pakainya. Sebagaimana hadits Rasulullah saw, "Matilah kamu sebelum mati". Mati dari cengkeraman Matrix dunia, dan hidup kembali sebagai The One. Sebagaimana si Neo yang memilih pil merah. Dan Tasawuf, sesungguhnya mengajarkan cara untuk mati sebelum mati. Tasawuf itu adalah pil merah, simulation training, dan The Oracle. Wassalamu'alaykum wr. wb. --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
