On Thu, Oct 27, 2005 at 11:10:04PM +0700, Budi Rahardjo wrote:
> > MM misalnya. katanya SPP mahal karena memang biaya pendidikan itu mahal,
> > lah ini kan praktis modal abab doang juga masih mahal.
> 
> Maksudnya "modal adab doang" itu bagaimana? ;-)

tidak butuh sarana-prasarana pendidikan yang mahal.
kecuali kuliah di hotel bintang 6 kali he..he.. jadi gak jelas, ini
pendidikan bisnis atau bisnis pendidikan.

> Saya bukannya alergi dengan pengukuran dan public
> accountability (meskipun saya tidak tahu maksudnya
> public accountability ini seperti apa).
> Justru sebaliknya. ;-)

public accountibility satu perguruan tinggi (bukan hanya PT), menurut
saya, segala hal yang berkaitan dengan pencapaian 'target'/kontribusi
sesuai dengan tujuan keberadaan perguruan tinggi yang bersangkutan
terhadap arah pembangunan nasional dan masyarakat.

tidak usah terlalu terjebak ke details, toh bukan kita yang berhak
memutuskan :-) minimal kalau ada kesempatan 'sounding', yang seperti
ini bisa dipikirkan bersama, melibatkan pemerintah dan masyarakat
(LSM?). kalau boleh saya sederhanakan dengan contoh: kalau arah
pembangunan nasional adalah UKM, maka, whatever fakultas/mata kuliah yang
mengajarkan bagaimana cara membuka kafe di planet mars harus ditutup.
perlu diingat ini tidak 'statis', akan selalu berubah (seperti kurikulum
lah).

intinya, mengukur apakah satu perguruan tinggi (masih) perlu ada atau
tidak. karena secara de facto, bargain perguruan tinggi ini *besar*
sekali. bayangkan kursus komputer wordstar misalnya, otomatis tidak akan
laku sekarang, dan kalau nekad bisa gulung tikar. sekarang kalau
perguruan tinggi mengajarkan wordstar, untuk mendapatkan gelar sarjana
(ini misalnya, misalnya, misalnya), akan ikutan gulung tikar? tidak
bukan? padahal demand ijasah masih tinggi dan itu menentukan posisi
seseorang di lapangan pekerjaan, politik dll. (belum lagi kalau itu
'diabuse', misalnya kuliah naik pangkat dlsb, bagaimana akreditasi
perguruan tinggi tempat dosen menuntut ilmu untuk memenuhi statuta,
dlsb).

untuk ini orang-orang yang cukup kritis dan rajin melakukan
're-questioning' seperti budi rahardjo, ibam, onno, made *) dan mungkin
orang-orang dengan kredibilitas yang jelas dari bidang lain sangat
dibutuhkan. ini kan bukan soal analisis metadata foto bugil (bule gila
hi..hi..) demi popularitas atau melacak keberadaan handphone seken yang
paling murah. kalau tidak ya sudah capek-capek, going nowhere lah...
gimana pak? :-)

mestinya tanggung jawab atas keberadaan PT itu besar dan harus
jelas, harus 'kental'. dan yang lebih penting, barangkali, perlu
diundang-undangkan.

> Ternyata untuk mengukur hal yang di atas, tidak mudah. :(
> Begitu ...

iya. setelah beberapa puluh tahun Pak ... 

saya termasuk orang yang masih yakin bahwa perubahan bangsa ini (masih)
bisa di-drive dari perguruan tinggi. seperti pak budi bilang. susah cari
orang yang bisa berpikir logis. that's it.

Salam,

P.Y. Adi Prasaja

*) bias sekali ya hi..hi..

Kirim email ke