On 12/23/05, adi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > FUD? Seyogyanya isu seperti ini tidak dibackup dengan 'saya pernah', > 'katanya' atau 'ada yang bilang' dlsb.
He he he. Itu hanya untuk memperlemah, supaya gak dianggap sok tahu. Soalnya, saya sebetulnya diajak menjadi bagian dari tim tersebut, tapi karena sibuk ... saya menolak. (Saya diminta ikutan karena pernah terlibat menghubungkan antara teknologi dan urusan manusia/kesehatan, ie. biomedical. Thesis S2 saya tentang pasien yang bermasalah dengan otaknya dan suaranya :) he he he) > Untuk obat misalnya (clinical > trial fase 2), justru memang _harus_ murah (tidak boleh dibayar), > apalagi fase 3. Bahkan di luar sana saya ragu dengan kata 'voluntarily' > pada penelitian-penelitian semacam ini, ya .. maksudnya orang jadi > sukarela setelah di meja diletakkan setumpuk uang (entah itu mau dikasih > semua atau tidak hi..hi..). Bukan masalah dibayar atau tidak dibayarnya. Penelitian yang melibatkan manusia harus didukung dengan sound theory and methodology karena ... melibatkan manusia. Efek yang ditimbulkan kepada manusia akan fatal bukan pada sang voluntir itu sendiri, tapi kepada umat manusia. (Bagaimana kalau ternyata membuat virus yang tidak bisa atau belum bisa diobati? Bagaimana kalau ternyata anaknya menjadi cacat? Siapa yang harus bertanggungjawab? dan seterusnya.) Biarpun obyek penelitian bersedia (dibayar ataupun tidak), ada pihak pemantau yang memantau proses penelitian itu. Ceritanya dulu saya mencoba membuat start up company (3 engineers, 2 dokter) untuk otomatisasi laparoscopy surgery. Kami membuat alat yang melakukan tracking mata dokter dan menggerakan alat sesuai dengan arah yang diinginkan sang dokter (saat itu - tidak tahu sekarang - prosesnya dilakukan dengan instruksi sang dokter ke nurse, dokter lihat di monitor). Teknologi "dipinjam" dari dep of defence :) he he he Nah, ide kami tersebut direview oleh tim dokter (dari rumah sakit besar) dan wakil dari pemerintah (untuk funding dan legal). Salah satu ganjelan adalah ... kami harus hire advisor yaitu seorang profesor dalam penelitian kami. Mahal euy ... Belum lagi ada aturan ketenaga-kerjaan, bahwa alat kami tidak boleh membuat para nurse dipecat/tidak dibutuhkan. Welah... Ide ditutup! Start up berubah haluan menjadi program AI untuk mendeteksi penyakit abdominal :( [di kemudian hari, inipun gagal. hik hik hik] Jadi, tidak boleh kita sembarangan ngambil orang voluntir atau dibayar, atau orang gila sekalipun untuk penelitian. Masalah legal inilah yang menggajel juga di negara lain. > > Jadi ... sebetulnya Indonesia ini lahan bagi penelitian, > > ... sebagai kelinci, oops bukan, sebagai manusia percobaan. > > ini pasti FUD juga. Well, silahkan mau bilang FUD atau tidak, pada kenyataannya enak saja kalau mau membuat penelitian di Indonesia :) Emang ada yang peduli dengan penelitian kita gitu? ... > dulu pernah ada seminar di yogya (saya lupa pembawanya siapa, who cares > :) beliau bilang bahwa sebaiknya isu 'hukum' (agama, UU) ditinggalkan, > atau bersifat antisipatif, jangan belum-belum sudah dilarang dlsb. kalau > ndak, kita akan ketinggalan ratusan tahun dengan negara-negara lain. ... he he he ... Jangan beranggapan bahwa masalah agama vs science ini hanya menjadi masalah di negara ketinggalan seperti kita ini lho. Saat ini topik yang rame di Amerika adalah masalah "Intelligent Design" (atau ID). Apakah Intelligent Design ini perlu/boleh diajarkan di sekolah? Pengadilan di sono sedang rame membahas masalah ini. Intelligent Design itu lawannya dari evolusinya Darwin :) Jadi ada proses penciptaan dari Tuhan. Nah, ini dianggap tidak "scientific". Agama dibawa-bawa ke kelas. Itulah mulai ributnya di Amerika. Jadi, jangan salah ... di Amerika itu orang juga lebih ekstrim untuk urusan agama. Soal stem cell, jangan kaget kalau misalnya ada peneliti yang tiba2 dibunuh oleh orang yang tidak setuju dengan penelitian tersebut (karena masalah keagamaan). Dokter yang melakukan aborsi saja pernah dibunuh oleh penganut agama yang strict. Kalau di Indonesia? Untungnya hanya ngomong doang ... ha ha ha. > kalau mendengar orang ngoceh seperti itu, seperti juga di milis ini > (soal rekayasa genetika dlsb), pikiran saya selalu terbawa ke alam lain > (katakanlah saya orang aneh. kalau anda berbeda sendiri di kerumuman > 400-an orang, bukankah otomatis anda adalah orang aneh? :-) Kalau saya ... lantas berpikiran azas manfaat dan mudhlarat. Jadi, soal stem cell research ini saya bimbang. Di satu sisi saya melihat sangat banyak manfaatnya bagi umat manusia (terutama yang sakit). Di sisi lain, saya tidak paham atas aspek agama dan moral. > diskusi-diskusi seperti ini (rekayasa genetika, hukum, agama), kalau > dalam bahasa latin: ora gelem ndelok githoke dhewe, atau kacang lupa > kulitnya. pikirin dulu itu kasus diare, ispa (YA .. ISPA!!!), yang masih > jadi momok dan kita kagak gableg ngurusin itu. urusin saja endemik > hepatitis, malaria, TB dll. sekarang malah kasus busung lapar (dan > kebanyakan orang intelek masih ndak sadar juga kalau ini karena harga BBM > dinaikkan). harus bagi-bagi tugas. kalau semua mikirin kaki lima di pinggir jalan ... "gimana mau maju?" (he he he, sarcasm intended.) harus ada yang mikirin solusi short term. tapi harus ada juga yang mikirin long term. terus ... keduanya jangan berantem. (jelas pendekatan akan beda.) kita harus sama-sama sepakat bahwa keduanya penting dan saling membantu (leveraging, memberdayakan). mungkin pengalaman dari solusi jangka pendek dapat digunakan sebagai ide untuk solusi jangka panjang. > sukurlah kita hidup di negara yang dihuni oleh orang-orang > yang benar-benar sakti mandragade eh .. mandraguna. bukankah seringkali > kita mengkritik kebijakan pemerintah yang kurang berpihak kepada rakyat > kecil, dan kita pikir itu karena mereka sudah hidup enak, gaji gedhe, > rapat di ruang AC dll, ndak merasakan susahnya orang kecil, nah .. saya kemarin sempat tersentut melihat wawancara antara peter gontha dengan obin (seorang designer kain yagn sukses). ibu obin ini sangat bijaksana berwawasan dan concern dengan indonesia. dia yang memberdayakan (mempolulerkan) tenun ikat dan segudang desain lainnya. tapi yang membuat saya salut bukan pada karyanya, akan tetapi pada filosofinya; dia ingin mengangkat karya indonesia (untuk orang indonesia sendiri), membuka lapangan pekerjaan, ... mengerem spending ke LN dan mungkin suatu saat menghasilkan devisa. kind of like BHTV, but in her own world. saya salut kepada ibu ini. oh ya, meskipun tidak didesain dari awal, tapi target market dari produk ini bukan orang bawah. orang kaya. apakah ibu ini tidak peka dengan kondisi indonesia? wah, terbalik. saya salut karena ibu ini ingin agar orang2 indonesia lebih mencintai produk indonesia. mudah2an dengan produk2 yang bagus ini orang (kaya) tidak terlalu bernafsu beli barang produk LN. dalam buku saya, ibu obin ini nasionalis sejati! akan tidak pas kalau ibu ini kemudian banting setir dan membuat baju kodian untuk orang yang tidak mampu. mungkin dia tidak bisa memberdayakan ribuan orang seperti yang dia lakukan sekarang. my point is: don't judge the book by its cover ibu ini tentunya sekarang bukan orang miskin, sudah orang besar. tapi dia tidak berpolitik, dia tidak mau yang neko-neko. cukup berkarya! banyak yang bisa dilakukan di indonesia katanya! and she is 100% right! kadang saya sedih juga melihat orang-orang yang kerjanya protes akan tetapi tidak menghasilkan karya. but what can i do? > sekarang kita sendiri yang melakukan seperti itu. kayaknya ini bukan > pertama kali saya ngomong kalau indonesia, masih ndak becus ngurusin > panu, tapi masih saja ada diskusi-diskusi ala para dewa di khayangan > seperti ini. lah wong jadi exportir spesimen flu manuk cipret kelas > kakap saja kok masih mau-maunya ngomong stem cell :-)) eits ol ebot mane > mane mane. duitnya dipakai saja dulu buat beli obat panu. mungkin ceritanya akan lain kalau ada anggota keluarga pak adi atau orang yang pak adi kenal yang sakit berat dan harapannya hanya ada pada hasil riset stem cells. :( bukan mendoakan pak adi lho. on the contrary. mudah-mudahan tidak ada anggota keluarga atau orang yang kita kenal yang dalam posisi itu. saya sedih melihat salah seorang tokoh favorit saya (michael j fox, pentinju muh. ali) yang menderita sakit parkinson dan belum ada obatnya. what can i do to help them? [ada cerita lain. ada seorang profesor saya yang sudah tua yang berteori bahwa a little nicotine can slow parkinson down. ha ha ha.] maaf mungkin pola berpikir kita berbeda. saya warga dunia ... bukan hanya warga indonesia saja. sayang kalau kita tidak peka kepada masalah orang banyak, masalah umat manusia. hanya karan kita sakit panu, bukan berarti kita tidak boleh peduli dengan kawan yang sakit parkinson kan? saya jadi ingat pengalaman saya di luar negeri. ketika itu saya tinggal di asrama yang banyak mahasiswa asingnya. suatu saat ada heater di kamar seorang mahasiswa lokal yang pecah dan banjir air kemana-mana. sebagian besar mahasiswa tidak peduli. that is not my problem. saya dan kawan-kawan ikut turun tangan membantu mengarahkan air, ngepel, dsb. tentu saja saya bisa tidak peduli. i've got my own problems. tapi, kita kan sama-sama warga dunia dan kebetulan sama-sama warga gedung ini, masalah anda ... menjadi masalah saya juga. demikian pula suatu saat, kota kami kena banjir badang. banjir menghancurkan kota-kota di selatan kota kami. serius! banjir setinggi atap rumah. air naiknya perlahan-lahan. nah, kemudian penduduk kota kami mengorganisir voluntir untuk melindungi kota kami dan kota-kota lain yang belum diterjang dengan mengelililing rumah dengan sandbag. saya ikut voluntir. dari community center naik bus ke kota di selatan dan di sana angkat2 sandbag. dalam satu bus kita tidak saling mengenal sebelumnya (tapi saling guyon), dan entah membantu siapa pun kami tidak tahu. tentu saja saya dapat duduk di kampus dan memikirkan masalah thesis yang gak selesai-selesai dan akan kena sanksi dari universitas (he he he, hampir kena DO). saya yakin ada (banyak?) orang yang berpendapat bahwa tugas saya adalah menyelesaikan sekolah. my local and small problems. tapi, saya berpendapat lain. ini masalah umat/masyarakat yang lebih besar dari masalah individual. tentu saja kita bisa berbeda pendapat. but at least, i have done something. (and i am proud of it.) maksud tulisan dan cerita saya di atas bukan untuk mengobral cerita atau kejagoan. (katanya gak boleh riya ya?) bukan. bukan itu. saya ingin menjelaskan cara pandang saya yang mungkin berbeda dengan pak adi dan rekan-rekan lainnya. dengan memahami latar belakang / cara pandang tersebut mudah-mudahan rekan-rekan lebih bisa memahami mengapa saya mengambil langkah ini/itu. > pasti ada yang bilang: kalau gitu, kapan majunya indonesia (betul? > he..he.. kan sudah saya bilang, saya ini orang aneh). lebih ngaco lagi > kalau lantas ada yang bertanya ke saya: jadi anda tidak setuju dengan > rekayasa genetika :-)) http://google.com/search?q=logical+fallacy. saya yakin pak adi juga tidak anti rekayasa genetika. :) saya rasa kebanyakan pembaca di sini punya sense logika yang baik, tidak saling mencurigai / menjatuhkan, dan sama-sama mencari solusi yang terbaik bagi umat manusia ... atau lokal setempat, if you prefer. -- budi
