On 4/26/05, Ronny Haryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> On Tue, Apr 26, 2005 at 10:44:48AM +0300, Mohammad DAMT wrote:
> > waktu sma saya pernah protes ke pak guru ttg sebuah rumus trigonometri
> > yg saya anggap tidak tepat,
> > tapi apa yg saya dapat? pak guru bilang: kamu jangan protes, apalagi
> > di depan anak2!
> 
> Memang menyedihkan yang seperti ini. Tidak encourage discussion dan
> critical thinking. Padahal tidak semua disagreement == disrespectful.
> Selama menyampaikannya baik2 dan objektif, why not. Saya lebih respect
> guru yg encourage student utk mengoreksinya dan memulai diskusi yg
> lebih menggugah pikiran, bisa jadi lebih mengerti dan sukur2 inspiring
> (jatoh2nya jadi invention, hehe). Orang yg makin gila hormat malah
> saya makin kurang respect. Guru yg paling berkesan itu yg bisa dekat
> dg anak2 dan rasanya seperti temen, yg penting kita juga nggak jadi
> nggak sopan sama beliau.
> 
> Bahkan orang tua saya sendiri pernah bilang "kalo sama guru jangan
> suka membantah", padahal saya cuma nanya kenapa kok penggunaan suatu
> kata (bahasa Inggris) itu begitu. Ya ini saya tidak setuju dg orang
> tua saya.
> 
> If I run the country, I would put education as my top priority instead
> of economy. But it's probably not as simple as it seems, and it's
> probably why I don't run the country :-)
> 
> Ronny
> 

Memang pendidikan di Indonesia sangat terpengaruh dengan budaya feodal
dari om-om belanda dulu. Bahkan bukan cuma pendidikan, hampir semua
budaya kita itu kena imbas negatif dari feodalisme zaman kompeni dulu.
Lagipula emang budaya orang asia pada umumnya lebih mentingin
penampilan daripada isi.. gitu deh.
Namun, saat ini pemerintah udah mulai mencoba untuk merubah hal-hal
ini kok. Tidak mudah memang, dan tidak cepat. Kurikulum 2004, yang
disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi, tidak lagi seperti kurikulum
waktu kita sekolah dulu. Saya sendiri melihat, adanya perubahan pada
guru-guru yang mengajar, mau ngga mau, sedikit demi sedikit budaya itu
harus berubah. Mereka menjadi fasilitator semata, sedangkan si murid
yang berperan aktif. Kebetulan (i hate this word), saya bekerja di
perusahaan yang terlibat dalam komputerisasi pendidikan berbasis KBK
ini, udah gitu, kita 'melayani' kota dimana saya dulu tumbuh dari SD
sampe SMA di sini.. Bener deh, gua ngeliat sendiri guru-guru SMA gua
yang dulunya kolot bisa kok berubah sedikit demi sedikit, seiring
dengan semakin dibekalinya mereka dengan informasi tentang KBK itu
sendiri.

Ah, harapan terakhir sih, moga-moga KBK ini gak segera digusur.. biasa
kan gitu, ganti pemerintahan.. ganti sistem lagi.. basi, busuk, bubar
aja deh :P

-- 
john chendra <http://john.chendra.net/>

Kirim email ke