adi wrote: > On Sun, Jan 01, 2006 at 03:21:54AM -0000, Muhamad Carlos Patriawan wrote: > > Kesimpulannya ? mungkin paten ini bisa dilawan jika kita punya > > **kompetensi teknis** yang setara dengan kemampuan persh2 hitek > > pembuatnya (yang China sudah punya). > > sebenarnya, pencetus penghapusan paten dan lisensi (GPL/Opensource) itu > bukan dari Asia, bukan dari China, bukan dari India, bukan dari Taiwan, > bukan dari Indonesia, bukan dari Malaysia, bukan dari Singapura, bukan > dari Hongkong dst..dst.. > > kompetensi teknis, keterampilan kelas wahid itu mau untuk paten atau > petan (cari kutu rambut) itu selalu baik. tetapi, yang lebih penting > dari itu semua adalah: dukungan. > > dukungan menghapuskan paten, dukungan menggunakan sesuatu yang > patent-free, dukungan menggunakan sesuatu yang berlisensi GPL dll.
Beda pendapat ala demokrasy aah :) Ya dukungan saja gak bisa pak,ada ratusan masalah intangible di belakangnya dan Ada 1001 intangible inter-dependensi dari sebuah society/negara/komunitas ke society/negara/komunitas lainnya dan ini sebenarnya masalah "Big Guy" versus "Big Guy" (apalagi kalau pencetusnya hanya beberapa orang atau beberapa komunitas saja). Masalahnya: Dari 1001 'intangible interdependensi' itu --ibaratkan pengukur beras-- dia lebih condrong ke berat yang mana,apakah condrong ke negara/tempat yang sudah 'settled' sebelumnya atau ke negara/tempat Baru. Di China dan India,'intangible interdepensi' tersebut sudah lebih berat ke China dan Indianya sendiri,dalam dunia nyatanya: pemerintah dan perusahaan Barat yang mengemis-ngemis agar bisa invest dan tarok duit disana (karena 2 negara ini punya kemampuan yg negara barat gak punya--atau gak siap--). With All Due Respect The Greatest Sir Adi :-) Menyalahkan tidak ada dukungan boleh dibilang 'ngeles' .. hehehe ini cuman satu faktor kecil saja. ( maaf dulu deh ,'ngeles' ini bukan saya mau membalas tapi bener2 karena ini permainan inter-dependensi di belakang layar yang gak semua orang mampu melihatnya ). Carlos
