Terima kasih atas ilmu yang diberikan.

                -----Original Message-----
                From:   R. Sunarman [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
                Sent:   28. juli 1999 10:24
                To:     [EMAIL PROTECTED]
                Cc:     Djoko Luknanto
                Subject:        [Tasawuf] Manusia dan Proses Penyempurnaan
Diri

                Fwd dari tulisan Djoko Luknanto
<[EMAIL PROTECTED]>
                [Maaf, saya fwd-kan tanpa permisi dulu]
        

                Assalamu'alaikum w.w.


                        III.16. MANUSIA DAN PROSES PENYEMPURNAAN DIRI
                        oleh Komaruddin Hidayat

                        Secara tegas Allah menyatakan bahwa manusia
merupakan  puncak
                        ciptaan-Nya  dengan tingkat kesempurnaan dan
keunikan-Nya yang
                        prima dibanding makhluk lainnya (QS. 95:4). Namun
begitu Allah
                        juga memperingatkan bahwa kualitas kemanusiaannya,
masih belum
                        selesai atau setengah  jadi,  sehingga  masih  harus
berjuang
                        untuk    menyempurnakan    dirinya   (QS.
91:7-10).   Proses
                        penyempurnaan  ini  amat  dimungkinkan  karena  pada
naturnya
                        manusia  itu  fithri,  hanif  dan berakal. Lebih
dari itu bagi
                        seorang mukmin petunjuk primordial  ini  masih
ditambah  lagi
                        dengan  datangnya  Rasul  Tuhan  pembawa  kitab
suci  sebagai
                        petunjuk hidupnya (QS. 4:174).

                        Di dalam tradisi kaum sufi terdapat  postulat  yang
berbunyi:
                        Man  'arafa  nafsahu  faqad  'arafa rabbabu --Siapa
yang telah
                        mengenal dirinya maka ia (akan mudah) mengenal
Tuhannya. Jadi,
                        pengenalan  diri  adalah  tangga yang harus dilewati
seseorang
                        untuk mendaki  ke  jenjang  yang  lebih  tinggi
dalam  rangka
                        mengenal Tuhan.

                        Persoalan  serius  yang  menghadang adalah,
sebagaimana diakui
                        kalangan psikolog, filsuf, dan ahli pikir pada
umumnya,  kini
                        manusia  semakin  mendapatkan  kesulitan  untuk
mengenali jati
                        diri dan hakikat kemanusiaannya

                        Dengan majunya spesialisasi dalam dunia ilmu
pengetahuan  dan
                        berkembangnya   differensiasi  dalam  profesi
kehidupan  maka
                        protret atau konsep tentang realitas manusia semakin
terpecah
                        meniadi   kepingan-kepingan   kecil  sehingga
keutuhan  sosok
                        manusia semakin sulit dihadirkan secara utuh.
Sederet disiplin
                        ilmu   seperti   psikologi,  sosiologi,  biologi,
kedokteran,
                        politik, ekonomi, antropologi, teologi  dan  lainnya
semuanya
                        menjadikan  manusia  sebagai  obyek kajian
materialnya, tetapi
                        masing-masing  memiliki  metode  dan  tujuan   yang
berbeda.
                        Differensiasi   metodologis   setiap   ilmu,
meskipun  obyek
                        materialnya sama-sama manusia, akan melahirkan
kesimpulan yang
                        berbeda  pula  mengenai  siapa  dan  apa  hakikat
manusia itu.
                        Demikianlah manusia senantiasa mengandung sebuah
misteri  yang
                        melekat  pada  dirinya dan misteri ini telah
mengandung sebuah
                        misteri yang  melekat  pada  dirinya  dan  misteri
ini  telah
                        mengundang  kegelisahan  intelektual  pare  ahli
pikir  untuk
                        mencoba  berlomba  menjawabnya.  Semakin  seorang
ahli  pikir
                        mendalami satu sudut kajian tentang manusia, semakin
jauh pula
                        ia terkurung dalam bilik lorong yang ia masuki,
yang  berarti
                        semakin  terputus dari pemahaman komprehensif
tentang manusia.
                        Krisis pengenalan  jati  diri  manusia  ini  secara
eksplisit
                        dikemukakan, misalnya, oleh Ernst Cassirer, katanya:

                        Nietzsche  proclaims  the  will to power, Freud
signalizes the
                        sexual instinct, Marx enthrones the  economic
instinct.  Each
                        theory  becomes a Procrustean bed in which the
empirical facts
                        are stretched to fit a preconceived  pattern.  Owing
to  this
                        development  our  modern  theory  of man lost its
intellectual
                        center. We acquired instead a  complete  anarchy  of
thought.
                        (Ernst Cassier, 1978, p.21)

                        Krisis  pengenalan  diri  sesungguhnya  tidak  hanya
dirasakan
                        kalangan ahli pikir Barat modern, melainkan juga  di
kalangan
                        Islam.   Terjadinya  ideologisasi  terhadap
ilmu-ilmu  agama,
                        secara sadar atau tidak,  telah  menghantarkan  pada
persepsi
                        yang  terpecah  dalam  melihat  manusia dan
hubungannya dengan
                        Tuhan. Dalam tradisi ilmu fiqih misalnya, secara tak
langsung
                        ilmu  ini cenderung menghadirkan wajah Tuhan sebagai
Yang Maha
                        Hakim, sementara manusia adalah subyek-subyek  yang
cenderung
                        membangkang dan harus siap menerima vonis-vonis dari
kemurkaan
                        Tuhan Sang Maha Hakim atau, sebaliknya, manusia pada
akhirnya
                        akan  menuntut  imbalan  pahala  atas ketaatannya
melaksanakan
                        dekrit-Nya.

                        Demikianlah,  bila  ilmu  fiqih  cenderung
mengenalkan  Tuhan
                        sebagai  Maha  Hakim,  maka  ilmu  kalam lebih
menggarisbawahi
                        gambaran Tuhan  sebagai  Maha  Akal,  sementara
ilmu  tasawuf
                        memproyeksikan Tuhan sebagai Sang Kekasih.

                        Perbedaan-perbedaan ini muncul dalam benak manusia
karena pada
                        dasarnya yang bertuhan adalah manusia,  di  mana
manusia  itu
                        lahir,  tumbuh  dan  berkembang  dibentuk dan
dipengaruhi oleh
                        berbagai faktor yang dijumpai dalam realitas sejarah
hidupnya.
                        Jadi,   bila  langkah  pertama  untuk  mengenal
Tuhan  adalah
                        mengenal diri  sendiri  terlebih  dahulu  secara
benar,  maka
                        langkah   pertama  yang  harus  kita  tempuh  ialah
bagaimana
                        mengenal diri kita secara benar.

                        Meskipun   Cassirer   secara   gamblang
menunjukkan   krisis
                        pengenalan  diri,  secara  sederhana  kita bisa
membedakan dua
                        paradigma  pemahaman   terhadap   manusia,   yaitu
paradigma
                        materialisme-atheistik    dan
spiritualisme-theistik.   Yang
                        pertama berkeyakinan pada teori bahwa  semua
realitas  materi
                        (downward causation), sebaliknya yang kedua
berkeyakinan bahwa
                        dunia  materi  ini  hakikatnya  berasal  dari
realitas   yang
                        bersifat imateri (upward causation).

                        Bagi  mereka  yang  berpandangan  atau  terbiasa
dengan metode
                        berpikir  empirisme-materialistik  akan  sulit
diajak   untuk
                        menghayati  makna  penyempurnaan  kualitas  insani
sebagaimana
                        yang lazim diyakini di kalangan  pare  sufi.  Kritik
terhadap
                        aliran  materialisme  akhir-akhir ini semakin
gencar, dan akan
                        mudah dijumpai  pada  berbagai  bidang  studi
keilmuan  Barat
                        kontemporer   dengan  dalih,  antara  lain,  faham
ini  telah
                        mereduksi keagungan  manusia  yang  dinyatakan
Tuhan  sebagai
                        moral and religious being.

                        Ralph  Ross,  misalnya,  memberikan contoh yang amat
sederhana
                        tetapi gamblang betapa miskinnya penganut
materialisme  dalam
                        memahami kehidupan yang penuh nuansa ini.

                        Progressive  reductionism  works  as follows. An art
object is
                        only mass and light waves; an act of love only
chemiphysical,
                        only  electrical  charges; therefore, the art object
or act of
                        love is only a flow of electricity. (Ralph  ross,
1962,  hal.
                        8).

                        Pandangan  yang  begitu  dangkal  tentang manusia
secara tegas
                        dikritik oleh al-Qur'an. Menurut  doktrin
al-Qur'an,  manusia
                        adalah   wakil   Tuhan   di   muka   bumi  untuk
melaksanakan
                        'blueprint'-Nya membangun bayang-bayang surga di
bumi ini (QS.
                        2:3).  Lebih  dari  itu  dalam tradisi sufi terdapat
keyakinan
                        yang begitu populer bahwa  manusia  sengaja
diciptakan  Tuhan
                        karena   dengan   penciptaan   itu   Tuhan  akan
melihat  dan
                        menampakkan kebesaran diri-Nya.

                        Kuntu kanzan makhfiyyan  fa  ahbabtu  an  u'rafa  fa
khalaqtu
                        al-khalqa  fabi 'arafu-ni --Aku pada mulanya adalah
harta yang
                        tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal,
Kuciptakanlah makhluk
                        maka melalui Aku mereka kenal Aku.

                        Terlepas  apakah  riwayatnya sahih ataukah lemah,
pada umumnya
                        orang sufi menerima hadits  tersebut,  namun  dengan
beberapa
                        penafsiran  yang  berbeda.  Meski  demikian,  mereka
cenderung
                        sepakat  bahwa  manusia  adalah  microcosmos   yang
memiliki
                        sifat-sifat   yang   menyerupai  Tuhan  dan  paling
potensial
                        mendekati Tuhan  (Bandingkan  QS.  41:53).  Dalam
QS.  15:29,
                        misalnya,  Allah  menyatakan  bahwa  dalam diri
manusia memang
                        terdapat unsur Ilahi  yang  dalam  al-Qur'an
beristilah  "min
                        ruhi."  Pendek kata, realitas manusia memiliki
jenjang-jenjang
                        dan mata rantai eksistensi. Bila diurut  dari  bawah
unsurnya
                        ialah minerality, vegetality, animality, dan
humanity.

                        Dari jenjang pertama sampai ke tiga aktivitas dan
daya jangkau
                        manusia masih berada dalam  lingkup  dunia  materi
dan  dunia
                        materi  selalu  menghadirkan  polaritas  atau
fragmentasi yang
                        saling berlawanan (the primordial pair). Dalam
konteks  inilah
                        yang  dimaksud  bahwa realitas yang kita tangkap
tentang dunia
                        materi adalah realitas yang terpecah
berkeping-keping.  Makin
                        berkembang ilmu pengetahuan, makin bertambah
kepingan gambaran
                        realitas dunia,  dan  makin  jauh  pula  manusia
untuk  mampu
                        mengenal dirinya secara utuh. Seperti dikemukakan
Carel Alexis
                        bahwa man has gained the mistery of the material
world  before
                        knowing himself.

                        Dalam   kaitan   definisi,  tradisi  tasawuf  belum
mempunyai
                        definisi tunggal, namun para sarjana muslim sepakat
bahwa inti
                        tasawuf  adalah ajaran yang menyatakan bahwa hakekat
keluhuran
                        nilai  seseorang  bukanlah  terletak   pada   wujud
fisiknya
                        melainkan  pada  kesucian  dan  kemuliaan hatinya,
sehingga ia
                        bisa sedekat mungkin  dengan  Tuhan  yang  Maha
Suci.  Ajaran
                        spiritualitas  seperti  ini  tidak  hanya  terdapat
pada Islam
                        melainkan pada agama  lain,  bahkan  dalam  tradisi
pemikiran
                        filsafat  akan  mudah  pula  dijumpai. Dari
kenyataan ini maka
                        tidak  terlalu  salah  bila   ada   yang
berpendapat   bahwa
                        sesungguhnya potensi dan kecenderungan kehidupan
batin manusia
                        ke arah  kehidupan  mistik  bersifat  natural  dan
universal.
                        Pendeknya, pada nurani manusia yang terdapat dalam
cahaya suci
                        yang senantiasa ingin menatap Yang Maha Cahaya
(Tuhan)  karena
                        dalam  kontak  dan  kedekatan  antara  nurani dan
Tuhan itulah
                        muncul kedamaian dan kebahagiaan yang paling  prima.
Kalangan
                        sufi  yakin, dahaga dan kerinduan mendekati Tuhan
ini bukanlah
                        hasil rekayasa pendidikan (kultur) melainkan
merupakan  natur
                        manusia   yang   paling   dalam,  yang
pertumbuhannya  sering
                        terhalangi oleh pertumbuhan dan naluri jiwa nabati
dan  hewani
                        yang  melekat pada manusia. Dengan kiasan lain, roh
Ilahi yang
                        bersifat imateri dan berperan sebagai "sopir"  bagi
kendaraan
                        "jasad"  kita  ini seringkali lupa diri sehingga ia
kehilangan
                        otonominya  sebagai  master.  Bila  hal   ini
terjadi   maka
                        terjadilah kerancuan standar nilai. "Keakuan" orang
bukan lagi
                        difokuskan pada kesucian jiwa tetapi pada  prestasi
akumulasi
                        dan  konsumsi  materi.  Artinya,  jiwa  yang tadinya
duduk dan
                        memerintah   dari    atas    singgasana    "imateri"
dengan
                        sifat-sifatnya  yang  mulia seperti: cinta kasih,
penuh damai,
                        senang kesucian, selalu ingin dekat kepada Yang Maha
Suci  dan
                        Abstrak,  lalu  turunlah  tahtanya ke level yang
lebih rendah,
                        yaitu dataran: minerality, vegetality, dan
animality.

                        Jadi, tujuan utama ajaran tasawuf  adalah  membantu
seseorang
                        bagaimana  caranya  seseorang bisa memelihara dan
meningkatkan
                        kesucian jiwanya sehingga dengan begitu ia  merasa
damai  dan
                        juga  kembali  ke tempat asal muasalnya dengan damai
pula (QS.
                        89:27).

                        Secara garis besar tahapan seorang mukmin  untuk
meningkatkan
                        kualitas jiwanya terdiri dari tiga maqam. Pertama,
dzikir atau
                        ta'alluq pada Tuhan. Yaitu, berusaha mengingat dan
mengikatkan
                        kesadaran  hati  dan  pikiran  kita  kepada  Allah.
Di manapun
                        seorang mukmin berada, dia tidak boleh lepas dari
berfikir dan
                        berdzikir   untuk   Tuhannya  (QS.  3:191).  Dari
dzikir  ini
                        meningkat sampai maqam kedua -takhalluq. Yaitu,
secara  sadar
                        meniru  sifat-sifat  Tuhan  sehingga  seorang
mukmin memiliki
                        sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-Nya. Proses ini
bisa  juga
                        disebut sebagai proses internalisasi sifat Tuhan ke
dalam diri
                        manusia. Dalam konteks ini kalangan sufi biasanya
menyandarkan
                        Hadits Nabi yang berbunyi, "Takhallaqu bi akhlaq-i
Allah."

                        Maqam   ketiga   tahaqquq.   Yaitu,   suatu
kemampuan  untuk
                        mengaktualisasikan kesadaran  dan  kapasitas
dirinya  sebagai
                        seorang  mukmin  yang  dirinya  sudah "didominasi"
sifat-sifat
                        Tuhan sehingga tercermin dalam perilakunya yang
serba suci dan
                        mulia.  Maqam  tahaqquq  ini  sejalan dengan Hadits
Qudsi yang
                        digemari kalangan sufi  yang  menyatakan  bahwa
bagi  seorang
                        mukmin  yang telah mencapai martabat yang sedemikian
dekat dan
                        intimnya  dengan  Tuhan  maka  Tuhan  akan  melihat
kedekatan
                        hamba-Nya.

                        Dalam  tradisi  tasawuf yang menjadi fokus kajiannya
ialah apa
                        yang  disebut  gaib  atau  hati   dalam
pengertiannya   yang
                        metafisis. Beberapa ayat al-Qur'an dan Hadits
menegaskan bahwa
                        hati seseorang bagaikan raja, sementara badan  dan
anggotanya
                        bagai  istana  dan para abdi dalem-nya. Kebaikan dan
kejahatan
                        kerajaan itu akan tergantung bagaimana perilaku sang
raja.

                        Dalam sebuah hadits Qudsi  disebutkan  bahwa
meskipun  secara
                        fisik  hati itu kecil dan mengambil tempat pada
jasad manusia,
                        namun  luasnya  hati  Insan  Kamil  (qalb  al-'arif)
melebihi
                        luasnya  langit  dan  bumi  karena  ia  sanggup
menerima 'arsy
                        Tuhan,  sementara  bumi  langit  tidak  sanggup.
Menurut  Ibn
                        'Arabi,  kata qalb senantiasa berasosiasi dengan
kata taqallub
                        yang bergerak atau berubah secara konstan.
Taqallub-nya  hati
                        sang  sufi,  kata  'Arabi,  adalah  seiring dengan
tajalli-nya
                        Tuhan.  Tajalli  berarti  penampakan  diri  Tuhan
ke   dalam
                        makhluk-Nya   dalam  pengertian  metafisik.  Dan
dari  sekian
                        makhluk Tuhan, hanya hati seorang Insan Kamil-lah
yang  paling
                        mampu  menangkap  lalu  memancarkan tajalli-Nya
dalam perilaku
                        kemanusiaan (Fushushul Hikam, XII; Hossein Nasr,
1977, p.138).
                        Dalam  konteks  inilah,  menurut  Ibn 'Arabi, yang
dimaksudkan
                        dengan  ungkapan  siapa  yang  mengetahui  jiwanya,
ia   akan
                        mengetahui  Tuhannya  karena manusia adalah
"microcosmos" atau
                        jagad cilik dimana 'arsy Tuhan berada di  situ,
tetapi  Tuhan
                        bukan  pengertian  huwiyah-Nya  atau  "ke-Dia-annya"
yang Maha
                        Absolut dan Maha Esa, melainkan  Tuhan  dalam
sifat-Nya  yang
                        Dhahir, bukannya Yang Bathin.

                        KHALIFAH ALLAH: MANUSIA SUCI NAN PERKASA

                        Bila  upaya  penyucian  jiwa  merupakan  inti
tasawuf, dan itu
                        dilakukan dalam upaya mendekati  dan  menggapai
kasih  Tuhan,
                        maka  tasawuf  bisa  dikatakan  sebagai  inti
keberagaman dan
                        karenanya setiap  muslim  semestinya  berusaha
untuk  menjadi
                        sufi.

                        Pandangan  semacam  itu  tentu  saja  kurang populer
dan sulit
                        diterima oleh kalangan terdekat. Namun begitu,
bukankah  cukup
                        tegas  isyarat  al-Qur'an  maupun Hadits yang
menyatakan bahwa
                        kewajiban setiap muslim  adalah  mensucikan  jiwanya
sehingga
                        kesuciannya termanifestasikan dalam perilaku
insaniyahnya?

                        Melalui   tahapan  ta'alluq,  takhalluq,  dan
tahaqquq,  maka
                        seorang mukmin akan mencapai  derajat  khalifah
Allah  dengan
                        kapasitasnya  yang  perkasa  tetapi  sekaligus penuh
kasih dan
                        damai. Seorang 'abd-u 'l-Lah (budak Allah) yang
saleh  adalah
                        sekaligus  juga  wakil-Nya untuk membangun
bayang-bayang surga
                        di muka bumi ini. Bukankah Allah punya blue-print
dan  proyek
                        untuk  memakmurkan  bumi,  dan  bukankah
hamba-hamba-Nya yang
                        saleh telah dinyatakan sebagai  mandataris-Nya?
Jadi,  secara
                        karikatural, seorang sufi kontemporer adalah mereka
yang tidak
                        asing berdzikir dan berfikir tentang Tuhan sekalipun
di  hotel
                        mewah dan datang dengan kendaraan yang mewah pula.

                        DAFTAR KEPUSTAKAAN

                        Arabi, Ibn, Fushush al-Hikam (The Bezels of Wisdom),
New York,
                        1980.

                        Afifi, AE. The Mystical Philosophy of Muhyi al-Din
Ibnul
                        'Arabi, Lahore, 1938

                        Cassirer, Ernst., An Essay on Man, London, 1978.

                        Izutsu, Toshihiko, The Concept of Perpetual Creation
in
                        Islamic Mysticism and Zen Buddhism, Teheran, 1977.

                        Massiggnon, Louis., The Passion of al-Hallaj, Jilid
II dan
                        III, Princeton, 1982.

                        Nasution, Prof. Dr. Harun, Falsafat dan Mistisisme
Dalam
                        Islam, 1973

                        Ross, Raiph., Symbols and Civilization, New York,
1962.

                        Schimmel, Annemarie, Dimensi Mistik Dalam Islam,
Jakarta,
                        1976.

                        Valiuddin, Dr. Mir., The Qur'anic Sufism, Lahore,
1978.



        
---------------------------------------------------------------------
                Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong):
[EMAIL PROTECTED]
                Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong):
[EMAIL PROTECTED]
                Dokumentasi Milis :
http://www.mail-archive.com/[email protected]
                Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit
P)



                

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke