Terima kasih Eyang Semar atas emailnya,

 

Eyang Semar memberi tahu saya:

[1] saat manusia masih berupaya dekat dengan Tuhan, maka sujatinya Tuhan
belum dekat dengannya...

[2] saat manusia tidak membicarakan tentang Tuhan, maka 

[2.1] sujatinya Tuhan sudah dekat dengannya ATAU 

[2.2] manusia itu sudah putus sama sekali"...

 

Komentar dari saya:

[1]

Dalam buku "Serat Jatimurti" pada bab 'ukuran kang kaping papat' atau
dimensi yang ke-empat, yaitu ruang dengan absis -ordinat lahir (=fisik) -
batin (=goib) kita dapat memandang bahwa alam semesta 3 dimensi yang kita
huni ini (coordinat X-Y-Z) berada pada titik nol yang kita sebut lahir
(=fisik) dan pada titik tidak terhingga jauhnya kita anggap tuhan
bersemayam,  titik batinnya maha batin (=goib-ul-ghoib). 

Orang islam menyebut tuhan sebagai ghoib-ul-ghoib. Diajarkan pula bahwa
segala sesuatu tidak ada yang berada diluarnya, karena segala yang ada
adalah manifestasi wujudNya jua.

Jadi kondisi upaya mendekat.. selamanya benar.. karena sifat dan fitrohnya
mahkluq selamanya tidak akan pernah nyampai di titik dimana tuhan berada.
Adanya perasaan menyatu, melebur dls SAYA YAKINI hanyalah rasa-rasa diri
sendiri. Yang disebut KEMBALI hanyalah dalam perjalanan kembali dan akan
terus dalam perjalanan itu.. jikalau tidak terkecoh tersesat dari arah yang
lurus menuju kedalam. 

Paramhansa Yogananda dikisahkan oleh Donald Walter telah menyebut 'tuhan'
sebagai berada di.. pusat lingkaran yang berada dimana-mana, saya anggap ini
adalah pernyataan benar  yang sama.

 [2]

Tidak membicarakan adalah sebuah kondisi diam.

Dan tidak ada relasi langsung tentang posisi bahwa dia dekat atau tidak,
kondisi terputus atau terrsambung.

Bukankah demikian Eyang? 

 

Kisang pengajaran dibawah mungkin menjelaskan perihal apakah kondisi diam
tidak bicara ada hubungannya dengan posisi dekat atau jauh, terputus atau
tersambung.

 

Ada buku berjudul 'Rahasia Maha Agung' ditulis oleh.. Mustofa  Mahmoud?,
penerbit Bina Ilmu?, Surabaya dan 'Permata Yang Indah' oleh Syeikh Abu Nafis
al Banjari yang barangkali nyambung dengan hal yang kita omongin ini,

 

Selebihnya silahkan Eyang Semar memberikan dimana terdapat kesalahan.

 

Pertanyaan saya buat Eyang, kenapa memakai nama kind evil? Adakah evil yang
kind?

Karena bagi sya bagaimanapun itu adalah sebuah ekspresi, apapun alas an
dibelakangnya..

Minta penjelasannya ya Eyang?

 

Salam,

Sunar i

 


 


Pedagang Rahasia


 

Seorang guru mistik, setelah ia mencapai pengetahuan yang serba rahasia
mengenai kebenaran sejati, yaitu pengetahuan yang hanya dapat dicapai oleh
segelintir manusia, ia bermukim di Basrah.

 

Di sana ia memulai sebuah usaha dan dalam beberapa tahun saja telah
memperoleh kemajuan.

 

Pada suatu hari seorang guru sufi yang telah mengenalnya beberapa tahun yang
lalu, namun masih berada di atas jalan yang ditempuh oleh pa.ra pencari
kebenaran, singgah di tempat kediamannya.

 

"Betapa gundah hatiku menyaksikan engkau yang telah meninggalkan pencarian
dan jalan kaum mistik", berkata sang guru sufi. Pedagang yang arif bijaksana
itu hanya tersenyum dan tidak memberi komentar apa-apa.

 

Sang guru sufi kemudian meneruskan perjalanan dan di dalam
wejangan-wejangannya dikemudian hari ia sering kisahkan, betapa seseorang
bekas sufi yang kemudian beralih kepada cita-cita yang rendah dalam dunia
perdagangan karena ia tampaknya tak memiliki tekad yang perlu untuk
menyelesaikan perjalanan.

 

Tetapi sang guru sufi pengelana ini akhirnya bertemu dengan Khaidir, sang
penunjuk jalan rahasia. Si guru sufi memohon kepada Khaidir untuk
mengantarkannya kepada guru arif bijaksana pada zaman itu, yang akan
memberkahi terang ke dalam hatinya.

 

Khaidir berkata: 

"Jumpailah seseorang pedagang anu, duduklah di kakinya, dan laksanakanlah
kerja kasar yang disuruhnya".

 

Sang guru sufi tidak habis pikir, iapun berkata dengan tergagap:

"Tetapi betapa mungkin bahwa pedagang itu adalah salah seorang dari
manusia-manusia terpilih, apalagi sebagai guru agung zaman kini ?" 

 

Khaidir menjawab: 

"Karena ketika ia mendapatkan terang ia pun telah berhasil memperoleh
pengetahuan duniawi. Untuk pertama kali ia rnenyadari bahwa sikap manusia
suci menarik orang-orang tamak yang berpura-pura mencari pengetahuan
spirituil dan menolak orang-orang tulus yang tidak takjub kepada penampilan
lahiriah. Aku telah menunjukkan kepadanya betapa guru-guru yang saleh dapat
ditenggelamkan oleh pengikut-pengikut-nya. Maka ia memberi pengajaran dengan
diam-diam dan bagi orang-orang yang dangkal penglihatan ia hanyalah seorang
pedagang biasa".

 

 

 

From: semar samiaji [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Wednesday, October 22, 2008 2:20 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Subject: To: Mas Sunari...Menemukan Tuhan di Las Vegas Boulevard 

 


Mas Sunari..apa kabar? sudah lama kita tidak berdiskusi ya :-)....ok Mas,
saya beri warna sebagai berikut:

 

"saat manusia masih berupaya dekat dengan Tuhan, maka sujatinya Tuhan belum
dekat dengannya...saat manusia tidak membicarakan tentang Tuhan, maka
sujatinya Tuhan sudah dekat dengannya ATAU manusia itu sudah putus sama
sekali"...

hanya ini sich Mas....

 

salam berbagi,

ss

 

__,_._,___ 

 

_______________________________________________
Tasawuf mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/tasawuf

Kirim email ke