ikut ah..
Achmad Husni Thamrin wrote:
On 5/27/05, Ikhlasul Amal <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
ingat, windows bukanlah suatu kemudahan, tetapi kebiasaan. rasanya
sangat susah menghilangkan kebiasaan2. Apalagi range kemampuan
pengguna komputer di Indonesia sangat beragam.
Yoi, ingat juga Linux bukanlah kesulitan, melainkan kebiasaan. ;-)
Pindah dari satu OS ke OS lain memang terkait dengan kebiasaan, tetapi
kita tidak bisa reduksi menjadi hanya soal kebiasaan.
Linux sampai saat ini sudah sukses menggantikan Solaris dan UNIX
berbayar lainnya sebagai server OS. Tapi bagaimana dengan Windows?
Microsoft sepertinya memanfaatkan keunggulan di pasar desktop sambil
mengusung hasil survei tentang TCO dan ROI jika perusahaan pindah ke
non-Windows.
Yah sepertinya latar belakang sejarah gak bisa terhapus. Yang satu dari
latar bisnis yang satu dari latar 'from-hacker-to-hacker' (atau
setidaknya kaum pe-riset).
Seandainya mungkin tidak dianggap melecehkan konsumen, mungkin pameo
untuk MS Windows bukan 'Where ...' tetapi adalah 'We Do It For You'.
Seperti konsep installernya 'Just sit back and relax'.
Yang tidak boleh dilupakan juga adalah ECO (Emotional Cost of
Ownership). Beberapa perusahaan 'tertentu' sering dikeluhkan mempunyai
customer service yang payah, banyak yang mengeluh patch-nya relatif
lama. Tapi setidaknya belum saya dengar 'perusahaan^2 itu' menjawab
dengan RTFM atau 'Figure it out yourself !'. Maklum mereka perlu uang
kita, sedangkan yang lain gratisan. Kembali, latar belakangnya berbeda.
Red Hat mungkin pake konsep sederhana, 'mau tanya ? bayar !'
RTFM ? Maaf saya cerita di ITB.
Rasanya generasi-nya husni yang terkenal dengan RTFM.
kalau nanya pertanyaan ke generasi mereka, pasti jawabannya :
man, apropos, doc, dll. (kalo jaman sekarang google).
Hmmm... saya pribadi berusaha menghindari hal tersebut sebagai
"atribut yang melekat pada generasi".
Ya nih, Fajri berusaha melakukan pembunuhan karakter. hahaha!
Sepertinya kalimat yang benar buat Fajri adalah
"Saya mengenal generasi dahulu dengan RTFM-nya." :)
Saya memandang RTFM adalah cara belajar dengan "trial dan error", dan
itu berguna untuk mempertajam pertanyaan kita ke orang lain. Makanya
Fajri, RTFM dulu! hehehe.
Maafkan kebodohan saya, tetapi sepertinya market share Linux (dan
bukannya BSDs) menjadi besar bukan karena power user-nya (!= power
maker). Tetapi justru dari meningkatnya jumlah pengguna biasa-nya.
Membesarnya market share ini menarik 'pemain besar' untuk masuk, yang
kembali akhirnya menarik lebih banyak pengguna. Seandainya para calon
pengguna ini merasa 'terusir di pintu masuk' mungkin sejarah akan
berbeda. Berapa besar dari mereka adalah periset (setidaknya pe-ngoprek)
? Sebagian besar saya kira maunya (klo boleh pinjem istilah) Get Things
Done. Maaf for jump in.
*hahaha != hehehe*