On Fri, 2005-07-15 at 16:44 +0700, Yulian Firdaus H. wrote: > tidak hanya game tapi juga aplikasi lain (only design for windows) > atau hardware (hanya disediakan driver for windows) > > jadi linux sering dijadikan tumbal karena kurang support terhadap > berbagai aplikasi atau hardware, sedangkan kenyataannya adalah > aplikasi atau hardware yang enggan mendukung linux
Problem utama dalam deploy aplikasi game untuk Linux adalah kurangnya jaminan adanya unified base configuration yang bisa dijadikan reference platform. Developer game pasti berpikirnya game users adalah fun loving people yang tidak mau repot memikirkan banyak implikasi dalam instalasi maupun meluangkan waktu untuk troubleshootingnya. Sedihnya, di dalam distro Linux yang Gratis, banyak terjadi forking yang menyebabkan your Linux X is different than my Linux X, even though they are the same X distro. Pengalaman buruk saya di Fedora Core 1,2,3,4 selama 1 tahun ini mengajarkan saya untuk begitu. Rasanya persis seperti democrazy di Indonesia, setiap orang ngomong ini itu dan kita harus "terpaksa" menghormati pendapat setiap orang dan mengakibatkan kita tidak percaya ataupun agnostic ke semua pendapat itu. Inget, Linus Torvald hanya mengatur kernel, tapi tidak distro-nya. a.Solusinya mungkin adalah Enterprise Linux, yang berbayar, seperti dari Red Hat dan SuSe. Mereka menyajikan interfacing, roadmap dan blueprints yang konsisten dan dijamin stable paling tidak untuk 3 tahun ke depan. Atau mungkin Linux Desktop distro yang berbayar, seperti Xandros dan Linspire. Tapi kembali, banyak yang akan bertanya balik. Kalo kudu bayar, kenapa tidak pakai Windows saja? b.Solusi lain mungkin adalah Linux Distro Gratis, tapi dengan generous patron yang membiayai core team developer dan mengeluarkan update secara systematic, seperti Canonical Ubuntu. Ada yang tahu selain Ubuntu, distro dekstop lain yang punya patron seperti ini? c.Solusi lain mungkin adalah deploy aplikasi game dalam bentuk monolitic lengkap dengan all static library built in seperti Quake dan Doom. Tapi apakah ini bijaksana dari sisi penghematan resources? Mungkin iyah, toh gamers kan punya excuse untuk punya mesin yang powerful. Just my 2 cents.
