Assalamu'alaikum ww,

Salamoen R wrote:

> Dari pertanyaan yang diformulir itu, justru saya ingin mempertanyakan
> siapakah sebenarnya Mursyid itu ?
> Apa fungsinya seorang Guru Mursyid ?
> Mudah-mudahan yang ini saya salah :Mengapa harus melalui perantaraan
> Guru Mursyid ?

Sejauh pengetahuan saya, seseorang tidak akan dapat menemui Tuhannya
tanpa bimbingan Guru atau 'guide'; tetapi Guru ini tidaklah harus
seorang manusia, terlebih lagi manusia yang masih hidup. Sebagaimana
kita tahu bahwa Guru yang membimbing Rasulullah kepada Allah adalah
Jibril. Jadi peran Guru/Mursyid yang berujud manusia itu tidak mutlak,
yang mutlak adalah esensi pembimbing itu. Di milis ini selalu
dianjurkan agar kita hanya menempuh jalan tarekat melalui seorang
mursyid, karena mursyid merupakan pembimbing yang paling accessible
bagi kebanyakan orang. Lha apa mungkin kita menganjurkan orang untuk
berguru kepada Malaikat Jibril? Tentu saja, bagi rekan-rekan yang
telah mendapatkan Guru ghaib, anjuran untuk mencari mursyid tidak
harus berlaku.

 
> Jika tasawuf diartikan sebagai bentuk ilmu hakekat (siapa manusia,
> kenapa ada disunia, siapa diri ini, siapa aku (bhasiroh), kesadaran
> jiwa, kesadaran universal, ruh, Nur Ilahi, Allah .. dsb...dsb) atau
> bentuk komunikasi dengan Allah swt, sudah tentu landasannya adalah
> Tauhid. Jadi dalam beribadah shalat atau dzikrullah, atau ibadah
> apapun, maka yang dingat tentunya hanya Allah semata.
> 
> Nah apabila dalam bentuk komunikasi dengan Allah masih terlihat atau
> terdengar macam-macam (masalah nafsu, masalah perut atau dunia),
> bukankah itu namanya tidak kusyu', dan berarti yang masih tertangkap
> dengan panca indra tadi semua adalah masih ciptaan Allah, sedang yang
> saya pahami Allah itu tidak bisa dibayangkan atau didefinisikan menurut
> tolok ukur manusia.

Salah satu fungsi mursyid adalah memberi pelajaran praktek [bukan
sekedar teori] bagaimana agar dapat khusyu'. Mursyid adalah orang yang
sudah pernah menempuh perjalanan untuk bertemu dengan Allah, dan
karena itu bimbingannya patut diikuti; sekurang-kurangnya ia merupakan
salah satu alternatif dari trilyunan jalan menuju Allah yang ada.
Justru karena Allah itu tidak dapat dideskripsikan, kita perlu
pembimbing untuk mengidentifikasi Allah itu melalui praktek nyata.

> Yang saya pahami dalam proses komunikasi dengan Allah, kita itu bisa
> ketemu macam-macam, misalnya :
> 
> 1. ada yang ketemu Kristus, jika berhenti disitu jadi murtad.
> 2. ada yang ketemu sinar, sudah menganggap itu nur Ilahi, atau
> mengartikan itu wangsit ... dsb
> 3. ada yang bayangan tertentu, jika berhenti jadi tukang ramal.
> 4. ada yang ketemu didunia yang hening sepi, berhenti dan menganggap
> itu cahaya Nur Ilahi.
> 5. ada yang jadi sakti ... dsb ... dsb
> 
> Menurut saya semua itu akan hilang, manakala kita tetap yakin hanya
> kepada Allah komunikasi kita arahkan, bukan berhenti pada ciptaannya
> ...
> 
> Jadi kenapa harus melalui perantara ? Apakah justeru itu bukan syirik ?

Saya lebih cenderung untuk menganggap bahwa mursyid itu bukan
perantara, tetapi pembimbing atau penunjuk jalan; jadi syirik itu
dapat dihindarkan. Lima butir yang Bapak sebutkan di atas merupakan
identifikasi kasus di mana orang merasa sudah sampai kepada Allah,
padahal belum. Di sini mursyid berkewajiban untuk mencambuk si salik
agar tidak berhenti di situ.
 
Wassalamu'alaikum ww,
RS



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke