On Wed, 16 Mar 2005 17:12:39 +0900, Achmad Husni Thamrin
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> On Wed, 16 Mar 2005 08:42:43 +0900, Pakcik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kenapa media tradisional menjadi tidak relevan hanya karena media itu
> tidak menangkap dan memberitakan semua kejadian?
> Apakah Anda berbicara tentang kejadian atau berita?
> Anjing gigit orang adalah sebuah kejadian. Orang gigit anjing pun
> adalah sebuah kejadian.
> Tetapi yang mana yang lebih punya nilai berita?
> Jika misalnya orang yang digigit anjing itu adalah tetangga Anda,
> barangkali itu memiliki nilai berita buat Anda (jangan-jangan anjing
> itu rabies). Tetapi kemungkinan besar seseorang yang berada 10ribu
> kilometer dari rumah Anda tidak merasa perlu untuk tahu kejadian itu,
> kecuali jika orang yang digigit itu adalah ayahnya.

ini menghasilkan teori baru lagi (hayalan baru lagi) :d
berita itu akan datang dengan sendirinya. jika seseorang adalah
dokter, suka computer, suka iseng, tinggal di RT X. dia akan
mendapatkan berita itu secara otomatis. kok bisa? seseorang itu karna
dia mahluk sosial, akan masuk ke dalam komunitas dokter, geek, orang2
iseng, dan RT X . komunitas2 itu adalah bagian dari social network
dunia. Dari komunitas dokter dia dapat berita kedokteran, dari RT X
dia akan dapat informasi di RT itu, termasuk berita anjing gigit2an
tadi.

Kalau orang yg tinggalnya 10 ribu kilometer, tentu dia gak dapat
berita anjing tadi secara otomatis (tidak punya nilai berita untuk
dia), karna dia gak ada dalam komunitas itu, kecuali dia pernah
tinggal di RT X dan masih ada link dgn orang2 di RT X .

gimana membentuk jaringan ini? dengan semantic web, foaf, xfn, rss,
atom, dan masih banyak lagi.

enak emang menghayal :)

> 
> >
> > media tradisional mungkin bisa berargument bahwa mereka punya standard
> > kualitas. percaya atau tidak (ini bukan hasil survey), saya tanya
> > beberapa teman2 saya yg pake news aggregator (termasuk saya), mereka
> > akan mengklik entry dari orang yg dikenalnya dulu dari pada entry dari
> > situs2 berkualitas seperti new york times, dan lain2.
> 
> Ini hanya anecdotal evidence. Media juga sering memberitakan anecdotal 
> evidence.
> Coba tanya teman-teman Anda yang lain, dan tanya juga dengan
> orang-orang lain yang bukan teman Anda.

Ini emang gak ada datanya.  hanya bermain paranormal2an. :)


-- 
Pakcik
http://www.izenk.com

Kirim email ke