On Thu, Jan 05, 2006 at 04:59:01PM +0200, Mohammad DAMT wrote:
> "Kamu tertariknya apa?"
> "nggak tahu pak"
> "Kalau tentang X bagaimana?"
> "ngga ngerti pak"
> "Kalau Y?"
> "sama pak, ga ngerti"
> 
> suruh pulang saja sambil kasih formulir pendaftaran jurusan lain.

boleh percaya boleh tidak. masalah ini sudah ada sejak +/- 1989, sejak
ekonomi mulai terpuruk .. sejak barrier-to-entry masuk ke perguruan
tinggi mulai ditentukan oleh duit. dulu, juga ada lho pertanyaan/kasus
seperti punya Pak RMS, tetapi setelah bbrp waktu barangkali orang jadi
terbiasa. baru-baru ini, cuman anak babeh dan cukong saja yang bisa
masuk, bukan sulap bukan sihir, ada lagi yang mengeluh mengenai masalah
ini (worst ...). nanti bbrp waktu lagi, orang juga akan terbiasa lagi.
yang jelas, pada akhirnya (setelah ngomong muter-muter) dari dulu
masalah yang dituduhkan sama:
- mahasiswa kurang kritis
- mahasiswa salah pilih
- mahasiswa kurang motivasi
- mahasiswa malas
- mahasiswa maunya minta disuapin
- mahasiswa yang begini-begitu pokoknya bukan salah saya

bagaimana kalau perguruan tinggi melakukan test-case, pakai sistem
gugur?

- terima bbrp orang yang berminat (gratis)
- pakai sistem gugur, kurikulum ketat
- lulus langsung kerja

dibayangkan saja juga boleh, ndak usah dikerjakan beneran :-)

kriteria memasukkan itu yang menentukan, kalau botol kita isi air, ya di
dalamnya air, kalau diisi bensin ya bensin, kalau diisi air dan bensin,
bukan bensin campur.

ada contoh yang (duh .. mudah-mudahan bisa dipahami karena 'dunia' kita
lain :-), misal penatalaksanaan penyakit TB. ada rule-of-thumb:
penanganan setengah-setengah: make-it-worst! don't do it! resistensi
mikobakteria thd antibiotik, mikobakteria ini kecepatan metabolismenya
sangat rendah repot kalau resisten, belum lagi masalah alergi penderita
thd antibiotika tertentu. (analogikan dengan sikap skeptis dan pesimis
masyarakat, calon peserta didik, soal alergi, analogikan dengan orang
yang bisa berantem hanya karena soal beda cara), nah, apa sih sebenarnya
masalahnya?  sebenarnya masalahnya adalah, titik dua, penyakit TB itu
penyakit hiegene-sanitasi yang melekat erat dengan tingkat ekonomi
(ingat: barrier-to-entry duit). jadi, gampangnya kasih perumahan sehat
gratis di wilayah-wilayah endemik TB untuk jangka panjang, dan gunakan
DOTS (google...google, analogikan DOTS dengan bagi-bagi permen di kelas)
untuk jangka pendek.

perguruan tinggi bersubsidi, sudah tahu lah sejak jaman dahulu kala
kalau biaya pendidikan itu tinggi _DAN_ subsidi bisa ditarik. tetapi
setelah ditarik, ya yang mengherankan, tidak ada yang protes, baru sadar
ternyata upaya antisipasi belum ada setelah puluhan tahun, bahkan ada
yang baru tahu: oh iya ya .. memang mahal, ya udah naikkan SPP :-)

Salam,

P.Y. Adi Prasaja

Kirim email ke