On Tue, 18 Jan 2005 10:52:05 +0900, Pakcik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pertanyaannya, seberapa banyak hobbist di Indonesia? saya rasa dikit
> banget. Hobbist umumnya di jumpai di negara maju, karna negara
> berkembang seperti indonesia masih susah cari duit. Boro2 hobby, buat
> makan aja susah.  Atau mungkin ada hobby yg gak butuh duit?

Ini mitos, bahwa di negara maju lebih banyak duitnya dan nggak susah.

HP dimulai dengan hanya investasi US$500.
Waktu mulai Apple juga the Steves tidak punya duit. 
(Never mind a US$400 bank account, kata Woz.)
Cisco juga dimulai dengan gali lubang tutup lubang credit card.
Jadi bukan masalah uang!

Yang beda:
- semangat juang. hidup atau mati di bidang XYZ.
  hidup atau mati saya mau ke Mars, misalnya.
- risk takers
- sistem finansial yang beda. misalnya, di sana ada venture capital.
  di sini, venture capital lebih mirip bank. (meminjamkan uang.)
- intellectual property sudah dikenal sebagai modal, sama dengan uang.
  jadi bisa pinjam ke bank dengan modal itu.
  kalau di indonesia, start-up nggak bisa pinjam uang dari bank
  (meski menurut saya ini seharusnya adalah langkah terakhir)
  karena nggak ada agunan.
  (coba aja mengkonversikan intellectual property menjadi saham
  di indonesia, pasti notaris dsb. bingung.)
- hal-hal yang terkait dengan saham masih belum sempurna di sini.
  coba aja anda jual beli saham/pindah tangan saham. rese banget.
  padahal pada tahap awal, sering sekali ini terjadi.
  (habis duitnya untuk bayarin notaris.)

dengan kata lain:
- orang kita masih lelet
- "infrastruktur" bisnis (bukan infrastuktur teknis seperti telepon,
  internet, dsb. lho) masih belum optimal

kadang-kadang terpikir juga oleh saya, ngapain saya repot2 menjadi
entrepreneur. menjadi PNS lebih mudah. tinggal ongkang-ongkang kaki,
gaji datang terus.
menjadi entrepreneur memang membutuhkan pengorbanan yang besar.
kalau tidak suka ... sudah lama saya tinggalkan.

--  budi

Kirim email ke