wah jadi bicarakan quality of life nich :)
ahutapea wrote: > Muhamad Carlos Patriawan wrote: > > > > > "ketemu istri+anak kl cuti aja" ? ah gak bener banget ini,malah justru > > kebalikannya dimana kita lebih sering spend time dengan keluarga. > > > > betul 'om dan saya setuju sama om dengan "Quality of life" > > Tapi masalahnya seringan kan keluarga ngak mau dibawa jadi harus jadi > "single fighter". Gak "mau" dibawa ? ah yang bener.... :)) gak ada tuh yang seperti itu. Kalaupun ada yang gak "mau" dibawa,itu individual case saja :)) > Terus lagi di amerika ngak ada yg namanya nasi, > adanya cuman "rice" ;) Nah ini dia. Keyword pembedanya disini adalah "kota" dan bukan "negara". (disini peran buku "creative class" yang thesisnya untuk mencari SDM berbakat adalah melalui daya tarik kotanya, bukan negaranya langsung). Tiap kota bedakan,Silicon Valley beda banget dengan Denver apalagi sama Manchester.SV itu mungkin sama jika di-ibaratkan antara "Bali" dan "Indonesia",jadi Bali ada di Indonesia tapi kehidupan sehari2 di Bali beda dengan kehidupan diluar Bali. *sambil melirik Baskara dan Pak Made* Nah SV dan AS pun kurang lebih sama.SV sendiri de-facto lebih merupakan "desa internasional",populasi orang AS generasi ketiga dan seterusnya apalagi di persh2 hitek khususnya Engineering kurang dari 20 persen.Mau cari restoran Arab,India,Thai,Halal gampang banget. Nyari orang ngomong Hindi,Chineese(Hokkien?) atau Vietnam di kantor atau jalanan masih gampang. Mau beribadah ? Mesjid dan komunitas di SV salah satu yg terbesar dan terbaik di AS (juga banyak tersedia rumah ibadah untuk penganut non-mainstream),Untuk Gereja ada Gereja Indonesia juga, temple juga banyak ..ada beberapa di milpitas dan sunnyvale. Nah keluar sedikit saja dari Bay Area,seperti ke Petaluma baru kerasa "hawa" amerika-nya lagi. Kesimpulannya: buat orang hitek berbakat, jangan belajar-bekerja di AS tapi belajar-bekerja-lah di Valley :)) > Intinya, merantau bukan untuk semua orang dan ngak semua berani ngambil > resiko dengan ngerantau. Dan orang China dan India memang jago banget > untuk ilmu ngerantau dan survival skill nya :) Pertama itu pameo,tapi gua pikir pameo itu muncul "deep inside our old man" karena "our old man" gak dibiasakan berkompetisi secara global, apalagi orang-orang yang mau mikir jauh kedepan untuk berkompetisi secara global seperti Pak Budi Rahardjo,kalau di India org yg mikir dan bertindak seperti itu kan sudah ada dimana2. Kedua, "orang" Indonesia mana dulu :-) sebagian dari kita memang dibiasakan merantau dari bayi. Ketiga, belum ngerasain sich enaknya jadi expat di AS dan jadi mandornya bule,dikiranya orang-orang lebih "tough" tinggal di AS dibanding di Jakarta padahal sebenarnya tinggal di Jakarta **relatively** jauh lebih "tough" (apalagi untuk yg gak punya kontak atau support dari ortu). Carlos
