On Thu, 13 Jan 2005 20:00:23 -0500, boy avianto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > studi yang berkaitan dengan manusia itu sendiri (termasuk kultur yg > > melingkupinya), kalau toh baca mentok-mentok ketemu bukunya Hofstede > > lagi, Hofstede lagi. > > Hofstede. Duh. > > Faktor 'kultur' ini memang jadi dilema di kalangan pakar antarmuka. > Antara lain karena berbicara soal kultur berarti tidak bisa berbicara > tentang universalisme dan pada akhirnya setiap produk benar-benar > tergantung akan kultur dimana produk tersebut akan dipasarkan.
Sebetulnya kalo yg saya perhaitkan, adalah banyak researcher tersebut relatif tidak dibesarkan di lingkungan di mana kultur berperang besar pada akseptansi suatu produk teknologi. Sehingga sering mereka belum/tidak merasa hal itu menjadi masalah.. Mungkin kalau diajak jalan-jalan di Indoensia baru pada melek. Soal universalisme, dulu awalnya topik Human Computer Interface, dianggap juga hal yang tidak "penting" karena tidak bisa dibuat memenuhi prasyarat universalisme. Tapi toh sekarang tidak lagi. Nah mungkin 10 tahun lagi kalau baca buku-buku HCI, akan ada bab lumayan besar soal kultur. Sama dengan 10 tahun lagi bab HCI di buku software enginerering hanya tertulis kecil, tapi sekarang sudah jadi bab eh malah buku terpisah. > Yang sekarang ramai adalah soal PSP (PlayStation Portable). Ternyata > tombol-tombolnya itu terlalu kecil dan terlalu dekat dengan layar > sehingga apabila dipakai oleh orang non-Asia yang jarinya besar-besar > layarnya jadi tertutup jari dan jadi kotor akibat sidik jari. OK, ini > bukan contoh 'kultur' sebenarnya 'fisiologis', tapi paling tidak > menggambarkan kesulitan mendapatkan konsep antarmuka universal. > > Mungkin tidak ya? Itu lebih pada pengaruh anthropomorphic. Sebetulnya ada index ini untuk tiap bangsa (he he he yg memulai pekerjaan itu sebetulnya si Hitler, di kamp Nazi, tim mereka mengukur ukuran rerrata dari badan orang berbagai bangsa, yahudi, jerman asli, roman, dsb). IMW
