Made Wiryana wrote: > Jadi ndak heran khan kampus saya (Univ Gunadarma) lebih suka mengirim orang > ke LN untuk beberapa minggu, utk melihat-lihat (tentu saja sembari > jalan-jalan). Soalnya yang diperoleh bisa lebih banyak daripada ke kampus di > dalam negeri, dan urusan perizinannya jauh lebih simpel. > > Sekali jalan, pulangnya bisa lebih banyak yang diperoleh > > IMW
Punten Pak Made, saya tidak bermaksud offense sama sekali. Saya cuma mau cerita pengalaman saya saja dari membaca buku biografi PK Ojong: Hidup Sederhana Berpikir Mulia. Dalam salah satu bab, diceritakan kekecewaan PK Ojong. Beliau kecewa karena orang Indonesia mengambil alih toko buku peninggalan Belanda sebatas mengambil gedungnya saja. Tapi semangatnya tidak ikut dicontoh. PK Ojong kecewa karena orang Indonesia begitu semangat pergi ke LN hanya untuk tujuan menghadiri pameran buku berkelas internasional. Kalau tujuannya cuma ingin mengetahui sudah sampai sejauh mana perkembangan buku di dunia internasional, PK Ojong berpendapat cukup dengan minta dikirimkan katalog-nya saja. Tidak perlu sampai harus mengeluarkan uang banyak: tiket, akomodasi, dll. Lain cerita, kalau motivasi awalnya memang untuk berjalan-jalan dan berekreasi. Nah, dengan hidup di zaman teknologi informasi ini, tantangannya jadi tambah seru. Ada yang beropini dengan teori The World is Flat dan kemudian diimbangi dengan creative-class. (Maaf tidak bisa komentar banyak, belum baca bukunya euy). Menurut saya, asalkan keduanya tidak saling menjatuhkan tidak apa-apa. Biar waktu saja yang akan membuktikan. Have a great life!
