On 9/30/05, Indra Tjahjono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> On Friday 30 September 2005 17:31, Patriawan, Carlos wrote:
> > > yo wis. yang penting bbm disubsidi dulu, soalnya reaktor nuklir
> > > tidak bisa dibangun dengan pensil dan buku. buat bayar spp saja
> > > bisa sekarat.
> > >
> > > btw, kayaknya masih banyak yang merasa 'kita harus berkorban,
> > > menerima kenaikan bbm, demi kemajuan bangsa'. lah iya yang masih
> > > sempat bisa berkorban. kalau yang sudah menjadi korban tergencet
> > > bertahun-tahun masa masih mau disuruh berkorban. yang > diuntungkan
> >
> > Iya mas Adi tapi seperti  katanya Dono Kasino Indro maju kena mundur
> > kena,siapapun yg jadi presiden pasti akan menghadapi dilema yang sama.
>
> iya, seharusnya dari dulu Indonesia udah menghadapi masalah ini, tapi karena
> terlalu keenakan di subsidi, jadinya keterusan, emang  karena mis management
> negara kita sudah terlalu jauh, Mau ga mau, kita harus hadapi, saya rasa
> sekarang saat nya kita hadapi dengan mengambil hikmatnya..
> cari sisi positif nya, toh pemerintah sudah menaikan BBM, daripada demo
> terus-terusan mendingan mikir caranya supaya bisa bersaing dan berbuat
> sesuatu untuk negara kita.
> hidup memang tidak semakin mudah, tapi semakin sukar....
>
> Lihat si Jepang, abis di bom habis-habisan, mereka bisa bangun lagi dengan
> cepat, malah menjadi yang terdepan...
>

Jepang period udah stagnant,sekarang raja baru: India dan China.

Ada quote yg menarik dari Thomas Friedman of The New York Times....

"When we were young kids growing up in America, we were told to eat
our vegetables at dinner and not leave them. Mothers said, 'think of
the starving children in India and finish the dinner.' And now I tell
my children: 'Finish your math homework. Think of the children in
India who would make you starve, if you don't.'"

Practically,Indonesians are now starving because of the success of the
Indians and Chineese.

Carlos

Kirim email ke