Pada 18 Dec 2004, 15:36:43 -0500, boy avianto menulis (diringkas):
>
> Soalnya saya punya pengalaman membantu teman membuat CD presentasi
> Museum Gajah di Jakarta dan melihat bagaimana koleksi-koleksi museum
> ditelantarkan begitu saja terbasahi air rembesan hujan dan sebagainya.
>
> Dilematis memang, disatu sisi bersyukur masih ada yang 'peduli' tapi
> disisi lain miris karena yang 'peduli' bukan bangsa sendiri.
>
---akhir kutipan---
Sekarang kita lihat perkembangan selanjutnya: patung
Prajnaparamita, yang sering dianggap sebagai patung Ken Dedes
sudah dikembalikan ke Museum Nasional Jakarta semenjak 1978.
Sebelumnya patung Dewi Pengetahuan ini menikmati layanan
istimewa di museum Leiden dari tahun 1811.
Sebagai bandingannya, teman-teman "Ken Dedes", yakni patung
Mahakala, Nandiswara, Ganesya, dan Durgamahisasuramardini, masih
disimpan di Leiden, Belanda.
Namun saya juga malu untuk protes terlalu jauh. Bukan apa-apa,
nama-nama di atas, kecuali Ganesya, saya sudah tidak ingat atau
memang belum tahu. Sampai dengan sore ini, karena Boy menulis
tentang museum, saya jadi ingat Ken Dedes yang sempat dipingit
di Leiden...
Jadilah ketemu
* Memburu Istana yang Hilang
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0303/14/Otonomi/179479.htm
Masih geleng-geleng: berita seperti itu pun oleh Kompas
dimasukkan ke dalam rubrik Otonomi! Barangkali jika tidak ada
kepentingan dengan kekuasaan Pemda, ogah juga kita menilik jauh
ke masa lampau.
--
amal
birth, n:
The first and direst of all disasters.
-- Ambrose Bierce, "The Devil's Dictionary"