On Mon, Jan 09, 2006 at 08:36:45AM +0700, Budi Rahardjo wrote:
> alur berpikir saya seperti ini:
> mahasiswa (nantinya) *harus lebih baik/pinter* dari dosennya.
> jadi biarin saja dosennya bodoh/malas, tapi mahasiswanya harus lebih
> bagus lagi supaya secara keseluruhan (bangsa/negara) kita maju.

saya pernah menunda jadwal kuliah/praktikum gara-gara saya harus co-ass.
padahal, waktu untuk itu pun tiap hari saya cuman dikasih tahu: seperti
biasa, tunggu saja dari jam 8 sampai jam 2 (siang), sambil ngeloyor
pergi. akhirnya saya tidak bisa menunda lagi jadwal kuliah/praktikum,
sehingga saya datang co-ass telat.

D: kenapa telat?
P: saya harus kerja
D: kerja apa?
P: cuci piring di restoran
D: tapi saya ndak mau tahu, anda kesini untuk kuliah bukan kerja
P: ya saya tahu. saya pikir dari pada cuman bengong dari jam 8 sampai
   jam dua, lebih baik saya tinggal kerja dulu biar ndak dipecat
D: lho, anda kan sudah sarjana! sudah pinter dan sudah bisa belajar
   sendiri
P: setahu saya, sekolah itu ada kurikulumnya, lagian kalau saya sudah
   pinter, kenapa tidak langsung saja saya jadi dokter sekalian, jadi tidak
   usah bengong dari jam 8 sampai jam 2
D: anda mau protes? silakan protes ke dekan, bahkan ke rektor pun saya
   tidak takut
P: perasaan saya tidak bicara sama dekan atau rektor :-)
D: pokoknya saya tidak mau tanda tangan absensi anda!
   (berarti tidak bisa ikut ujian)
P: ya sudah. terima kasih.

it doesn't work Sir :-) cuplikan di atas bukan bertujuan untuk
mempertajam dosen vs mahasiswa, tapi yang jelas sistem pendidikan yang
diterapkan tidak akuntabel blas. jangan harap menghasilkan hasil yang
optimal (memenuhi target/sasaran). di sisi yang lain, kalau si 'P'
bekerja keras sendiri sehingga berhasil mengganti mata yang buta karena
katarak dengan telor mata sapi, meskipun kelihatannya masalah 'selesai',
tetapi sebenarnya tidak. itu hanya menyelesaikan masalah lain.

> jadi dosen gak boleh merasa lebih jago dari mahasiswanya.

mahasiswa juga ada yang belagu :-)) (polemologi 'perang' hi..hi..)
> turunin SPP sih saya sepakat, tapi saya masih belum yakin kalau
> dia diturunin maka "orang yang gemar membaca" akan lebih banyak
> masuk ke PT. saya belum bisa memahami alurnya pak.

menurunkan SPP memang bukan untuk meningkatkan gemar membaca :-)

> PT x, kapasitas 1000 orang
> diturunkan SPP, kapasitas *tetap* 1000 orang.
> (bahkan cenderung fasilitas berkurang)
> permasalahan: bagaimana memilih yang 1000 orang itu?
> - cari yang pinter?
> - cari yang punya uang lebih banyak?
> - cari yang gemar {membaca,menulis}?
> - cari yang punya EQ/SQ/*Q lebih baik?
> - cari yang hobby organisasi?
> - cari yang jago ngoprek?
> - cari yang jago olahraga?
> - cari yang punya hobby meneliti?
> - cari yang punya bakat xyz?
> terus ... hubungannya dengan SPP dimana ya?

meningkatkan kemungkinan orang untuk terpapar ke jenjang pendidikan yang
lebih baik. berapa banyak orang pintar dan kaya dibanding orang pintar
saja?

Perbedaan kita sebenarnya ada pada cara pandang: Pak Budi menganggap
individu sebagai asset, sedangkan saya menganggap sistem pendidikan yang
baik sebagai asset. Barangkali kalau soal pendidikan ini kita kurang
bisa melihat dampaknya langsung (sehingga sementara orang ada yang bisa
cuman 'buying time'). Tapi coba kita analogikan dengan yang lebih jelas
dampaknya, yaitu sistem pelayanan kesehatan. Sekarang ini semakin
sedikit orang yang bisa mendapatkan akses ke unit pelayanan kesehatan
yang memadai, semakin sedikit orang yang mampu membeli obat. kalau saya,
ya sistemnya diperbaiki, supaya akses ke pelayanan kesehatan menjadi
meningkat, kan gitu ta'iye. tetapi kalau Pak Budi menganjurkan orang
berlatih tai-chi atau menjadi wong fei hung supaya orang bisa
menyembuhkan diri mereka sendiri :-)

Salam,

P.Y. Adi Prasaja

Kirim email ke