Assalamu 'alaikum wr.wb. Kalau ngomongin masalah kabel telepon, tanya aja ke Telkom, kenapa kok dia nggak jualan. AFAIK Telkom cuma bisa jualan DSL di Jakarta dan Surabaya, karena kabel telpon yang dipasang di luar dua daerah itu tidak disertifikasi utk high frequency, jadinya begitu dipasangi DSL gak bisa jalan.
Kalau ngomongin masalah fiber optik, tanya aja ke Telkom, Indosat dan Excelcom, kenapa kok dia nggak jualan. Mestinya kalau mereka semua bisa jualan MPLS-VPN untuk ISP, kan enak tuh. Excelcom aja sudah kover pulau Sumatera, Jawa, Bali, NTB, Kalimantan dan Sulawesi. Akhirnya untuk menyediakan fastel utk orang Indon ini dipakailah wireless. Untuk voice so far so good. Hampir semua orang sekarang punya henpon, thanks to Kartu As dan Jempol. Tapi kalau untuk koneksi data, lagi-lagi Telkom yang bikin gara-gara. Teknologi CDMA yang mestinya diexploit keunggulannya untuk koneksi data kecepatan tinggi malah diposisikan sebagai HP murah bicara. Akhirnya operator yg agak profesional ngurusin data seperti M8 pusing, susah jualannya, karena orang terasosiasi CDMA = nelpon murah. Akhirnya Esia bikin acara muka gila (nelpon dibayar, 1 jam nelpon antar esia cuma 3000 perak), tapi Flexi lebih murah lagi utk telpon ke luar operator lain. Akhirnya cuma sedikit orang yang pake M8 untuk koneksi data aja. Saya kok malah berfikir bahwa untuk menyediakan infrastruktur Internet yang murah, PT Telkom harus ikut campur. Kenapa ? Coba lihat Telkomnet Instan. Itu satu-satunya solusi nginternet yang cepat, mudah, murah, dan ada di mana-mana, walaupun cuma dial up. Untuk mengkover area Indonesia yang besar ini, yang sudah deploy node paling banyak di Indonesia ya cuma Telkom (Flexi) dan Telkomsel. Abis siapa lagi yg musti ndeploy node di seluruh tempat di Indonesia ? Masalahnya, PT Telkom ini sepanjang pengalaman saya terkenal paling ampun-ampunan untuk main di teknologi packet switched Internet. Nggak usah ngomong MPLS dsb, ngurus BGP routing aja nggak ada orangnya yang betul-betul ngerti. Saat ini malah sudah nggak jadi NAP, nggak bisa transit AS, malah turun pangkat jadi ISP. Tapi kalau urusan circuit switched, E1, wah gila, cepet banget, belum beberapa saat, kabel tembaga sudah tergelar. Belum lagi kalau kita denger cerita bahwa antar divisi di Telkom itu saling bertengkar aja, biasanya antar DivreX dengan DivMumet, Div Saya cuma berharap mudah-mudahan player2 besar kayak Telkom, Indosat dan Excelcom bisa jualan services MPLS VPN minimal untuk sambungan ke OpenIXP dan bikin sekian banyak POP di kota-kota besar di Indonesia. Paling nggak penyelenggaraan servis IXP biayanya bukan seperti bayar bandwidth yang terus-terusan mahal dan bergantung pada dolar. Nantinya ISP lokal seIndonesia tinggal langganan ke POP nya mereka. Kalau Telkom dkk mau main ke last mile, tinggal mainkan saja servis yang mereka punya, misalnya CDMA, GPRS/EDGE atau DSL yang kabelnya diperbaiki. Kalau untuk servis Internet saya nggak tahu solusinya apa. Harga bandwidth ke upstream mahal, dan orang Indonesia ngambil content ke luar cuma tiga yang besarnya : Yahoo, Google ama Friendster. Akan tetap ada konsumsi bandwidth Internet ke luar, dan ISP mestinya memikirkan cara-cara memperkecil penggunaan bandwidth Internet seperti ini, misalnya dengan bikin web cache server. Silap salah ampun maaf, takutnya saya sok tahu begini. wass.wr.wb. -affan
