On Sat, 16 Oct 2004 10:58:16 +0900, baskara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> A m e n  <[EMAIL PROTECTED]> to teknologia
> 
> > kalau saya naek busway, saya lihat pengumuman di display dan suara
> > wanita yg menyebutkan nama pemberhentian nya masih dijalankan secara
> > manual oleh supir (operator?) dengan play dari tape mobil nya. kenapa
> > ya belum pake gps, jadi kerja supir nya lebih mudah cukup konsentrasi
> > ke nyetir :)
> 
> Bus-nya busway itu sudah mempunyai rute yang tetap. Untuk apa membeli
> alat GPS kalau rutenya tetap? Mungkin sambil "merem", sopirnya juga
> sudah tahu haltenya berapa meter lagi...:-) Lebih baik direkam saja,
> atau sopirnya yang ngomong sendiri (bis kota di Tokyo pakai
> dua-duanya..jadi, sopirnya pakai microphone juga). Sistem KRL-pun
> masih pakai "mulut" juga (perhentian berikutnya diberitahu petugas KRL
> yang berada di paling belakang). Lagipula, kalau pakai GPS, saat masuk
> terowongan, sinyalnya hilang dan updating lokasi setelah keluar
> terowongan butuh waktu (pengalaman naik mobil yang pakai navigasi GPS
> di dalamnya).
> 

MRT dan LRT di Singapura, tanpa awak, tepat waktu. Fully automated. 
Pokoknya gua ampe terbengong-bengong ngeliatnya. Kok bisa gitu ya? 
Sistemnya juga jarang down, kabarnya.

Sistem ini memang tidak butuh GPS, mungkin cukup dengan pasang sensor di
rel. Tapi yang harus digarisbawahi adalah tanpa awak. Bukan masalah tekno-
loginya, tapi masalah keamanan infrastruktur. Kok bisa fasilitas umum yang 
tidak "dijaga" tetap aman? Di Indonesia bisa gak ya?

Saya dapat info dari seorang teman, di KL juga menerapkan sistem yang sama,
tapi sering down, dan parahnya jaringan bisa mati sampai sekitar 10 menit. Gak
kebayang gelap-gelapan 10 menit di dalam kereta bawah tanah.

-- 
Reno S. Anwari
http://sirenogoblog.blogspot.com
Registered GNU/Linux user #367859

Kirim email ke