kalau saya sendiri liatnya pemerintah bukan setengah-setengah. harap dimaklumi saja kalau kebanyakan dari kita masih suka ber-euforia. latah dan ikut-ikutan.
begitu open source menggema lalu ikut menggaungkan open source. yang penting ada koar-koarnya. sesudah itu dilupakan, itu urusan belakangan... :( jangankan pemerintah. di kampus sendiri saya nyaris frustasi. Kemarin pernah Unsyiah ini bikin OSCA (Open Source Campus Agreement) dengan pihak InfoLinux (Pak Rusmanto). Tapi apa yang terjadi? Gema open source itu cuma sesaat. Hanya tersisa segelintir saja yang masih "nekad" menggunakan Open Source, setidaknya buat di-oprekin. Antusiasme yang sama yang pernah dilihat Pak Made sendiri saat ke MIPA, bukan? And then... it's going with the winds of windows :D jadi... mari kita coba maklumi pemerintah. semuanya mesti berangkat dari bawah juga. kalo ngarepin dari atas, percayalah.... susah buat diwujudkan. mereka itu lebih produk warisan kolonial lama yang manut dan takut dicap "inlander" sama kapitalis luar sana. *maaf.... jadi rada politik gini :P * tujuan menggunakan Open Source itu yang perlu ditanyakan ulang. apakah hanya trend sesaat :P ataukah benar2 ingin memajukan pola pikir kita?
