On Sat, 15 Jan 2005 11:05:05 +0700, Budi Rahardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Lihat saja ... setelah 3 atau 5 tahun berlalu, maka lupalah dia > dengan hal-hal yang pernah dikerjakannya di luar negeri.
Seorang teman (lulusan Jepang) pernah berkonsultasi dengan saya bagaimana kalau dia melamar untuk menjadi dosen di ITB atau UI. Saya katakan saja bahwa kalau kamu mau banting setir, tidak masalah. Begitu kamu injak kaki di sana, apa yang kamu kerjakan di sana jauh berbeda. Kalau ingin tetap bertahan dengan bidangmu sekarang, kamu tidak bisa hidup. Akhirnya dia pilih mau bekerja di Max Planck Institute. Memang itu yang saya lihat saat di ITB. Pulang ke ITB setelah lulus sekolah, semangat 45 ba-bi-bu, setelah beberapa lama, jurus-jurusnya berubah. Semula ala Sherlock Holmes, berubah menjadi ala Bende Mataram.
