On Mon, 17 Jan 2005 08:22:47 +0900, Pakcik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> kebanyakan baca buku, BHTVnya nanti gak jadi2 Pak. :p harus dua-duanya: practice & theory. Kalau hanya modal nekad (seperti di beberapa tempat di Indonesia), ya hasilnya bakalan kurang optimal (kata halus dari gagal :)) Usaha untuk membuat technology site di Bandung sudah ada sejak jaman tahun 70-an. Bahkan kalau kita mau lihat sejarahnya, sejak jaman Belanda! (Hebatnya orang asing: mereka membuat rencana!) Sampai sekarang masih tertatih-tatih. Jadi harus lari ke teori. Mungkin ada sesuatu yang kurang. Bahan baku (ingredients) di Bandung sudah ada. Kalau menurut artikel di majalah Wired, yang masih tidak ada di Bandung adalah *multinational company* yang menjadi jangkar. (Provide employment) Tadinya IPTN bisa menjadi jangkar, seperti halnya di California. ([EMAIL PROTECTED] it, saya lupa nama perusahaannya. Padahal perusahaan kapal terbang besar. Grrrrrrr!!! Sudah buka-buka dua buku Silicon Valley, belum ketemu namanya. Saya masih ingat gambarnya, tapi gak ketemu. Oh ya, saya baru teringat nama kawan pak Samaun itu TJ Rodgers dan dia bosnya Cypres.) Sayangnya IPTN tidak dapat menjadi jangkar. Karena alasan multinational company inilah saya ngotot mendekati Microsoft, IBM, Schlumberger, Intel, dan perusahaan besar lainnya untuk membuka semua research center di Bandung. Tidak perlu besar. Cukup dengan 5 researcher saja. Tapi yang penting exist. (Ini untuk membuktikan teori yang ada di majalah Wired itu.) Jadi ini pentingnya baca buku ... :) Seperti halnya orang buka restoran, harus banyak baca buku tentang resep-resep masakan. Ya ndak. Atau nggak perlu? -- budi
