Email dari sn00born, 20 May 2005, 23:48:19 +0700:
>
> Ikhlasul Amal wrote:
> >
> >Benar, makanya orang Indonesia itu yang "lebih aneh" -- sudah dipersulit
> >seperti itu pun masih saja ngotot maju terus. Tentu saja bukan Indonesia
> >lebih hebat dari Jepang atau sebaliknya, melainkan "sifat keanehannya"
> >berbeda-beda.
> >
>
> Karena ini kenyataan, mudah-mudahan gak ada yg marah ;-)...
> Di kampung saya (kampung dalam kota) dulu zaman rame-ramenya parabola
> hampir semua punya parabola. Kalau lihat hampir semua rumah-rumah kayu-
> walaupun rumahnya reot-di pinggir sungai punya parabola.
> Mudah-mudahan ngotot yang ini is for good. ;-)
>
---akhir kutipan---
Di kampung saya tidak sampai terjadi wabah parabola; kami cukup puas
dengan antena biasa, diotak-atik sedikit yang penting televisi swasta
cukup jelas dinikmati. Namun memang sempat terjadi "epidemi" interkom,
tren sesaat juga, karena beberapa bulan kemudian pemakainya bosan.
Jadi memang banyak yang bersikukuh (istilah lain yang lebih baik dari
"ngotot") untuk maju, dengan media yang berbeda dan usia-hidup yang
beragam. Parabola bagus? Menurut Pak Jalaludin Rakhmat iya, karena
beliau waktu itu dengan cepat dapat mengikuti perkembangan berita di
luar negeri -- dan memang pantaslah bagi dia yang ahli ilmu komunikasi.
Demikianlah, negara kita yang berukuran lebih besar dari Jepang tentu
punya keragaman; jadi tidak perlu terlalu khawatir, masing-masing punya
segmen penyaji dan pemirsa sendiri-sendiri.
--
amal
The coast was clear.
-- Lope de Vega