On Thu, 20 Jan 2005 15:59:03 +0700, Budi Rahardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Bukan salah masyarakat (awam), kalau menjuluki > seseorang sebagai pakar. Karena di mata publik, orang > ini memang tampil sebagai pakar: selalu bicara tentang > pengetahuan tertentu secara meyakinkan, dan mudah > dipahami masyarakat. Masyarakat awam tak punya > kemampuan (ilmu) untuk mengkritisi, jika si "pakar" > ini salah ucap.
sangking mudahnya bahkan masyarakat jadi terlena kalau yang dikatakan pakar itu salah, dan pakar itu tidak mau mengadakan press release soal kesalahannya > Kalau memang si A (tak usah menyebut nama) sebenarnya > bukan pakar, dan penjelasannya sering salah, adalah > tugas pakar yang sebenarnya atau lembaga asosiasi > dalam bidang ilmu/pengetahuan terkait, untuk > menunjukkan letak kesalahan itu pada masyarakat. > Selama kritik atau sanggahan tidak dilakukan, ya tentu > saja "kepakaran" si A itu tetap bertahan. Masyarakat > tak melihat ada yang salah kok! masalahnya bukan tidak ada usaha untuk hal ini :) terakhir sekali sang pakar bilang jangan percaya dng situs yang tidak resmi, ya percuma saja diluruskan kalau mereka (awam) sudah terlanjur terlena. > Seharusnya pula, komunitas ilmiah atau asosiasi ini > memberi alternatif, menunjukkan siapa-siapa saja yang > sebetulnya pakar dan pantas jadi narasumber wartawan. > Jangan cuma menyalahkan masyarakat dan wartawan. > Sehingga media massa dan masyarakat bisa beralih ke > sumber-sumber informasi yang lebih kompeten, lebih > bertanggungjawab. gerombolan siberat :) > > Mungkin orang-orang yang banyak mengkritik figur > > seperti itu perlu mengikuti jejaknya agar sama > > seperti publik figur tersebut, menjadi terkenal. > > karena kritikan datang umumnya karena ada perasaan > > kecemburuan dan menjatuhkan bukannya kritik > > membangun inilah yang sepertinya diterapkan oleh beliau, dilihat dari reply2 milis yang cenderung menyerang orang yang berusana meluruskan tanpa ada penjelasan dari beliau. > > alasan mengapa Mas Roy > > dijuluki pakar oleh sebagian kalangan wartawan. > > > > Alasan itu adalah: > > 1.Mas Roy bisa dikatakan pihak pertama yang > > mempopulerkan TI ke > > publik. Pada kasus Tommy, ia bicara soal deteksi > > keberadaan pemilik > > ponsel pada pers. Pada kasus Habibie, ia juga > > mengangkat isu sadap > > telpon. Di kasus Sukma-Bjah, dia juga yang > > menjelaskan soal > > metadata.Adakah saat itu pakar TI yang bisa dengan > > mudah mengaitkan > > TI pada isu hot? Belum ada. hanya dengan melihat metadata sepintas tanpa ditelusri apa, mengapa dan bagaimana metadata dibuat bahkan dapatkan dimodifikasi sudah menjatuhkan vonis :(. sebaiknya dilakukan pembuktian, riset atau apalah sebelum memutuskan sesuatu. sebuah program saja melalui jalur bertahap dari pre-beta-rc-rilis/stabil tidak ada yang langsung bilang stabil > > 2. Memang Mas Roy tak punya latar pendidikan formal > > TI, tapi dengan > > keluasan wawasannya ia bisa menjelaskan secara > > gamblang dan mudah > > dicerna pada publik. Bahasa yang digunakannya cukup > > membumi. Wartawan > > yang saat itu (saat Mas Roy mulai disorot publik) > > belum paham benar > > dengan TI, tentu akan senang menghubungi Mas Roy. > > Dan bidang TI yang > > dipaparkannya begitu beragam, maka para wartawan > > dengan mudah saja > > memberinya titel "pakar multimedia". wawasan luas dng penjelasan yang ngawur :) > > 3.Mas Roy tipe publik figur yang mudah dihubungi. > > Teman saya di desk > > politik pernah menghubungi ponselnya pukul 6 pagi. > > Dan Mas Roy dengan > > enteng bersedia diwawancarai. :) orang mungkin melihat caller idnya mau jam 1 malem kalo caller idnya orang terdekat dan mendatangkan keuntungan (pamor) pasti diangkat. Bahan blog :) hayu siapa duluan -- http://secandri.com/blog
