BismilLaahir Rahmaanir Rahiim
Assalaamu'alaykum ww.

Berikut,  saya  kutipkan  feature  dari Bisnis Indonesia tanggal 08 Agustus
1999.
(http://www.bisnis.com)


Perasaan tak aman dan resah hasil penanaman nilai hidup

Kasus perkosaan, perampokan, bentrok antara warga, pembunuhan sadis, hingga
penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang, yang kabarnya sudah merambah
siswa sekolah dasar, menimbulkan permasalahan di tingkat lokal dan
nasional.

Masalah yang cenderung meningkat frekuensinya itu adalah refleksi dari
perasaan tidak aman dan keresahan dalam kehidupan masyarakat, khususnya di
wilayah perkotaan.

Pengamat sosial Djamaludin Ancok menilai fenomena itu merupakan hasil
penanaman nilai hidup (values) yang tidak mendukung terwujudnya
keberlangsungan hidup (sustainability) masyarakat.

"Padahal values pada dasarnya adalah sumber rasa aman dan bagian utama dari
faktor yang menunjang sustainability masyarakat."

Mengutip Lester R. Brown dalam buku Building sustainable society, Ancok
mengungkapkan untuk membangun masyarakat yang memiliki kesinambungan harus
disertai upaya membangun tata nilai baru untuk mengganti tata nilai yang
saat ini dominan.

Beberapa nilai yang harus dibangun adalah meninggalkan kehidupan yang
sangat didominasi orientasi materialistik-individualistik dan menggantinya
dengan nilai yang berorientasi keberlangsungan hidup.

"Orientasi hidup yang ingin mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya diganti
dengan orientasi menjaga kelestarian lingkungan hidup dan sosial. Nilai ini
menanamkan pada kebanggaan yang lebih bila memberikan banyak kontribusi
kepada orang lain," kata dia belum lama ini.

Refleksi dari nilai ini, tandas Dekan Fakultas Psikologi UII Yogya itu,
meliputi pemerataan pembagian pendapatan, aksesibilitas memanfaatkan sumber
daya, kesempatan kerja, kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan
sosial lainnya.

Paling tahu

Nilai-nilai hidup yang dianjurkan itu, kata Ancok memang indah saat
diucapkan. Tetapi dalam kenyataannya sangat sulit untuk ditumbuhkembangkan
dalam kehidupan masyarakat akibat pengaruh yang lama dan intens.

Di masa Orde Baru (Orba) yang sampai sekarang masih sangat terasa
nuansanya, pemerintah sangat dominan dalam mengatur kehidupan masyarakat.
Pejabat merasa merekalah yang paling tahu soal pembangunan.

"Masukan dari masyarakat yang berupa kritik digilas dengan ancaman
subversi. Peraturan dan perundangan yang dibuat selalu berpihak pada
kepentingan penguasa dan bukan berpijak pada kepentingan rakyat sehingga
rasa percaya hampir tidak ada yang tersisa."

Berbagai penataran menjadikan pejabat curiga atas segala inisiatif dari
masyarakat, khususnya bertentangan dengan aspirasi penguasa. Akibat kondisi
ini inovasi sosial masyarakat sangat sulit muncul untuk membangun
kemandirian dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Permasalahan lainnya adalah partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan
pemerintahaan lokal sebatas dilakukan melalui DPRD. "Padahal anggotanya
sebagian besar warga partai yang menguasai pemerintahan. Mereka tidak
leluasa bersuara vokal karena ancaman recalling."

Singkatnya, kata dia, DPRD hanya menyuarakan kepentingan pemerintah. Inilah
yang membuat frustrasi dalam kehidupan masyarakat makin menumpuk dan
akhirnya meledak dalam berbagai bentuk patologi sosial.

"Untuk mengatasi kondisi ini salah satu jalan yang mesti ditempuh adalah
membangun jalur komunikasi selain DPRD pada cakupan pemerintahan kota yang
lebih kecil seperti kampung, desa, atau kecamatan."

Dari apa yang dipraktekkan di Amerika Serikat, dia menyebut lembaga town
meeting yang memungkinkan setiap wakil masyarakat dari berbagai unsur
datang berpartisipasi menyampaikan gagasan. "Pertemuan memberi masukan
sangat bagus pada penyelenggara pemerintahan tentang masalah yang perlu
segera ditangani."

Ditinggalkan

Rembug masyarakat semacam ini, kata Ancok, sebenarnya merupakan bagian
pembangunan kapital sosial suatu masyarakat. Pengertian kapital itu mengacu
pada fungsi organisasi sosial seperti jaringan, norma, dan kepercayaan
sosial yang memungkinkan koordinasi dan kerja sama demi manfaat bersama.

Hal ini juga menyangkut pengertian masyarakat yang baik yaitu masyarakat
yang memberi kesempatan pada anggotanya untuk berpartisipasi dalam
perencanaan, implementasi, dan evaluasi kegiatan masyarakat dalam membangun
kehidupannya.

"Sebenarnya wahana melakukan ketiga langkah itu yang harus disediakan itu
dalam masyarakat tradisional Indonesia banyak sekali. Sayangnya sampai kini
cenderung ditinggalkan."

Dalam penelitiannya dia menemukan banyak sekali organisasi tradisional yang
berguna bagi masyarakat. Dia menyebut rembug desa, lumbung paceklik,
organisasi kematian, arisan, pengajian, kesenian, dan subak.

Dalam lembaga itu anggota masyarakat berkumpul dalam suatu keakraban
sehingga anggota merasa dirinya diperhatikan sebagai bagian dari
kebersamaan. Di situ kebutuhan dan kesulitan bersama dibicarakan.

"Organisasi seperti itu adalah warisan kapital sosial yang perlu makin
dikembangkan guna mengatasi rasa cemas dalam kehidupan bersama khususnya di
perkotaan. Dengan lembaga ini kebutuhan akan perhatian, dihargai, hingga
aktualisasi diri dapat diwujudkan."

Selain itu berada dalam suatu ikatan sosial yang cukup kohesif diharapkan
konformitas (kepatuhan) para anggota organisasi pada norma sosial akan
semakin mengental. "Jadi lembaga itu akan menjadi bagian dari kontrol bagi
anggotanya agar berperilaku sesuai dengan norma kelompok."

Kepemimpinan

Untuk menumbuhkan nilai-nilai yang bisa menopang keberlangsungan hidup itu,
lebih lanjut Ancok menekankan perlunya perombakan total dalam kehidupan
bermasyarakat. Terutama menyangkut masalah birokrasi pemerintah dan
kepemimpinan.

"Suksesnya penyelenggaraan kehidupan masyarakat melalui birokrasi
pemerintahan tidak lepas dari gaya kepemimpinan yang diterapkan. Gaya
kepemimpinan sentralistik tidak memungkinkan berkembangnya kapital sosial."

Gaya penguasa tunggal ini, katanya, adalah gaya feodal yang arogan karena
merasa diri paling tahu. Padahal kepemimpinan yang diperlukan untuk
menghadapi kehidupan masyarakat yang makin kompleks di masa depan adalah
kepemimpinan bersama (shared leadership).

"Dalam kehidupan dengan perubahan yang sangat cepat pemimpin tidak mungkin
tahu segalanya, bisa menangani semua pekerjaan, dan bertanggung jawab
sendiri atas semua hal yang terjadi."

Untuk inilah, menurutnya, birokrasi pemerintah perlu mengubah gaya
kepemimpinan dari pendekatan penguasa tunggal menjadi kepemimpinan
jaringan. Gaya ini memadukan berbagai unsur kepemimpinan pejabat, pemuka
agama, tokoh organisasi sosial, dan kemasyarakatan lain.

Selain itu kepemimpinan gaya baru ini, kata dia, harus bersifat
transformasional yang membangun masyarakat ke arah suatu visi ideal dan
bangga akan kemampuannya sendiri mencapai ciri sesuai visi itu.

Jadi para anggota kepemimpinan harus membangun visi bersama dan menyusun
tolok ukur sukses kepemimpinan dalam membangun masyarakat. Tolok ukur ini
sangat diperlukan agar kepemimpinan dapat diukur.

"Kekacauan kepemimpinan di masa Orba adalah akibat tolok ukur sukses
pemimpin tidak pernah dibuat transparan. Karena itu masyarakat tidak
mengetahui secara resmi dan pasti apakah pemimpinnya sukses atau gagal
melaksanakan tugasnya." (rab)

�COPYRIGHT 1998 BISNIS INDONESIA
PT Jurnalindo Aksara Grafika



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke