On 10/11/05, enda nasution <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > On 11/10/05, boy avianto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > On 10/11/05, Pakcik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > "Web 2.0" itu mirip poetry, sesuatu yang udah kita tahu, tapi dibikin > > > kita bingung/pusing cari tau apa itu "Web 2.0" > > > > Berarti gak lebih seperti halnya jargon "AJAX" begitu? Hanya sekedar > > 'renaming schema' dan kemudian diarahkan utk generate more cash? > > Kalo saya sih ga sesinis itu, yg namanya paradigm shift kan artinya > memandang hal yang sama tapi dengan paradigma yang berbeda. > > Soal penamaan [pelabelan], dokumentasi dll suka dipandang remeh padahal > penting banget untuk mengkomunikasikan sebuah konsep atau suatu idea. Nah, ini biasanya perbedaan utama antara orang teknis dan non-teknis. Dari kacamata teknis mau diberi nama apa aja selama fungsinnya A ya berarti dia tetap A. Sementara dari kacamata non-teknis, sedikit perubahan label maka efeknya bisa jadi besar dan mungkin menimbulkan paradigma baru. > Bilang web 2.0 cuma hype atau pembungkusan kembali, saja aja dengan bilang > blog itu sama dengan home page geocities circa 96-an. > > Walau mungkin *iya* sama, tapi kan beda. Oh beda toh ya? j/k =). Iya, sebenarnya apa sih yang benar-benar baru di bawah mentari ini? Semuanya kan hanya recycle, renaming, paradigm shift. Dulu juga internet tujuannya kan bukan untuk yang kita sedang lakukan saat ini. Tapi time change dan konsep pun berubah. Life goes on ;). > Tahun 1996, ga ada Google Map, ga ada Flickr, ga ada Del.icio.us. Ga ada > cerita Amazon buka database-nya buat developer. Nah ini tadi maksudnya. Melihat pelopor-pelopor Web 2.0 ini sebenarnya 'online base' (ya iya lah, namanya juga web hehe) mungkin gak sih sebenarnya ide seperti ini muncul di lingkungan Indonesia? Ataukah harus membutuhkan lingkungan seperti lingkungannya oom Carlos? Kalau pak Budi bilang pasti bisa ;). Saya juga bilang bisa. Masalahnya untuk hal-hal seperti ini kan butuh saling mendukung. Nah masalahnya kadang orang kita gak bisa liat orang lain sukses hehehe, bawaannya sirik melulu =P. > Nah skrg dalam konteks Indonesia sayangnya Web 1.0 aja ga tuntas, media > yang nyediain RSS Feeds aja berapa? Bisa diitung jari. Tut. Kembali ke poin di atas kan? "Tidak bisa liat orang lain sukses". Menjaga beritanya aja seperti menjaga harta karun hehehe. Jadi masalah lingkungan lagi deh. Kenapa hal ini terjadi? Apakah memang mentalnya demikian ataukah mereka belum terbuka saja mata dan hatinya? > Jumlah online medianya aja bisa diitung jari hehehe. Internet mahal pak. As simple as that. > > Kemaren-kemaren kalo ga salah masih thread di milis ini juga ada [eh atau > disebuah blog ya?] ada yang ngeluh setiap instansi masing-masing bikin > database sendiri dan ga mau bagi-bagi. Yah, benar kan. Kembali lagi ke poin di atas. Maunya "masuk surga sendirian" hehehe. > Coba kita paksa Plasa.com atau Yellowpages.co.id buat buka databasenya atau > nyediain API biar kita bisa search nomer telepon Indonesia. :) Mari kita berdoa... kalau memaksa harus lewat institusi dan kalau lewat institusi ada 'uang pelicin'.. Aduh, kok ya saya jadi ikutan pesimis. hehehe -- <avianto /> - http://avianto.com/
