Email dari wenang, 11 May 2005, 06:42:44 -0700:
>
> Any opinion about how we can overcome this obstacle ? Sebab kalau
> begini seterusnya ,extremely speaking, bisa2 korporasi2 itu tidak akan
> investasi IT melalui software house Indonesia malah beralih ke
> Malaysia atau India ??? :p
>
---akhir kutipan---
Misalnya saja bisnis TI di Indonesia benar-benar suram (kasus terburuk)
dan kemudian orang-orang yang memang panggilan jiwanya di TI terus
berinisiatif menyelenggarakan dunia TI untuk hal-hal non-komersial,
misalnya pemberdayaan pendidikan, media informasi, pencerahan komunitas,
dll. Kira-kira bagaimana?
--
amal - http://coretmoret.web.id
Q: How many marketing people does it take to change a light bulb?
A: I'll have to get back to you on that.
Kalau boleh tahu, yang akan disorot apakah
(a) korporasi yang melakukan adopsi IT
(regardless produknya buatan Indonesia or luar)
atau
(b) software house indonesia yang membuat
system untuk perusahaan korporasi?
Kalau pendekatannya (a) bisa saja yang
kudu didekati justru persh penyedia
sistem (SAP, Oracle, Microsoft dst)
mereka pasti akan speak highly tentang
perusahaan mana aja yang sukses
dengan produk mereka.
Baru abis itu cross cek ke perusahaan tsb.
Sukses beneran apa enggak.
Kalau pendekatannya (b) maka yang
didekati adalah perusahaan pengguna
jasa IT nya aja dulu.
Kita list persh apa aja yang mau dicek.
Di-list yg kira-kira sukses mengadopsi,
dan yang kira-kira tidak sukses.
Contoh kasus: BEJ tahun 95 sukses
berubah dari perdagangan manual ke komputerisasi.
Tapi sistemnya (proprietary) buatan Australia.
Dalam kerangka "sukses korporasi mengadopsi IT"
ini termasuk prestasi dalam negeri atau enggak ya?
Kenapa ada obstacle dalam adopt IT di Indonesia?
Karena kita lemah di IT project mgt kah?
Atau sekedar "nggak bisa njual" aja?
-ivo
