On Tue, Nov 22, 2005 at 11:15:01PM -0000, Muhamad Carlos Patriawan wrote:
> Nah,disinilah salah satu pentingnya BHTV untuk menunjukkan harga diri
> engineer Indonesia kalau kita  "can do the job".Tapi tentu
> saja,profesionalisme juga harus ditingkatkan supaya kita lebih credible
> baik didalam dan diluar (meskupun secara teknis mampu).

Terus terang saya tidak bisa menarik ide BHTV ini, berhubung saya lebih
setuju ke arah pengembangan perusahaan-perusahaan kecil (accounting, web
development dll).

Pada akhirnya dampaknya sama (in the long run). Dengan mengerjakan yang
kecil-kecil gini kan 'trust' orang bisa naik juga, bahkan tidak sedikit
yang mendapat kesempatan mengerjakan sesuatu yang lebih besar dengna
mengerjakan yang kecil-kecil ini dulu.

Di sisi yang lain, masih di sini juga, ada bbrp rekan yang berjuang
mati-matian untuk mengenalkan opensource. seperti pak rus dkk (pak budi
masuk juga di sini lho melalui infolinux misalnya). Kebetulan di sini
pun, misalnya pembuatan distro lokal seperti blankon, saya juga kurang
setuju :-) But it DOES work! mau bilang apa :-) Note: usaha-usaha
menggali potensial demand seperti ini (opensource/linux cuman
kendaraan), jarang yang tertarik melakukan loh. Pak Rus dkk sudah
bercucuran keringat untuk ini (sorry, saya cuman kenal/tahu Pak Rus,
buat yang lain yang tidak saya sebut, respect saya sama sekali tidak
lebih kecil), untuk satu seminar paling dibayar cuman 500 perak
(he..he.. ini ngaco berat, saya tidak tahu berapa yang didapat, tapi
seandainya mereka bisa mendatangkan rejeki dari sini so be it, mereka
pantas untuk itu). Coba bayangkan kalau 'kue-nya' sudah besar, pasti
bejibun yang mau berebut, say bye-bye to Pak Rus dkk.

Jadi, semuanya itu soal pilihan, kalau setuju bantulah, kalau tidak
setuju kritiklah.  Tapi saya sangat tidak setuju kalau kritik terhadap
BHTV, misalnya, bergeser menjadi budi rahardjo bashing (Pak, anda tidak
perlu capek-capek menunjukkan who you are hanya untuk membuktikan bahwa
ide BHTV itu benar hi..hi..). Saya ndak bisa bayangkan kalau ide BHTV
itu dicetuskan oleh orang yang sama sekali tidak dikenal :-) (paimo,
paimin dll). Ide itu bisa datang dari siapa saja. Rule of thumb: kalau
kita mengumpulkan orang-orang yang berpengalaman saja, itu akan
menghasilkan gangster dan mafia, kalau kita berprinsip pada rasionalisme
dan obyektifitas, itu akan melahirkan kompetisi bebas dan
profesionalisme. dan untuk ini pun, saya tidak berniat menghakimi,
kembali ke soal pilihan. Kalau suka, ya pakai, kalau ndak yo wis.

Salam,

P.Y. Adi Prasaja

-- 
Ini signature saya. Pasang iklan anda di sini ... tarif menantang :-)

Kirim email ke