----- Original Message -----
From: "baskara" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, September 07, 2005 6:46 AM
Subject: [teknologia] Re: Bangunan bawah tanah di Jakarta, mungkinkah?


(deleted)
>
> apakah konteksnya semua energi harus dari listrik?
>
> *rada bingung*

Kita sebelumnya bicara ngalor-ngidul tentang transportasi, lalu bicara
tentang transportasi massal darat, yang mostly membutuhkan listrik
(KRL-style). Lalu ada usulan membuat reaktor nuklir untuk memenuhi
kebutuhan listrik, seperti di negara maju. Padahal di negara maju,
peranan PLTN tidak banyak. Terlalu riskan.
Contoh di Jepang, kalau ada apa-apa (gempa, kecelakaan kerja, pipa
pendingin aus, banjir, taifun), PLTN harus dimatikan untuk
pemeriksaan. Kalau terlalu sering seperti itu, byar-pet terus. :-)

------------

Sebetulnya inti dari komentar saya ttg energi adalah jangan lupa dengan
besar otot yang tersedia.
Bagaimana jika kita buat solusi yang sesuai dengan "otot" kita yang kecil.

Misalnya, supaya nggak perlu MRT mahal dan butuh energi besar,  ya kota
jangan dibuat terlalu besar.
Maksimal misalnya 1-2 juta orang saja penduduknya.
Artinya Indonesia "hanya butuh" kira-kira 100 kota kelas menengah.
Ngurusnya jauh lebih mudah, lebih murah, dan secara politik dan ekonomi
lebih kokoh.

Tapi memang bukan solusi jangka pendek,
belum lagi bicara integrasi sosial yang sekarang2 ini malah tambah jauh dari
kenyataan.
Yang sekarang hot kan malah segregasi.

Salam
Ary

Kirim email ke