On 11/26/05, adi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: ... > tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa 'diterangkan' > dengan 100% komprehensif. ...
setuju. > sebenarnya maksudnya lebih ke pemanfaatan hasil-hasil > studi (buku) yang sudah ada, misalnya untuk BHTV atau > yang lain. jadi, sebaiknya karena > dianggap 'tidak komprehensif' terus ditinggal atau > dilewati. alasannya sederhana: murah. ini sudah dan sedang kita lakukan terus. hanya, komentar dari orang-orang adalah: ah, itu kan kata buku. he he he. saya setuju dengan mas adi bahwa pendekatan tersebut harus tetap dilakukan. hanya, saya ingin menambahkan bahwa pengalaman praktek di lapangan (rubbing against other people) itu penting untuk mengetahui hal-hal yang tidak / kurang terekam dalam dokumentasi. saya mau ambil contoh lagi. bagaimana menjelaskan ke dunia luar tentang kondisi per-internet-an di indonesia? bukan masalah teknisnya, akan tetapi masalah non-teknis. (karena toh kesuksesan sebuah bisnis/aktivitas tidak hanya bergantung kepada masalah teknis saja, toh?) bagaiman bisa menjelaskan "politik" internet indonesia. hi hi hi. you know what i mean ... (ha ha ha, saya nyontek cara ini saja.) kembali ke soal kultur di silicon valley sana, kultur hippies lah yang mendorong kesuksesannya. ini yang terdokumentasi di beberapa sumber yang saya gali (termasuk dari jerry garcia, dari band greatful dead itu. ha ha ha. yup, dia diwawancara juga.) salah satu referensi yang saya suka adalah "The Making of Silicon Valley: A One Hundred Year Renaissance" ada videonya juga. (ini dulu saya beli di toko bukunya stanford university.) (catatan: perhatikan ... 100 YEAR!!!) -- budi
