On 9/25/05, Pakcik <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > lanjutan tentang test driven dan bug tracking software: > > Pas sebelum punya jam waker, mau bangun jam berapa juga bisa. Jam 4 pagi > bisa, jam 3 pagi bisa. Badan juga biasa2 aja. > > Trus beli jam waker. Set misalnya jam 4 pagi. Hari pertama bangun. Tapi > makin lama makin bermasalah. Ketika jamnya bunyi, setengah sadar kita > matikan jamnya. Mulai telat bangun. Badan juga mulai gak enak. > > Apa sebenarnya yang terjadi? CONTROL yg sebelumnya kita yg punya, sekarang > kita lepaskan dan kasih ke jam waker. Jam waker sekarang yang pegang > CONTROL. Badan juga jadi gak enak, karna kita emang belum siap bangun, tapi > jam waker maksa bangun. >
Apa iya memang selalu begitu? Weker atau alarm sering saya aktifkan untuk keperluan "sedia payung sebelum hujan", persiapan sebelum "musibah telat bangun" datang. Pada banyak peristiwa saya malah terbangun sebelum jam weker berbunyi, yang barangkali mengindikasikan rencana bangun tersebut masih tersimpan di penjadwal bioritmik tubuh. Kita masih memerlukan alarm, alat pengendali, untuk sebuah manajemen yang lebih rapi. Sama seperti weker raksasa yang dipasang di barak tentara tentu tidak dimaksudkan bahwa para serdadu kehilangan kontrol atas diri mereka, melainkan karena ada sebuah pekerjaan manajemen (mengelola ribuan serdadu). Jika si serdadu seorang diri atau sekelompok kecil dilepas bergerilya di hutan, tentu dia/mereka tidak boleh mengandalkan weker raksasa itu. Dia/mereka harus menyadari hakekat disiplin, setidaknya atas waktu tersebut. Pemrogram yang bekerja semata-mata projek agar beres, mungkin juga menghasilkan program bagus dengan bantuan alat-alat yang kian cerdas. Pemrogram sejati? Tentu tidak puas dan dia berusaha mencari alasannya. Kedua kelompok tersebut adalah keniscayaan; masing-masing menjalankan preferensinya. -- amal
