> > > Bilang web 2.0 cuma hype atau pembungkusan kembali, saja aja dengan bilang > > blog itu sama dengan home page geocities circa 96-an. > > > > Walau mungkin *iya* sama, tapi kan beda. > > Oh beda toh ya? j/k =). > Iya, sebenarnya apa sih yang benar-benar baru di bawah mentari ini? > Semuanya kan hanya recycle, renaming, paradigm shift. Dulu juga > internet tujuannya kan bukan untuk yang kita sedang lakukan saat ini. > Tapi time change dan konsep pun berubah. > > Life goes on ;).
beda dong...dulu Internet release 1.0 ,sekarang Internet release 2.0 dulu bandwidth tercepat T3,sekarang OC-192. Innovation is the key. > > Tahun 1996, ga ada Google Map, ga ada Flickr, ga ada Del.icio.us. Ga ada > > cerita Amazon buka database-nya buat developer. > > Nah ini tadi maksudnya. Melihat pelopor-pelopor Web 2.0 ini sebenarnya > 'online base' (ya iya lah, namanya juga web hehe) mungkin gak sih > sebenarnya ide seperti ini muncul di lingkungan Indonesia? Ataukah > harus membutuhkan lingkungan seperti lingkungannya oom Carlos? Dimana2 bisa dong,yang penting ada budaya sharing. > Kalau pak Budi bilang pasti bisa ;). Saya juga bilang bisa. Masalahnya > untuk hal-hal seperti ini kan butuh saling mendukung. Nah masalahnya > kadang orang kita gak bisa liat orang lain sukses hehehe, bawaannya > sirik melulu =P. Kalo ini masalah kultural. Di Amerika ini ada tiga minoritas,minoritas black,minoritas India dan minoritas Spanish/Mexico.Tapi kenapa yang sukses dan berhasil hanya minoritas India ? Ayo ada yang pernah mikirin ini tidak ? Konon,ini karena minoritas India/Asian saja yg bener2 mau kerja kerjas,motivasi tinggi dan punya budaya tolong menolong tinggi,kalau ada yang sukses,mereka ambil contoh untuk dijadikan pelajaran,gak sirik-sirikan.Nah kalau minoritas Black dan Spanish kebalikannya, kecenderungnya gak bisa lihat orang lain maju,makanya mexico negerinya walaupun bersebelahan dengan salah satu negeri paling makmur dan ada NAFTA sekalipun,gak maju2. Memang sayangnya,orang Indonesia sendiri kebanyakan masih kayak minoritas Spanish. Yuk optimis bersama2 kita rubah kultur yang buruk. Carlos
