Pada 16 Dec 2004, 15:39:22 +0700, Budi Rahardjo menulis (diringkas):
>
> On Thu, 16 Dec 2004 09:06:35 +0100, Ikhlasul Amal
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> ...
> > Di level pekerja, apakah tidak mungkin menggunakan "barikade"
> > seperti penguasaan bahasa lokal?
> ...
>
> Tapi apakah itu cukup?
> Soalnya ada kawan saya yang mengatakan bahwa sekarang di Vietnam,
> Bahasa Indonesia sudah mulai diajarkan! Nah lo.
> Bagaimana hayo?
>
---akhir kutipan---
Waduh!
Terus terang saya baca penjelasan Pak Budi di atas sambil
meringis dan sedikit terhenyak.
* meringis karena kita seperti hendak digebuki dari semua
penjuru. Kita sendiri, Bangsa Indonesia (maaf, ini bukan
generalisasi), masih ogah bahkan untuk belajar Bahasa Indonesia
yang baik dan benar. Seorang teman yang pulang dari Kuala
Lumpur mengungkapkan ekspresinya, "Benar-benar tidak habis
pikir jika dulu kita pernah 'membantu' Malaysia." Maksud dia
adalah sekian ratus mahasiswa Malaysia yang dulu belajar di
Indonesia. Apakah hal tersebut akan terjadi juga beberapa
tahun lagi jika kita kunjungi Hanoi dan Phnom Penh,
negara-negara yang dulu kita bantu berdamai?
* terhenyak melihat militansi generasi baru Vietnam yang
terlihat semangat sekali ingin menguasai masing-masing
keahlian mereka. Di beberapa forum, mereka sudah sibuk
melakukan penerjemahan materi ke bahasa mereka.
Ada teman yang mengerjakan projek lokal sebuah kabupaten di
Jatim menggunakan perangkat lunak dari Thailand (duh!) dan di
dalamnya ternyata sudah siap dengan terjemahan dalam Bahasa
Indonesia untuk menu dan sistem bantuan. Saya tidak
mempermasalahkan penerjemahan tsb. penting atau tidak, namun
"terpukul" lagi melihat kesungguhan pemasok perangkat lunak itu
untuk mencuri sisi impresif Pemda setempat.
Jadi saya balik ke Pak Budi lagi: bagaimana, nih?
He... he...
--
amal
Stenderup's Law:
The sooner you fall behind, the more time you will have to catch up.